Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi mengungkapkan, keÂnaikan harga ayam disebabkan tingginya biaya pokok produksi di tingkat peternak.
"Kebutuhan pakan untuk ayam naik dari 1,65 kg paÂkan untuk menghasilkan 1 kg daging ayam menjadi 1,75 kg pakan untuk menghasilkan 1 kg daging. Selain itu juga ayam cenderung mengalami perlambatan pertumbuhan. Jika biasanya umur 24 hari beratnya sudah mencapai 1,2-1,4 kg, saat ini beratnya hanya 1 kg," ucap Sugeng.
Sugeng menyadari tingginya harga ayam sudah menimbulÂkan kegaduhan. Misalnya, di Bandung, Jawa Barat, bereÂdar surat pemberitahuan renÂcana aksi mogok berjualan dan produksi yang akan dilakukan oleh para penjual daging ayam di pasar se-Bandung Raya, terÂmasuk Kota Cimahi.
Menurutnya, surat rencana aksi mogok diedarkan Koperasi Persatuan Pasar dan Warung TraÂdisional (Pesat) Bakti Bangsa. Disebutkan bandar dan pedaÂgang ayam akan melakukan mogok mulai hari Jumat 19 Januari 2018 pukul 05.00 hingga hari Minggu 21 Januari 2018 pukul 18.00.
Berbeda dengan ayam, harga telur justru terus menukik tajam.
Sekjen Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Leopold Halim mengaÂtakan, sampai Selasa (17/1) telur ayam yang sempat menyentuh harga Rp 26 ribu per kilogram saat ini terjun bebas ke angka Rp 20 ribu.
"Kalau di peternak kisaran Rp 19 ribu sampai Rp 19.500. memang di beberapa pedagang masih ada yang jual Rp 25 ribu. Tapi sebagian besar sudah turun," kata Leo kepada
Rakyat Merdeka. Dia memastikan anjloknya harga telur ini tidak dipengaruhi oleh kenaikan harga daging ayam. Menurutnya, harga telur anjlok karena permintaan mulai turun seiring berakhirnya musim libur sekolah anak-anak.
"Saat libur konsumsi telur naik, harga mengikuti. Sekarang konsumsi turun dan harga ikut turun. Naiknya permintaan telur juga dipengaruhi kosongnya ikan karena cuaca buruk. SekaÂrang, cuaca mulai tenang dan paÂsokan ikan banyak lagi sehingga pilihan masyarakat jadi makin banyak," tegasnya. ***
BERITA TERKAIT: