Isu Dwina bakal dipecat sebeÂlumnya sudah ramai di media sejak pertengahan Juli lalu. Gara-garanya adalah riset dari Bahana Sekuritas, anak usaha Bahana Group, yang menyingÂgung perihal reshuffle kabinet yang melibatkan nama Menteri BUMN Rini Soemarno.
Menanggapi hal tersebut, Corporate Secretary BPUI Fajar Wibhiyadi menilai pergantian direksi di perusahaan pelat merah merupakan hal wajar dan menjadi kewenangan pemegang saham.
"Pergantian direksi biasa terÂjadi di perusahaan baik swasta maupun BUMN, dan keputusan ini adalah ranah pemegang saham dalam hal ini di bawah kewenanÂgan Menteri BUMN. Tentunya kami sangat menghormati apapÂun keputusan pemegang saham," kata Fajar di Jakarta.
Sebagai pengganti Dwi, DeÂwan Komisaris BPUI menuÂgaskan, Eko Yuliantoro sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama, sebelum mengangkat Direktur Utama definitif. Saat ini Eko menjabat sebagai Direktur Operasi BPUI.
Eko Yuliantoro bukanlah orang baru di Bahana Grup. Eko mengawali karier di BPUI sebagai assisten Vice President-Merchant Banking Division sejak 1996. Sejak 2009 sampai dengan 2013 menjabat sebagai president director di Bahana Securities, sebelum akhirnya menjabat sebagai Direktur opÂerasional BPUI sejak 2013.
Fajar menyebut, saat ini Dwina ditunjuk Menteri BUMN Rini SoeÂmarno, untuk menjadi staf khususÂnya di Kementerian BUMN. "Sepanjang pengetahuan saya menjadi staf khususnya Ibu Rini Soemarno," ujarnya.
Dwina Septiani Wijaya telah memimpin Bahana grup sejak 2013 lalu. Dwina telah mengabdi di grup Bahana sejak 1994, menÂgawali karier sebagai Portfolio Manager di PT Bahana TCW Investment Management, sebagai salah satu anak usaha BPUI.
Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Imam APutro beberapa waktu lalu membenarkan soal kabar Direktur Utama BPUI Dwina Septiani Wijaya akan meningÂgalkan jabatannya. Namun, alasan lengsernya Dwina akibat masa jabatannya yang akan segera habis.
"Kalau Bu Dwina akan diganti terkait masa jabatan. Jadi jangan dikait-kaitkan dengan hal lain," ujar Imam.
Sebelumnya, beredar kabar kalau Dwina dicopot gara-gaÂranya adalah riset dari Bahana Sekuritas, anak usaha Bahana Group, yang menyinggung periÂhal reshuffle kabinet.
Dalam riset itu disebutkan, Menteri BUMN Rini Soemarno kemungkinan terkena reshuffle dalam perombakan kabinet jilid III oleh Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Rini diprediksi akan menggantikan posisi Teten Masduki sebagai Kepala Staf Kepresidenan. Bahana juga memperkirakan pasar akan berÂjalan netral cenderung positif meski tak terlalu signifikan.
Pengamat BUMN Dari RuÂmah Amanah Rakyat Ferdinand Hutahaean menyayangkan jika memang pencopotan direksi PT BPUI terkait hasil survei reshuffle kabinet. Karena, hal tersebut menunjukan praktek penerapan kekuasaan yang arogan.
"Artinya, penguasa ketika tidak suka dengan jajarannya, bisa langsung dicopot. Ini sangat bahaya," kata Ferdinand kepada
Rakyat Merdeka.
Menurutnya, Menteri BUMN juga tidak semestinya reaktif atas kritik tersebut dengan mencopot tiba Dirut BPUI. Cara-cara sepÂerti ini akan berdampak buruk terhadap kenyamanan pejabat BUMN dalam bekerja.
"Bisa saja, karena takut di coÂpot, para direksi BUMN bekerja tanpa kreatifitas karena takut tidak sejalan dengan menterÂinya. Meski begitu, seharusnya direksi PT BPUI tetap menjaga etika dalam menjalankan usahÂanya dan menjaga norma dalam menyampaikan kritik. Kalau sifatnya internal seharusnya disÂampaikan tertutup atau langsung kepada yang bersangkutan," tegasnya. ***
BERITA TERKAIT: