Biasanya mereka yang sudah merantau akan mudik ke kampung halaman pada hari Lebaran. Ketika pulang kampung sudah sewajarnya membawa buah tangan serta membagikan THR kepada sanak saudara di kampung halaman. Bukankah semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit?
Ditambah lagi kebanyakan orang Indonesia memiliki beban moral ketika pulang ke kampung halaman. Jika sudah merantau maka Anda secara tidak langsung dituntut untuk menunjukkan kemapanan. Jika tidak terlihat mapan, bisa-bisa menjadi bahan perbincangan antara keluarga besar bahkan hingga tetangga. Akibatnya banyak orang yang tanpa ragu-ragu mengambil utang sana-sini demi membeli barang-barang yang belum mampu ia beli. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pengakuan dari sanak saudara maupun kerabat terdekat di kampung halaman.
Di sinilah banyak orang yang memandang fenomena Lebaran secara keliru. Pertimbangan ‘nama baik’ menjadi prioritas utama, padahal kenyataannya keuangan tidak mendukung. Akhirnya solusi yang dipilih adalah utang. Utang tersebut digunakan untuk berbagai keinginan. Ya, keinginan, bukan kebutuhan. Mulai dari mobil baru untuk mudik ke kampung halaman, membeli pakaian baru untuk seluruh sanak saudara, membagi-bagikan uang yang mana itu semua di luar kemampuan yang sebenarnya.
Bisa saja pada hari Lebaran Anda merasa puas dan berbangga hati dengan pengakuan dari sanak saudara dan tetangga di kampung halaman. Tetapi begitu kembali ke kota dan kehidupan nyata, Anda baru menyadari beban hutang yang menumpuk tersebut. Seharusnya Lebaran adalah momen untuk merayakan kemenangan setelah berhasil mengalahkan kepuasan duniawi. Bukan sebaliknya menumpuk malapetaka karena utang.
Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Jika sudah terlanjur menumpuk utang untuk berbagai keinginan di hari Lebaran kemarin, mari kita bedah keuangan Anda saat ini. Dengan begitu diharapkan Anda dapat memperbaiki cashflow bulanan agar kembali seperti semula.
Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda gunakan:
#1 Susun Laporan Keuangan Saat Ini
Mulailah dengan mengetahui posisi keuangan Anda saat ini. Anda dapat menggunakan fitur financial health check up di aplikasi Finansialku untuk mengetahui kondisi keuangan Anda sekarang. Setelah itu, Anda juga perlu membuat laporan arus kas atau cashflowsaat ini. Pastikan Anda mengetahui berapa besar pendapatan, pengeluaran serta hutang-hutang yang menumpuk.
Banyak orang yang sering menutup-nutupi keadaan keuangannya bahkan ketika ia menuliskan laporan keuangan sendiri. Misalnya saja Anda memiliki hutang sebesar Rp50 juta. Besar memang, karena itu ketika menuliskan data keuangan Anda tidak menuliskan jumlah yang sebenarnya. Dengan bermodalkan pembenaran seperti ini: “Ah, utang A bisa dilunasi dengan dana B, jadi tidak perlu dituliskanâ€
Padahal tahukah Anda, tidak ada gunanya berusaha menghibur diri dengan membohongi laporan keuangan Anda. Aksi ‘menghibur diri’ ini tidak akan menyelesaikan utang Anda. Justru sebaliknya Anda bisa jadi merasa santai untuk melunasinya karena utang terlihat menjadi kecil. Berusahalah untuk jujur pada diri Anda sendiri. Penting untuk menerima kenyataan bahwa Anda harus membayar utang dalam jumlah yang sebenarnya. Dengan begitu Anda bisa membuat perhitungan yang akurat untuk menyelesaikan seluruh utang sesuai waktu yang sudah diperkirakan.
Selain Anda juga harus membuat laporan keuangan ini saat ini juga, bukan nanti atau besok. Jangan menunda nanti dan nanti untuk membuatnya. Jika ditunda terus, bisa-bisa Anda semakin menumpuk bunga dari utang-utang yang belum dilunasi tersebut. Ingat, menghindar tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi jika sudah terkait dengan hutang.
#2 Analisa KeuanganSetelah mengetahui kondisi keuangan saat ini dari financial health check up dan laporan arus kas, Anda bisa mulai menganalisa keuangan. Setiap hutang harus dilunasi, bukan dihindari. Terkadang ada orang-orang yang merasa hutangnya tidak terbayarkan, padahal sebenarnya ada aset yang bisa dimanfaatkan untuk menutupi utang tersebut.
Mulailah dengan menganalisis seluruh utang. Utang mana yang sebaiknya diselesaikan lebih dahulu. Anda bisa menganut dua cara pelunasan hutang yaitu melunasi utang yang bunganya paling besar terlebih dahulu atau hutang dengan nominal terkecil lebih dahulu. Pilihan mana yang terbaik? Ini harus disesuaikan dengan kemampuan Anda saat ini.
Setelah mengetahui utang mana yang akan diselesaikan lebih dahulu, Anda bisa mulai menganalisis seluruh aset dan pendapatan yang dimiliki. Adakah dana yang bisa digunakan untuk melunasi utang tersebut? Di sinilah Anda harus mengoptimalkan seluruh aset yang dimiliki.
#3 Mengoptimalkan Aset yang Dimiliki untuk Melunasi UtangJika tidak memiliki uang tunai, Anda bisa memanfaatkan aset-aset yang dimiliki. Cobalah untuk merelakan barang-barang yang tidak benar-benar dibutuhkan. Tidak ada salahnya memenuhi keinginan, tetapi jika keinginan tersebut mengganggu kebutuhan dasar, mau tidak mau Anda harus menjualnya.
Misalnya Anda mengambil kredit kendaraan untuk mudik Lebaran kemarin. Jika keuangan memang sangat tidak memungkinkan untuk melunasi cicilannya, sebaiknya Anda menjual kendaraan tersebut. Dengan begitu pendapatan setiap bulan bisa digunakan untuk melunasi hutang lainnya. Apa gunanya memiliki kendaraan pribadi tetapi tidak bisa membayar kebutuhan makan setiap hari? Tidak perlu memaksakan diri untuk memenuhi keinginan jika memang belum sesuai dengan kemampuan Anda.
Anda juga bisa memanfaatkan produk investasi yang dimiliki. Walaupun terlihat sangat sayang, tetapi keputusan ini lebih baik daripada terus menumpuk hutang. Memang penting untuk menyiapkan kebutuhan masa depan dengan berinvestasi, namun apa gunanya mempersiapkan masa depan jika permasalahan hari ini saja belum selesai. Setelah hutang lunas nanti baru Anda dapat mulai berinvestasi lagi untuk memenuhi kebutuhan masa depan.
#4 Bernegosiasi dengan Pihak PendanaSetiap pemberi pinjaman pasti memberikan tenggat waktu pelunasan. Bahkan jika Anda meminjam dana kepada keluarga terdekat sekalipun. Namun Anda juga dapat membuat jadwal pembayaran yang teratur untuk melunasi utang satu per satu. Dengan begitu diharapkan perlahan-lahan seluruh utang bisa terselesaikan. Namun seringkali keuangan benar-benar tidak mendukung untuk memenuhi tenggat waktu yang diberikan pendana.
Jika setelah mengoptimalkan aset pun Anda tidak dapat membayar pinjaman tepat waktu, cobalah untuk bernegosiasi dengan pihak pendana. Anda dapat berusaha meminta kelonggaran waktu untuk melunasi hutang tersebut. Jelaskan kondisi Anda keuangan yang sebenarnya saat ini kepada pendana. Walaupun tidak semua pendana akan memberikan kelonggaran, apalagi jika Anda berurusan dengan pihak bank. Wajar bila bank tidak mau memberikan kelonggaran jika selama ini Anda terus menerus lalai membayar hutang. Tetapi bagi pendana, langkah ini lebih baik daripada tidak ada pemberitahuan sama sekali. Setidaknya pendana mengetahui bahwa Anda masih akan bertanggungjawab untuk melunasi pinjaman.
Namun sekalipun Anda sudah mendapatkan kelonggaran, jangan membiasakan diri untuk melakukan hal ini. Saat ini Anda mungkin mendapatkan kelonggaran, belum tentu di lain hari Anda akan mendapatkannya lagi. Jadikan kelonggaran tersebut sebagai kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan Anda dalam mengelola keuangan. Jangan sampai kesalahan menumpuk utang untuk hal yang tidak diperlukan terulang lagi di kemudian hari.
Tampil Sesuai Kemampuan
Lebaran merupakan momen yang menyenangkan bagi Anda dan keluarga besar. Terkadang desakan untuk terlihat mapan sangat membebani. Tetapi bukan berarti Anda harus menunjukkan penampilan yang seolah mapan jika memang belum mapan. Jangan jadikan desakan tersebut untuk memaksakan diri hingga menumpuk utang. Sebaliknya jadikan desakan tersebut untuk bekerja lebih baik dan menjadi orang mapan yang sebenarnya.
Stacia Edina Hasiana Sitohang CFP
www.Finansialku.com