Begitu kata Rektor Universitas Paramadina Prof. Firmanzah dalam diskusi bertajuk 'Meraba Peluang Kebangkitan di Panggung Dunia' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/5).
Menurut Firmanzah, alasan pertama Indonesia bisa mendapat rangking lima besar dunia dalam satu dekade kedepan yakni masuknya Indonesia dalam anggota G20 yang diketahui merupakan klub bagi negara dengan perekonomian besar di dunia.
Alasan kedua, sambung Firmanzah, pada 2010 lalu, banyak lembaga internasional yang memasukkan Indonesia sebagai investment grade atau peringkat sebuah negara atau perusahaan yang memiliki kemampuan dalam melunasi hutang, sehingga memiliki tingkat kepercayaan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sebagai contoh lembaga pemeringkat utang, Fitch Ratings, telah menaikkan peringkat surat utang Indonesia dari BB+ dengan outlook positif menjadi BBB- dengan outlook stabil pada Desember 2011 lalu.
Alasan selanjutnya atau yang ketiga, Indonesia merupakan negara yang kaya akan kekayaan alam yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan. Belum lagi di bidang pariwisata yang hingga kini belum digali secara optimal.
"Itupun dalam kondisi infrastruktur kita yang masih terbatas, kita masih bisa mendapat hasil dari sektor pariwisata dan kekayaan alam. Kalau infrastruktur kita yang saat ini digalakkan pemrerintah bisa optimal, maka potensi-potensi yang terpendam itu akan luar biasa untuk me-leverage ekonomi kita kedepan," ungkap Firmanzah.
Lebih lanjut, secara politik, Firmanzah menjelaskan, Indonesia cukup sukses dalam melaksanakan pemilu yang demokratis. Terlebih pada Pilkada Serentak 2017 lalu, Indonesia dinilai berhasil menyelenggarakan pilkada tanpa adanya gangguan kemananan yang dikhawatirkan banyak pihak.
Menurutnya, negara-negara maju belum mampu menghadapi konstalasi besar seperti yang dilakukan Indonesia saat Pilkada 2017 lalu. Hal itu diketahui setelah berbincang dengan perwakilan IMF yang pernah menemuinya beberapa waktu lalu.
"IMF optimis dengan Indonesia kedepan. Artinya dalam politik ada kematangan dan kedewasaan berpolitik di Indonesia dan terbukti pada gelaran Pilkada 2015 dan 2017, itu terjadi secara aman tertib dan aman padahal itu serentak dan baru pertama kali. Kalau kita lihat negara lain, gelaran semasif itu dan intensitas setinggi itu, mungkin menjurus ke kerasan dan jaminan keamanan tidak terpenuhi. Tetap Indonesia bisa melalui itu semua," pungkas mantan Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi pada pemerintahan SBY.
[rus]