Virus yang tengah menyebar secara global itu telah menyerang Rumah Sakit Dharmais dan Harapan Kita, Jakarta.
"Tersebarnya malware kian masif di dunia. Saya tidak tahu apakah ini menyerang seluruh bisnis proses, tapi kalau saya monitor yang kena malware ini bisnis proses yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan," papar Rudiantara dalam konferensi pers di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta, Minggu (14/5).
Seperti ransomware pada umumnya, virus ini akan menyandera dokumen korban dengan algoritam enkripsi khusus. Setiap dokumen yang terkunci oleh peranti lunak ini hanya bisa diakses jika memaskukkan kode unik untuk membuka enkripsinya.
Namun Rudiantara menegaskan agar masyarakat tidak perlu cemas dengan adanya serangan tersebut.
"Cara menghindarinya, sebelum hidupkan komputer pastikan tidak terhubung ke internet. Cabut saja kabel datanya. Sementara tidak ada tersambung koneksi (internet)," jelasnya.
Apabila komputer terkoneksi dengan jaringan wifi dipastikan hotspot tersebut dalam kondisi mati terlebih dulu. Setelah itu, segera pindahkan data ke sistem operasi non windows seperi Linux atau Mac.
"Juga lakukan back up pada semua data-data penting ke media storage terpisah," lanjut Rudiantara.
Menurut catatan, Wannacry telah menyebar ke berbagai belahan dunia sejak Sabtu (13/5) pagi waktu Indonesia. Sejumlah rumah sakit di Inggris Raya dan Skotlandia telah terserang virus tersebut.
"Datanya nggak bisa dibuka. Registrasi harus manual. Jadi berapa waktu yang terbuang? Berapa kertas dan tinta yang terbuang? Berapa lama waktu menunggu?" kata Menkominfo menjelaskan resiko yang dialami RS Dharmais akibat diserang virus Wannacry.
[wid]
BERITA TERKAIT: