Tren Industri Indonesia Terus Menurun

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Jumat, 28 April 2017, 22:32 WIB
RMOL. Indonesia akan mengalami stagnasi industrialisasi apabila penambahan suplai listrik masih berjalan bisnis is usual.

Apalagi saat ini arahnya semakin banyak industri yang tutup sehingga ikut berpengaruh pada kontribusi industri pada Produk Domestik Bruto, PDB, sebesar 18 persen pada tahun 2016 dengan tren yang terus menurun.

Pengamat Ekonomi Energi Bob Soelaiman Efendi yang juga anggota bidang Energi Terbarukan dan Lingkungan Hidup KADIN mengatakan itu dalam diskusi dengan tema: Energi Terbarukan di ruang Press Room DPR RI Jakarta Jumat (28/4).

Diperlukan Big Scale suplai listrik baru dan besar jika industri mau diselamatkan, dengan memanfaatkan energi hidro, geothermal dan energi nuklir generasi IV, yang murah dan bersih. 

"Saya menolak pemanfaatan batubara karena biaya polusinya lebih mahal dibandingkan dengan harga jual listrik yang di banyak tempat PLTU Batubara telah ditutup", tegasnya.

Dia sependapat bahwa pembangunan listrik 4.000 Megawatt pertahun sudah tak bisa diandalkan lagi untuk mengimbangi kebutuhan listrik industri. Apalagi akibatnya pelaku industri ikut menanggung biaya yang lebih mahal.

"Saya yakin dengan dibangunnya listrik Big Scale maka listrik murah akan menciptakan kesejahteraan untuk rakyat dan industri dalam negeri sehingga bisa bersaing dengan produk negara lain", imbuhnya.

Bob Soelaiman menolak jurus Big Scale disamakan dengan liberalisasi. "Justru sebaliknya kita mau menyiapkan listrik murah untuk industri dan kebutuhan rumah tangga yang disuplai dari enargi baru dan terbarukan," paparnya.

"Sampai sekarang dari sisi permintaan, demand listrik masih sangat besar, cuma dari sisi suplai kurang, makanya banyak investor yang dalam posisi menunggu," tuturnya

Di tempat yang sama, Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha menyatakan bahwa UU tentang Panas Bumi atau Geothermal sebenarnya telah memberikan kemudahan pada investor, tapi dalam implementasi tidak mudah dilapangan. Utamanya di wilayah eksplorasi hutan yang harus berhadapan dengan LSM yang punya cara pandang yang berbeda.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA