Beli Gabah Petani, Bulog Kalah Cepat Dari Tengkulak

Alat Penggilingan Dan Pengeringan Jadi Kendala

Senin, 13 Maret 2017, 08:56 WIB
Beli Gabah Petani, Bulog Kalah Cepat Dari Tengkulak
Foto/Net
rmol news logo Perum Bulog kalah cepat dari swasta dan tengkulak di dalam melakukan pembelian gabah petani. Namun demikian, perusahaan pelat merah tersebut mengklaim penyerapan naik signifikan.

Pemerintah membentuk tim khusus untuk melaku­kan penyerapan hasil panen raya saat ini dengan tujuan menyelamatkan harga gabah petani yang sempat anjok dan meningkatkan stok beras di gudang Bulog. Bagaimana implementasinya?

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Winarno Tohir menilai, ke­bijakan itu sulit direalisasi­kan. Kapasitas pemerintah melakukan penyerapan terbatas karena tidak memiliki perala­tan pendukung yang memadai. Menurutnya, tengkulak dan swasta jauh lebih siap dalam melakukan penyerapan karena mereka memiliki penggilingan dan pengering.

"Pemerintah sebenarnya sudah menganggarkan dana untuk beli penggilingan dan dryer (pengering), tapi sampai sekarang belum terealisasi. Makanya penyerapan mau di­paksain juga sulit, penyerapan pasti kurang maksimal," kata Winarno kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Selain peralatan, lanjut Winarno, petugas Bulog masih terbatas. Sementara jumlah tengkulak dan swasta banyak. Untungnya, kemampuan dana swasta dan tengkulak terbatas. Sehingga, Bulog juga berkesempatan melakukan penyerapan.

Namun demikian, dia tidak memungkiri peran Bulog. Di tengah banyak keterbatasan, perusahaan pelat merah tersebut memberikan andil besar di dalam menjaga harga gabah petani agar tidak jatuh. Selain itu, Bulog juga menyerap gabah petani dengan kualitas rendah.

Seperti diketahui, harga gabah petani di sejumlah wilayah sempat menyentuh Rp 2.700 per kilogram (kg). Harga itu jatuh dari harga pokok pen­jualan (HPP) yang ditetapkan pemerintah Rp 3.700 per kg. Harga gabah jatuh disebabkan kadar airnya tinggi mencapai 30 persen.

Untuk menjaga harga gabah, Presiden Jokowi mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2017 dan ditindaklan­juti oleh Petaturan Menteri Pertanian Nomor 03 Tahun 2017 tentang Pedoman Pem­belian Gabah dan Beras Petani. Dengan regulasi itu, Bulog menerima penjualan gabah petani dengan kualitas rendah sekalipun dengan harga sesuai HPP.

Penyerapan Naik Signifikan

Kepala Bagian Humas Perum Bulog Erwin Budiana tidak menampik swasta masih banyak melakukan penyerapan gabah. Menurutnya, banyak faktor hal tersebut terjadi, antara lain melakukan pembayaran sebelum panen.

"Tengkulak melakukan pem­bayaran sebelum panen. Petani sih seneng-seneng aja karena mereka bisa menanam tanpa modal," terang Erwin kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Namun demikian, Erwin me­negaskan, kinerja pihaknya di dalam melakukan penyerapan juga sudah jauh lebih baik. Menurutnya, pembentukan tim khusus membuat penyerapan gabah naik dibandingkan tahun lalu.

"Untuk deal pengadaan setara dengan beras, penyerapan di­lakukan Bulog tahun ini sampai dengan ini (10 Maret 2017) sudah mencapai 158 ribu ton. Angka itu jauh lebih banyak dibandingkan tahun lalu den­gan periode yang sama yang hanya 52 ribu ton setara beras," terangnya.

Padahal, lanjut Erwin, harga pembelian dilakukan Bulog masih mengacu Inpres Nomor 5 Tahun 2015 yang isinya HPP gabah kering panen Rp 3.700 per kg, gabah kering giling Rp 4.600 per kg, dan harga beras gudang Bulog Rp 7.300 per kg.

Erwin optimistis, dengan ban­tuan TNI, penyerapan gabah terus membaik.

Direktur Perum Bulog Sum­ber Daya Manusia dan Urusan Umum Wahyu Suparyono mene­gaskan, pihaknya siap menyerap gabah hasil panen petani sebanyak-banyaknya.

"Kami pasti serap, jika ada kendala laporkan kepada saya. Kami akan buka semua wilayah Divre Bulog, pada hari Sabtu dan Minggu untuk menerima gabah petani," tegasnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA