"Sejauh ini belum ada perusaÂhaan tergabung dalam Gapmmi terlibat. Kami terus memanÂtau perkembangan kasusnya," kata Rachmat kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Rachmat menerangkan, untuk mendapatkan bahan baku cabe, industri memang mengambil dari pengepul. Tetapi, dia meÂmastikan industri dalam Gappmi hanya membeli dari kelompok tani atau pengepul yang berbadan hukum jelas.
"Kita nggak bisa menerima bahan baku dari perorangan. Industri nggak bisa sembarangan," tegasnya.
Rachmat menuturkan, pihaknya termasuk pihak yang dirugiÂkan dengan tingginya harga cabe. Karena, tingginya harga telah menekan keuntungan.
"Coba cek harga saus di superÂmarket, tidak berubah. Padahal harga bahan baku cabe tembus Rp 150 per kilogram (kg)," terangnya.
Rachmat menerangkan, jika dilihat dari konsumsi, sebeÂnarnya industri tidak besar memÂbutuhkan cabe. Pada 2016, keÂbutuhan cabe di industri mamin sebesar 100 ribu ton. Jumlah itu hanya 10 persen dari konsumsi nasional yang mencapai 1 juta ton per tahun.
Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional IndoÂnesia (Ikappi) Abdullah ManÂsuri juga yakin anggotanya tidak terlibat.
"Pedagang pasar bukan pedaÂgang besar. Masih ada rantai pedagang besar di atasnya. PedaÂgang pasar justru korban juga," kata Abdullah.
Dia menilai, tertangkapnya dua pengepul yang diduga melakuÂkan praktik kartel membuktikan kecurigaan selama ini bahwa ada tangan-tangan yang memainkan harga di pasaran.
Mansuri berharap, penyidikan tidak berhenti pada pata terÂsangka. Karena, dapat dipastikan ada pihak lain yang juga selama ini memainkan harga tetapi tidak tersentuh.
"Gejolak pangan bukan kali ini saja terjadi. Tangan-tangan gaib para pemainnya harus diÂtangkap," katanya.
Mansuri mengimbau para pedagang pasar untuk tidak memanfaatkan seretnya pasokan cabe untuk mengerek harga.
Seperti diketahui, kepoliÂsian menangkap dua tengkulak cabe berinisial SJN dan SNO. Keduanya berasal dari Solo, biasanya melakukan pengepul cabe di Jawa Timur. Keduanya ditangkap karena disinyalir kuat memainkan pasokan. 80 persen dari 50 ton cabe yang seharusnya didistribusikan ke Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur, mereka jual ke perusaÂhaan. ***
BERITA TERKAIT: