Penilaian itu disampaikan dosen Universitas Indonesia yang juga mantan penasihat Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Ronnie Higuchi Rusli dalam akun twittenya, @Ronnie_Rusli.
"Menko Perekonomian menyalahkan The Fed Rp 13300/US$ padahal kekuasaan eksekutif koordinasi inter kementerian ada ditangannya. Kalau menyalahkan kantor The Fed maka lulusan SMK juga bisa menjawab bahwa rupiah melemah karena The Fed, padahal rate belum naik," kata dia.
Awal tahun lalu digagas kebijakan reformasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Tapi buktinya, hingga sekarang belum ada tanda-tanda kebijakan itu berdampak positif membuat nilai tukar rupiah perkasa.
Menurut Ronnie, saat ini nilai tukar anjlok ke Rp 13300 karena impor di luar Migas masih tinggi.
"Kemana Menko Perekonomian? Kenapa tidak tanya Menperdag? Kalau Migas sudah dihapus subsidinya, Menko Perekonomian harus bisa menjawab lemahnya rupiah sudah bukan lagi faktor impor BBM," papar Ronnie.
Atas sikap Sofyan yang demikian, wajar bila Presiden Jokowi berang. Sofyan menyalahkan faktor luar negeri padahal dirinya membawahi koordinasi antar kementerian.
Menurut Ronnie, lemahnya koordinasi Menko Perekonomian karena keahliannya bukan ekonomi makro, tetapi corporate law.
"Tidak mengherankan sebentar lagi kurs Rp/US$ jadi 14000 dan Menko Perekonomian Sofyan Djalil akan menyalahkan The Fed," tukasnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: