Kemenperin Mau Ajukan Usul Insentif Untuk Pengguna Gas

Converter Kit Bakal Dioper Ke Kementerian ESDM

Rabu, 17 Desember 2014, 08:53 WIB
Kemenperin Mau Ajukan Usul Insentif Untuk Pengguna Gas
ilustrasi, Converter Kit
rmol news logo Kementerian Perindustrian (Ke­menperin) siap mengusulkan pem­berian insentif bagi peng­guna gas untuk kendaraan bermotor.

Plh Dirjen Industri Unggulan Ber­­­basis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kemenperin Soerjono me­­­­nga­takan, selama 10 tahun ti­dak ada ceritanya sukses pro­gram kon­versi BBM ke bahan ba­kar gas (BBG). Sejak di­mulai dari Ke­men­terian Perhu­bu­ngan, ke­mu­dian dilanjut­kan ke Ke­men­te­rian Energi Dan Sumber Daya Mi­neral (ESDM) hingga Kemen­perin hanya bersifat bagi-bagi converter kit.

"Dulu kita bagi-bagi ke taksi, sudah dipasang sekarang sudah tidak ada lagi," ujar Soerjono saat diskusi kesiapan industri otomo­tif mendukung program konversi BBM ke gas di Ciawi, Bogor, akhir pekan lalu.

Namun, selama dua tahun ter­akhir program tersebut tidak ber­jalan karena masalah pencarian ang­garan. Soerjono mengatakan, program bagi-bagi converter kit tahun lalu disebabkan ang­ga­ran baru cair Agustus 2013. Ak­hir­­nya, tidak terserap karena ha­rus tender terlebih dahulu.

Sementara untuk tahun ini, anggaran converter kit dikena pe­mangkasan terkait program peng­hematan pemerintah. Kare­na itu, untuk tahun depan ang­garannya tidak dimasukkan ke dalam Ang­garan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Soerjono menyarankan angga­ran untuk converter kit diserah­kan kepada Kementerian ESDM untuk pembangunan infrastruktur gas. Sedangkan untuk converter kit-nya diserahkan ke Agen Tung­gal Pe­me­gang Merk (ATPM), sehingga kua­litas dan ke­amanannya terjamin.

Yang paling sulit kan pem­ba­ngunan image-nya, jika meng­gu­nakan gas lebih murah dan aman. Kita harus hati-hati ja­ngan sam­pai terjadi kecelakaan,” jelasnya.

Menurut dia, Kemenperin akan fokus kepada penggunaan gas. Pi­­haknya bisa mengusulkan pem­berian insentif bagi industri dan pengguna BBG kendaraan ber­mo­tor. "Ini untuk mendorong per­cepatan konversi," imbuhnya.

Direktur Toyota Motor Manu­fac­turing Indonesia (TMMIN) I Ma­de Dana M Tangkas menga­ta­kan, ke depan converter kit harus di­buat oleh pabrikan lang­sung, se­hingga aspek keselama­tannya terjaga.

"Ini untuk mendukung kesela­matan kendaraan. Belajar dari Thailand dan India, masih ada ke­ce­lakaan kalau dipasang di luar. Karena itu, converter kit sebaik­nya dibuat oleh pabrikan lang­sung," tandasnya.

Menurut Made, ke depannya gas akan menjadi energi alterna­tif. Namun, yang menjadi kendala adalah penyalurannya dari daerah penghasil ke daerah pengguna. Karena itu, infrastrukturnya harus terus dikembangkan.

Dia mengklaim, Toyota sudah per­nah melakukan kegiatan kon­versi BBM ke gas dua tahun lalu un­tuk taksi. Namun, perlu ada per­aturan atau dasar hukum untuk menjalan­kan program konversi itu. ***

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA