Usia Produktif Terus Meningkat Tapi Angka Pengangguran Tinggi

Petumbuhan Tak Sejalan Dengan Lapangan Kerja

Senin, 28 April 2014, 09:16 WIB
Usia Produktif Terus Meningkat Tapi Angka Pengangguran Tinggi
ilustrasi
rmol news logo Dua per tiga penduduk Indo­nesia saat ini berada pada usia produktif. Meski demikian, ba­nyaknya usia produktif tidak lantas dianggap sebagai bonus ka­rena pengangguran masih ter­bilang tinggi.

“Angka pengangguran kita yang tinggi juga tidak akan me­nguntungkan,” ujar Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebija­kan (PSKK) Universitas Gajah Mada (UGM) Muhadjir Darwin.

Menurut dia, setelah menga­lami bonus demografi, diperki­rakan Indonesia akan mengalami overage (terlalu tua), di mana jumlah penduduk usia tidak produktif jauh lebih besar.

“Inilah yang dialami Singa­pura, sehingga saat ini pemerin­tahnya mengendorkan program pengurangan fertilitas,” jelasnya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Elan Satriawan me­ngatakan, potensi bonus de­mo­grafi seharusnya menjadi keuntu­ngan bagi Indonesia jika pendu­duk yang masuk dalam kategori usia produktif menda­patkan pen­didikan yang bagus.

Menurut Elan, pertumbuhan ekonomi seharusnya mampu turut serta menumbuhkan lapa­ngan kerja. Tetapi, pertumbuhan eko­nomi yang dimiliki Indonesia tidak linier dengan pertumbuhan la­pangan kerja. Selain itu, kua­litas pekerja juga harus lebih ditingkatkan. “Pekerja kita secara umum masih kurang kompetitif dibandingkan Thailand, China dan Singapura,” ujarnya.

Pakar Demografi dari Craw­ford School of Public Policy, Australia National University Peter Mc­Donald mengatakan, laju pertum­buhan penduduk yang masih tinggi membutuhkan kebi­jakan tepat dan strategis dalam mengatasi persoa­lan pembangu­nan ekonomi 25-35 tahun mendatang.

McDonald mengatakan, angka laju pertumbuhan penduduk sekitar 2,5 persen per tahun di satu sisi menambah penduduk usia produktif di masa depan, te­ta­pi di sisi lain bisa meng­ham­bat pembangunan ekonomi dengan munculnya penuaan populasi.

“Permasalahan population aging (penuaan populasi) juga mengancam Indonesia pada masa datang seperti yang terjadi di Singapura, Jepang dan Thailand saat ini,” katanya.

Dia juga mengingatkan, me­ngatasi population aging me­merlukan kebijakan yang tepat dan strategis mengenai laju kependudukan sejak saat ini.

Persoalan lain yang disoroti juga soal ketidakmerataan perse­ba­ran penduduk yang masih terjadi di Indonesia. Pertumbuhan penduduk terbesar masih berada di Jawa, sementara tingkat kesu­buran di daerah lain masih rendah.

Namun, lanjut McDonald, jika Indonesia bisa mengadopsi mo­del urbanisasi yang telah di­pra­ktikkan Tiongkok, maka akan ada pengurangan perbedaan demo­grafis daerah pinggiran dengan daerah inti.

Menteri Koordinator Per­eko­no­mian Hatta Rajasa menya­takan, akan mendorong tercipta­nya industri padat karya agar mam­pu menyerap tenaga kerja. Ber­beda dengan padat modal yang sangat sedikit serapan te­naga kerjanya.

“Ada satu pergeseran industri berbasis padat karya industri primer sekarang. Untuk berbasis padat modal serapan tenaga kerja relatif sedikit,” ujar dia.

Hatta mendorong padat karya seperti pertanian yang berbasis olahan. Sebab, industri olahan atau hilirisasi inilah yang sarat hasil produksi yang bernilai tambah.

Oleh karena itu, menurut dia, serapan tenaga kerja merupakan perioritas. “Jangan sampai serapan tenaga kerja berkurang,” katanya.  ***

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA