“Angka pengangguran kita yang tinggi juga tidak akan meÂnguntungkan,†ujar Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan KebijaÂkan (PSKK) Universitas Gajah Mada (UGM) Muhadjir Darwin.
Menurut dia, setelah mengaÂlami bonus demografi, diperkiÂrakan Indonesia akan mengalami overage (terlalu tua), di mana jumlah penduduk usia tidak produktif jauh lebih besar.
“Inilah yang dialami SingaÂpura, sehingga saat ini pemerinÂtahnya mengendorkan program pengurangan fertilitas,†jelasnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Elan Satriawan meÂngatakan, potensi bonus deÂmoÂgrafi seharusnya menjadi keuntuÂngan bagi Indonesia jika penduÂduk yang masuk dalam kategori usia produktif mendaÂpatkan penÂdidikan yang bagus.
Menurut Elan, pertumbuhan ekonomi seharusnya mampu turut serta menumbuhkan lapaÂngan kerja. Tetapi, pertumbuhan ekoÂnomi yang dimiliki Indonesia tidak linier dengan pertumbuhan laÂpangan kerja. Selain itu, kuaÂlitas pekerja juga harus lebih ditingkatkan. “Pekerja kita secara umum masih kurang kompetitif dibandingkan Thailand, China dan Singapura,†ujarnya.
Pakar Demografi dari CrawÂford School of Public Policy, Australia National University Peter McÂDonald mengatakan, laju pertumÂbuhan penduduk yang masih tinggi membutuhkan kebiÂjakan tepat dan strategis dalam mengatasi persoaÂlan pembanguÂnan ekonomi 25-35 tahun mendatang.
McDonald mengatakan, angka laju pertumbuhan penduduk sekitar 2,5 persen per tahun di satu sisi menambah penduduk usia produktif di masa depan, teÂtaÂpi di sisi lain bisa mengÂhamÂbat pembangunan ekonomi dengan munculnya penuaan populasi.
“Permasalahan population aging (penuaan populasi) juga mengancam Indonesia pada masa datang seperti yang terjadi di Singapura, Jepang dan Thailand saat ini,†katanya.
Dia juga mengingatkan, meÂngatasi population aging meÂmerlukan kebijakan yang tepat dan strategis mengenai laju kependudukan sejak saat ini.
Persoalan lain yang disoroti juga soal ketidakmerataan perseÂbaÂran penduduk yang masih terjadi di Indonesia. Pertumbuhan penduduk terbesar masih berada di Jawa, sementara tingkat kesuÂburan di daerah lain masih rendah.
Namun, lanjut McDonald, jika Indonesia bisa mengadopsi moÂdel urbanisasi yang telah diÂpraÂktikkan Tiongkok, maka akan ada pengurangan perbedaan demoÂgrafis daerah pinggiran dengan daerah inti.
Menteri Koordinator PerÂekoÂnoÂmian Hatta Rajasa menyaÂtakan, akan mendorong terciptaÂnya industri padat karya agar mamÂpu menyerap tenaga kerja. BerÂbeda dengan padat modal yang sangat sedikit serapan teÂnaga kerjanya.
“Ada satu pergeseran industri berbasis padat karya industri primer sekarang. Untuk berbasis padat modal serapan tenaga kerja relatif sedikit,†ujar dia.
Hatta mendorong padat karya seperti pertanian yang berbasis olahan. Sebab, industri olahan atau hilirisasi inilah yang sarat hasil produksi yang bernilai tambah.
Oleh karena itu, menurut dia, serapan tenaga kerja merupakan perioritas. “Jangan sampai serapan tenaga kerja berkurang,†katanya. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google