“Proyek kilang ini jauh lebih murah ketimbang membangun kilang baru. Pertamina harus cepat menyelesaikan proyek ini karena berkontribusi untuk meÂnekan ketergantungan produk BBM dari luar negeri,†kata Kurtubi di Jakarta, kemarin.
Sampai saat ini, PLBC belum berjalan karena ada kendala teknis pada tender proyek terÂsebut. Pertamina diketahui meÂnaikkan
interest rate of return/IRR (tingkat pengembalian moÂdal) lelang PLBC dari 10 perÂsen jadi 14 persen untuk meÂningÂkatkan efisiensi proyek.
Sesuai dokumen yang diperÂoleh, perubahan IRR itu meÂnyeÂbabkan harga perkiraan senÂdiri (HPS) proyek menjadi turun dari 338 juta dolar AS jadi 266 juta dolar AS. Akibatnya, tahap penawaran lelang PLBC yang menyisakan dua peserta lelang yakni konsorsium JGC-JGC Indonesia dan Toyo-IKTP mesti diulang. JGC sebelumnya menawar 350 juta dolar AS dan Toyo 430 juta dolar AS.
Namun, setelah diulang kaÂrena perubahan IRR, JGC tetap tidak merubah penawaÂranÂnya yakni 350 juta dolar AS dan Toyo sedikit berkurang jadi 420 juta dolar AS. Revisi peÂnaÂwaÂran yang diajukan kedua konÂsorÂsium itu masih jauh di baÂwah harga yang diinginkan PerÂtamina setelah perubahan IRR yakni 266 juta dolar AS. DengÂan JGC saja, penawaran berÂselisih 84 juta dolar AS atau hamÂpir Rp1 triliun.
Menurut Kurtubi, persoalan tersebut tak seharusnya terjadi. Sebab dengan penawaran budÂget dan IRR awal, dana tersebut sudah cukup memadai dalam menjalankan proyek ini. Di samping itu, dia menambahkan, IRR 14 persen terlalu tinggi dan haÂnya mengedepankan aspek koÂmersial semata. Seharusnya PerÂtamina juga melihat aspek straÂÂtegis dari proyek ini. IndoÂneÂÂsia perlu meningkatkan proÂdukÂÂÂsi BBM oktan tinggi dan meÂÂÂngurangi ketergantungan proÂÂduk BBM dari luar negeri. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google