Pertamina Segera Bereskan Proyek Langit Biru Cilacap

Senin, 28 April 2014, 09:28 WIB
Pertamina Segera Bereskan Proyek Langit Biru Cilacap
ilustrasi
rmol news logo Pengamat Energi Kurtubi meminta kepada Direksi PT Per­tamina (Persero) untuk se­gera menjalankan Proyek La­ngit Biru Kilang Cilacap (PLBC), Jawa Tengah lantaran man­faat yang diperoleh bakal luar biasa. PLBC merupakan sa­lah satu proyek strategis yang mam­pu meningkatkan pro­duk­si Bahan Bakar Minyak (BBM) oktan tinggi setara Pertamax dan bisa mengurangi ketergan­tungan produk BBM dari luar negeri.

“Proyek kilang ini jauh lebih murah ketimbang membangun kilang baru. Pertamina harus cepat menyelesaikan proyek ini karena berkontribusi untuk me­nekan ketergantungan produk BBM dari luar negeri,” kata Kurtubi di Jakarta, kemarin.

Sampai saat ini, PLBC belum berjalan karena ada kendala teknis pada tender proyek ter­sebut. Pertamina diketahui me­naikkan interest rate of return/IRR (tingkat pengembalian mo­dal) lelang PLBC dari 10 per­sen jadi 14 persen untuk me­ning­katkan efisiensi proyek.

Sesuai dokumen yang diper­oleh, perubahan IRR itu me­nye­babkan harga perkiraan sen­diri (HPS) proyek menjadi turun dari 338 juta dolar AS jadi 266 juta dolar AS. Akibatnya, tahap penawaran lelang PLBC yang menyisakan dua peserta lelang yakni konsorsium JGC-JGC Indonesia dan Toyo-IKTP mesti diulang. JGC sebelumnya menawar 350 juta dolar AS dan Toyo 430 juta dolar AS.

Namun, setelah diulang ka­rena perubahan IRR, JGC tetap tidak merubah penawa­ran­nya yakni 350 juta dolar AS dan Toyo sedikit berkurang jadi 420 juta dolar AS. Revisi pe­na­wa­ran yang diajukan kedua kon­sor­sium itu masih jauh di ba­wah harga yang diinginkan Per­tamina setelah perubahan IRR yakni 266 juta dolar AS. Deng­an JGC saja, penawaran ber­selisih 84 juta dolar AS atau ham­pir Rp1 triliun.

Menurut Kurtubi, persoalan tersebut tak seharusnya terjadi. Sebab dengan penawaran bud­get dan IRR awal, dana tersebut sudah cukup memadai dalam menjalankan proyek ini. Di samping itu, dia menambahkan, IRR 14 persen terlalu tinggi dan ha­nya mengedepankan aspek ko­mersial semata. Seharusnya Per­tamina juga melihat aspek stra­­tegis dari proyek ini. Indo­ne­­sia perlu meningkatkan pro­duk­­­si BBM oktan tinggi dan me­­­ngurangi ketergantungan pro­­duk BBM dari luar negeri.  ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA