Anggota Komisi VI DPR Hardi Soesilo menilai, langkah Kementan memangkas belanja modal seperti cetak baru sawah, pembibitan dan pembangunan irigasi, akan merugikan petani. Langkah ini bakal membuat masyarakat yang bekerja di sektor agraris merasa tidak mendapat jaminan berusaha.
“Petani menanyakan kalau kesejahteraan mereka tidak terjamin, mereka juga enggan menanam sesuatu. Saya pikir jangan bantuan sosial dikurangi. Kalau anggaran dipotong, bagaimana mungkin bisa swasembada pangan tercapai,†ujarnya di dalam rapat kerja dengan Menteri Pertanian (Mentan) Suswono di DPR, kemarin.
Anggota Komisi IV Fraksi PAN Viva Yoga Mauladi mengatakan, pemotongan anggaran tidak akan mengurangi beban negara. Malah, imbas buruk bakal lebih besar karena masalah utamanya adalah kenaikan harga BBM.
Sektor pertanian akan turut terkena dampak kenaikan harga BBM, khususnya solar yang banyak digunakan untuk mesin giling, traktor dan truk untuk distribusi hasil panen.
Dibanding mengutak-atik anggaran, Mentan Suswono diingatkan segera menetapkan harga pokok pembelian (HPP) komoditas penting seperti padi, tebu dan kedelai.
Dalam penjelasannya, Mentan Suswono siap mengikuti rencana pemerintah menghemat anggaran melalui pembahasan APBN Perubahan. Pihaknya diminta menghemat anggaran tahun ini sebesar Rp 1,4 triliun.
Suswono mengungkapkan, pos-pos yang paling banyak dipangkas anggarannya adalah belanja barang non operasional dan perjalanan dinas. Beberapa pos belanja strategis juga turut disunat. Misalnya program peningkatan produktivitas lahan padi, cetak sawah baru, bantuan benih kopi ke daerah serta pengembangan kawasan sentra buah-buahan. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google