Berdasarkan pantauan
Rakyat Merdeka, harga daging di pasar tradisional Jabodetabek masih berada di kisaran Rp 85- 95 ribuan per kg. Muhidin (35), pedagang daging di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan mengaku harga daging masih tinggi dan belum ada tanda-tanda akan turun di bawah Rp 80 ribu per kg.
“Wah kalau untuk turun di harga Rp 80 ribu per kg susah. Justru harganya bakal naik lagi karena mau puasa,†ujarnya, kemarin.
Terkait pasokan, dia mengaku lancar. Agus sendiri bingung dengan masih tingginya harga daging tersebut. Menurut dia, harga dari pemasoknya juga sudah tinggi. Dia berharap, ada langkah dari pemerintah mengendalikan harga daging.
Hal senada disampaikan Agus (40), pedagang Pasar Blok A Jakarta Selatan.
Menurutnya, harga daging di tempatnya masih di kisaran Rp 90 ribuan per kg. Operasi pasar yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) belum mampu menurunkan harga.
“Banyak ibu-ibu yang mengeluhkan harga daging sekarang. Mereka tanya terus kapan harganya turun seperti dulu,†kata Agus.
Kendati begitu, dia mengaku tidak begitu banyak mengalami penurunan penjualan.
Rizki Darmawan (34), pedagang daging di Pasar Cibinong mengatakan, harga daging di tempatnya mencapai Rp 80- 85 ribu. Akibat harganya yang melangit, permintaan terhadap daging sapi mengalami penurunan. Dalam sehari, biasanya dia menjual dua kwintal daging, tapi saat ini hanya mampu melego satu kwintal saja.
Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengakui, harga daging sapi di pasar saat ini masih cukup tinggi. Bahkan harga tersebut diindikasikan akan naik bila pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Juni.
“Saya akan ketemu Menteri Pertanian untuk memasok daging ke titik-titik tertentu agar harga turun,†ujar Gita.
Menurut Gita, idealnya harga daging sapi hanya Rp 75-80 ribu per kg. Karena itu, pihaknya akan melakukan beberapa langkah agar harga daging turun.
“Harga harus turun, tetapi peternak juga harus tetap untung,†tegas Gita.
Menurut Mendag, penurunan harga daging sapi harus diseimbangkan dengan kepentingan konsumen agar tetap terjangkau. Berdasarkan pantauan di lapangan, dengan harga tinggi tersebut, para pedagang besar hanya bisa berjualan lima ekor sapi dalam sehari.
Namun, jika harga turun menyentuh ke level Rp 75-80 ribu, para pedagang bisa menyembelih tujuh hingga 10 ekor sapi setiap harinya.
“Kalau harga turun mereka (penjual) bisa double jualan sehingga akan memberi kesejahteraan kepada pedagang. Ini juga berimbas pada peternak dan konsumen,†terang Gita.
Untuk memenuhi kebutuhan daging, bekas Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu mengatakan, pihaknya akan tetap melakukan impor. Namun, impor hanya untuk jenis daging yang tidak diproduksi di dalam negeri.
Menteri Pertanian Suswono mengatakan, pihaknya menargetkan harga daging sapi di wilayah Jabodetabek pada kisaran Rp 76- 80 ribu per kg. Caranya, pemerintah akan melakukan operasi pasar dan menyebar 1.500 ton daging di pasaran.
Menurut Siswono, selain melakukan operasi pasar, pihaknya juga akan meningkatkan pasokan daging di daerah DKI Jakarta dan sekitarnya sebanyak 30 persen per bulan atau sekitar 900 ton daging menjelang Lebaran. Saat ini, rata-rata kebutuhan daging di DKI dan sekitarnya mencapai 3.000 ton per bulan.
Selain itu,pihaknya juga sudah menugaskan Bulog mengimpor 50 persen dari kebutuhan daging di Jabodetabek atau sebanyak 1.500 ton. Dengan bantuan Bulog, Suswono yakin kebutuhan akan daging sapi menjelang Lebaran dapat terpenuhi.
Terkait mahalnya harga daging sapi saat ini, yakni masih sekitar Rp 90.000 per kg, politisi PKS ini berdalih, salah satu penyebabnya adalah biaya transportasi dalam negeri yang mahal. Misalnya, jika mengambil daging sapi dari Nusa Tenggara, tentu berbeda bila mengambil di Jawa. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google