Kendati begitu, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mahendra Siregar mengatakan, penyebab terus meningkatkan utang Indonesia adalah karena subsidi BBM yang meningkat, kenaikan harga minyak dunia serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, menyebabkan pembelian BBM impor jadi mahal. Ini menyebabkan defisit anggaran naik, sehingga utang terus menanjak.
“Mudah-mudah tidak terlalu naik defisit. Tidak terelakan karena harga BBM (impor) yang meningkat dan ditutup sebagiannya oleh penambahan utang,†ujar Mahendra di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, Indonesia merupakan negara nomor lima tersehat di dunia dalam pembayaran utang. Ini teruji dengan beroperasinya mesin ekonomi secara berkesinambungan.
Selain itu, kemampuan negara untuk membayar utang bisa diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB). “PDB kita yang sudah hampir mendekati Rp 9.000-an triliun, atau 1 triliun dolar AS itu menunjukkan kapasitas untuk beroperasinya mesin ekonomi kita, termasuk untuk membayar utang juga semakin tinggi,†jelas Mahendra.
Makanya, dia menilai, utang yang sudah mencapai Rp 2.000 triliun tersebut optimis dapat dibayar sesuai dengan tanggal jatuh tempo.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, meski utang pemerintah tembus Rp 2.000 triliun, namun rasio utang terhadap PDB masih aman di level 24 persen. “ Yang penting dijaga utang terhadap PDB. Orang menganggap angka yang aman itu 60 persen, tetapi kita cuma 24 persen,†ucap Hatta.
Dia juga optimis utang Indonesia dapat terbayar karena utang Indonesia termasuk jenis utang produktif.
Sebelumnya, Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan menilai, pemerintah terlalu menyepelekan utang. Dampak secara langsung dapat dilihat dari besarnya beban pembayaran utang dalam APBN. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google