Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan, kelangkaan tersebut hanya terjadi di beberapa wilayah dan saat ini sudah diatasi.
“Ada satu dua lokasi, ada masalahhari libur distribusi terganggu sebentar, sementara kebutuhan meningkat dan itu sudah selesai,†kilah Hanung di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, kelangkaan terjadi lebih disebabkan kebutuhan yang meningkat akibat memasuki libur panjang. Ini diperburuk dengan kondisi distribusi yang sempat terganggu. Namun, dia memastikan saat ini kelangkaan itu sudah teratasi.
Vice President Gas Domestic Pertamina Gigih Wahyu mengatakan,penyaluran gas sudah dilebihkan 7 persen dari kuota yang ditetapkan. “Langkanya di mana?. Kalau di kota-kota ya ada (elpijinya). Kalau di ujung atau dusun mungkin memang langka,†ujarnya.
Menurut Gigih, kelangkaan yang dilaporkan bisa karena panik. Sejak wacana kenaikan harga BBM naik, ada pihak yang melakukan pembelian lebih banyak dari biasanya. Ada pula pihak yang menjual tabung gas elpiji 3kg dengan harga lebih mahal, apalagi rantai distribusi tabung gas elpiji 3 kg cukup panjang.
Anggota Komisi VII DPR Rofi’ Munawar mengatakan, kelangkaan elpiji 3 kg menunjukkan distribusi elpiji tak dilakukan dengan baik. Tata niaga dinilainya lemah dan minim pengawasan.
Menurut Rofi’, perlu langkah segera dari pemerintah, mengingat beragam kondisi yang ditimbulkan dari kelangkaan tersebut telah menambah beban bagi masyakat kalangan bawah.
“Kelangkaan elpiji ini terjadi silih berganti di berbagai wilayah. Ironisnya, beberapa pekan ini terjadi secara merata. Dan kalaupun ada, harganya melambung di tingkat pengecer,†ungkapnya.
Karena itu, sebaiknya pemerintah mengevaluasi dan memonitoring secara intensif tata niaga elpiji yang selama ini telah dilakukan. Mengingat proses distribusi selama ini sangat rapuh dan mudah terjadi kebocoran karena sistem agenisasi yang longgar.
Selain digunakan oleh konsumen rumah tangga, elpiji 3 kg juga banyak digunakan para pedagang kecil maupun usaha kecil menengah (UKM). Perlu usaha serius menangani permasalahan kelangkaan ini, karena telah menyangkut daya ungkit ekonomi bagi masyarakat lemah.
“Sepanjang kuartal pertama kinerja pemerintah terkait distribusi elpiji sangat memprihatinkan. Kondisi ini akan sangat meresahkan rakyat jika tidak segera dilakukan antisipasi dengan cepat,†tegas Rofi’.
Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi mengatakan, pasokan elpiji 3 kg tidak ada masalah. “Untuk Solo dan Yogyakarta, kelangkaan karena ada hari libur sehingga pasokan terhambat ke agen,†katanya kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Untuk Depok, kelangkaan juga dipengaruhi hari libur. Namun, kelangkaan tidak terjadi untuk semua wilayah Depok. Sedangkan di Batam, kelangkaan disebabkan karena daerah perbatasan dengan Singapura, dan itu sangat rawan penyimpangan.
“Tidak ada masalah untuk stok, yang ada adalah peningkatan konsumsi permintaan,†ujarnya.
Sebelumnya, terjadi kelangkaan elpiji 3 kg di wilayah Depok, Solo, Yogyakarta, Jambi, Batam dan Palembang.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga menyayangkan terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg. Karena itu, dia memerintahkan Pertamina segera mengantisipasi hal tersebut. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: