Kurang Order, Bengkel Converter Kit Cuma Layani Satu Kendaraan Per Hari

Anggaran Rp 250 Miliar, Nasib Konversi BBM Ke Gas Nggak Jelas

Senin, 13 Mei 2013, 08:14 WIB
Kurang Order, Bengkel Converter Kit Cuma Layani Satu Kendaraan Per Hari
ilustrasi/ist
rmol news logo Lambatnya pemerintah menerapkan kebijakan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas, membuat bengkel pemasangan converter kit kekurangan order. Nasib kebijakan ini makin tak jelas.

Salah satu bengkel yang melayani pemasangan converter kit adalah PT Autogas Indonesia. Bengkel yang terletak di Taman Techno Blok H3 No.1-2 BSD City, Tangerang ini, menerima pemasangan converter kit untuk menggantikan BBM ke gas. Ini salah satu bengkel percontohanpemasangan converter kit oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Ketika Rakyat Merdeka berkunjung ke bengkel tersebut beberapa waktu lalu, terlihat beberapa kendaraan operasional yang terparkir di bengkel itu.

“Ya saat ini paling hanya satu kendaraan saja yang memasang converter kit tiap hari,” kata salah satu pegawai PT Autogas Indonesia Hendi Suhendi.

Padahal, saat pemerintah gencar- gencarnya mensosialisasi kebijakan konversi BBM ke gas, bengkel itu per hari bisa menerima tiga sampai empat kendaraan yang mau memasang converter kit. Mereka yang memasang converter kit biasanya pengguna pertamax.

Hendi menjelaskan, untuk pemasangan converter kit, khusus kendaraan buatan Jepang membutuhkan waktu delapan jam. “Datang pagi, sore bisa diambil,” ucapnya.

Untuk pengisian bahan bakarnya LGV/VIGAS dan CNG/BBG tidak ada kendala, karena sudah banyak tempat pengisiannya. Apalagi dia mengklaim perusahaannya merupakan perwakilan atau distributor dari LOVATO Italy, perusahaan yang memproduksi konverter kit LGV/VIGAS dan CNG/BBG.

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi mengatakan, pihaknya tengah mendata kebutuhan converter kit di stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang beroperasi tahun ini, baik di SPBG eksisting maupun SPBG baru.

Menurutnya, tim teknis sedang mendata kondisi SPBG di Jakarta, Bogor, Surabaya dan Palembang untuk menentukan jumlah converter kit yang dapat dilayani SPBG tersebut.

Adapun jumlah converter kit yang akan disalurkan tahun ini, pihaknya masih menunggu kepastian dari PT Pertamina (Persero) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Anggaran tahun ini Rp 250 miliar. Jumlah converter kit menyesuaikandengan SPBG yang ada, tapi itu bukan kewenangan kami. Itu bisa ditanyakan ke Pertamina atau Kementerian ESDM,” jelas Budi.

Dikatakan, jumlah converter kit yang dilepas ke pasar akan disesuaikan dengan jumlah SPBG yang ada. Pasalnya, bila SPBG yang terbangun tahun ini minim, akan membuat program konversi BBM ke BBG tidak efektif.

Budi mengklaim, setiap satu SPBG bisa melayani sekitar 1.000 converter kit dan untuk pengadaannya tahun ini masih mengandalkan impor. Nantinya, kewenangan impor akan diberikan kepada industri yang memiliki rencana untuk industrialisasi converter kit.

“Tapi kami mengharapkan pengadaan converter kit bisa dilakukan industri lokal,” ujar Budi.

Tahun ini wilayah Jabodetabek ditargetkan memiliki sekitar 20 SPBG guna meningkatkan program konversi BBM ke BBG.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo menyatakan, pemerintah mengirimkan tim studi banding ke luar negeri untukmempelajari konversi BBM ke gas buat transportasi darat dan laut.

“Kami akan kirim tim ke Shell di Belanda, Norwegia dan Amerika Serikat untuk belajar konversi BBM ke BBG untuk kapal,” kata Susilo.

Sementara untuk pasokan gas, Susilo mengaku terdapat alokasi gas sebesar 35 juta standar kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD) hingga 50 MMSCFD untuk gas transportasi. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA