Pemangkasan
rating itu dilakukan karena S&P melihat perkembangan ekonomi Indonesia mengalami penurunan. Seperti dikutip
Bloomberg, S&P kini menempatkan
Sovereign Credit Rating Indonesia pada peringkat BB+ untuk jangka panjang dan B untuk jangka pendek.
Rating tersebut satu tingkat di bawah BBB- atau biasa disebut
investment grade rating (layak investasi). Dengan kata lain, Indonesia makin menjauh dari peringkat
investment grade.
Disebutkan, salah satu penyebab penurunan peringkat itu karena tinggi defisit anggaran. Salah satu penyebabnya gara-gara persoalan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tak kunjung dinaikkan. Harga jual BBM subsidi di Indonesia dinilai terlalu murah. Lebih murah dari harga normal sehingga pemerintah menghabiskan ratusan triliun rupiah demi menutupi selisih harga tersebut alias menambah subsidi.
Analis utama S&P untuk Indonesia Agost Bernard mengatakan, revisi tersebut terjadi karena terdapat pelemahan implementasi kebijakan yang mengurangi dukungan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi.
“Selain itu kondisi eksternal perekonomian juga mengalami kerentanan yang ditunjukkan oleh defisit transaksi berjalan serta peningkatan utang luar negeri sektor swasta,†beber Bernard.
Menanggapi turunnya peringkat tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution tetap yakin ke depan perekonomian Indonesia akan menunjukkan kinerja kuat di tengah krisis keuangan dan ekonomi global.
“Kami yakin bahwa ekonomi Indonesia mampu menunjukkan kinerja yang kuat di tengah krisis keuangan dan ekonomi global, kata Darmin, kemarin.
Menurut Darmin, BI akan secara konsisten menempuh kebijakan
moneter secara berhatihati guna memelihara kestabilan makro ekonomi. Dengan demikian, ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang tepat. “Gerakan ekonomi nasional ini masih
on the track,†kata Darmin.
Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis memastikan, Indonesia masih menjadi negara yang aman untuk investasi. Karena itu, pihaknya tak akan terpaku dengan penurunan
rating S&P.
“Fitch dan Moody’s masih menetapkan peringkat Indonesia di
Investment Grade. Bahkan Survey lembaga riset Nielsen untuk Triwulan 1-2013 menyebut Indonesia sebagai
the most confident consumers in the world, melebihi optimisme di India, Thailand dan Brazil,†kata Azhar kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Pengamat ekonomi Ahmad Erani mengatakan, penilaian lembaga pemeringkat ekonomi tidak perlu dicemaskan. Dia melihat, saat ini kondisi perekonomian masih berjalan dengan baik.
“Kinerja ekonomi jangan didasarkan pada ukuran naik dan turunnya peringkat ekonomi. Buat saja kebijakan dan melaksanakannya dengan acuan kepentingan dan kondisi rill ekonomi.â€
Dicabutnya peringkat Indonesia dari
investment grade oleh S&P membuat kepercayaan diri investor berkurang. Beberapa investor asing memilih keluar sejenak dari lantai bursa. Jumat (3/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 68,563 poin (1,37%) ke level 4.925,483.
Rupiah ikut melemah ke level Rp 9.740 per dolar AS pada akhir pekan ini. Padahal, pada perdagangan kemarin, rupiah sempat menguat di level Rp 9.728. Jumat (3/5), perdagangan rupiah ditutup di level Rp 9.735 per dolar AS. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: