Ekonom menilai, Mei dan September waktu yang paling tepat bila ingin menaikkan harga BBM karena di kedua bulan itu inflasi diprediksi rendah.
Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo mengungkapkan, pihaknya banyak mendapatkan pengaduan dari masyarakat. Mereka mengeluh biaya kebutuhan hidup sudah merangkak naik padahal harga BBM belum naik.
“Pengaduan itu bermacam-macam. Ada yang mengadukan naiknya harga pangan, biaya kontrakan dan biaya transportasi. Ini menunjukkan sudah banyak orang mulai melakukan spekulasi, ungkap Sudaryatmo kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Dia meminta pemerintah segera bersikap tegas agar masyarakat mendapatkan kepastian. Alih-alih bersikap tegas, katanya, pemerintah terkesan ragu mengambil kebijakan. Sebab, pemerintah bilang akan segera berkoordinasi dengan DPR.
“Seharusnya, bila sudah ingin menaikkan harga BBM, pemerintah berani mengambil keputusan,†cetus Sudaryatmo.
Selain harga barang dan jasa naik, menurutnya, saat ini penimbunan BBM sudah makin marak.
“Kami juga dapat laporan dari masyarakat banyak orang sekarang membeli BBM pakai derijen,†kata Sudaryatmo.
Saat ditanya besaran kenaikan BBM yang ideal, dia menyebut tidak lebih Rp 1.500 per liter. “Harga Rp 6.000 per liter itu cukup realisitis meskipun saya tahu, kenaikan itu akan dapat protes keras dari masyarakat,†ujarnya.
Pengurus YLKI Husna Zahir meminta, kementerian terkait bisa mengatasi masalah spekulasi harga barang dan jasa agar masyarakat tidak makin dirugikan.
“Spekulasi harga berpotensi terjadi karena produsen secara psikologis tertekan dengan rencana kenaikan harga BBM. Pemerintah ya harus bisa kontrol itu,†katanya.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Aris Yunanto menyarankan, Mei dan September adalah momentum paling baik untuk menaikkan harga BBM. Alasannya, di kedua bulan itu diprediksi inflasi rendah dibanding bulan lainnya.
“Kalau bulan Juni sedang banyak pengeluaran untuk biaya sekolah dan ketemu bulan puasa. Kemudian Agustus Lebaran, inflasinya masih tinggi. Bulan September yang cenderung rendah,†usul Aris di Jakarta, kemarin.
Untuk Oktober, lanjutnya, ada momentum pelaksanaan ibadah haji. Sedangkan November dan Desember bertepatan dengan waktu bagi dunia usaha melakukan pembayaran pajak dan masyarakatmempersiapkan perayaan Tahun Baru.
Aris mengatakan, berapa pun kenaikan harga BBM, pasti akan menyebabkan inflasi. Kalau pemerintah memutuskan mengambil kebijakan menaikan harga BBM, maka harus berani mengorbankan kenaikan inflasi.
Rencana kenaikan harga BBM disampaikan Presiden SBY, belum lama ini. Namun sayang, Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu tidak menyebutkan besaran dan kapan kenaikan dilakukan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, kemungkinan harga BBM akan naik bulan Juni.
Menurut Hatta, pemerintah akan menyiapkan program jaring pengaman sosial untuk meringankan beban ekonomi rakyat miskin. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: