Keuntungan Pengusaha Makanan Jeblok 5 Persen

Harga Bawang Tinggi Sekali, Situasi Bisa Kacau

Minggu, 17 Maret 2013, 07:51 WIB
Keuntungan Pengusaha Makanan Jeblok 5 Persen
ilustrasi, Bawang
rmol news logo Dampak mahalnya harga ba­wang ternyata cukup mempenga­ruhi penghasilan usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di sektor makanan dan minuman.

Ketua Umum Gabungan Pengu­saha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman meng­­ung­kapkan, ba­nyak anggotanya mengeluhkan lonjakan  harga bawang. Karena ko­moditas itu termasuk bahan yang banyak digunakan untuk pem­buatan makanan.

“Mereka berharap harga ba­wang turun. Karena mahalnya ba­wang mempengaruhi penghasilan mereka,” kata Adhi kepada Rak­yat Merdeka, kemarin.

Pengusaha makanan rata-rata mendapatkan keuntungan 5-10 persen dari modal. Sejak bawang mahal, pendapatan turun menjadi di bawah 5 persen. Menurutnya, pendapatan kurang di bawah lima persen sudah tidak wajar. Karena bisa mempengaruhi pengem­bangan usaha.

Adhi menuturkan, penurunan pendapatan membuat usaha ren­tan alami kesulitan. Pasalnya, pengusaha di sektor makanan dan minuman memerlukan modal untuk inovasi. Menurutnya, ino­vasi di usaha makanan dan minu­man bersifat mutlak dilakukan dalam kurun waktu tertentu ka­rena konsumen mudah bosen. Jika tidak melakukan inovasi, pengusaha rentan bangkrut.

Wakil Ketua Asosiasi Pengu­saha Muda Indonesia (Apindo) Bidang UKM Nina Tursinah mem­berikan informasi yang sama. Dia mengatakan, sudah pasti pengusaha sektor maka­nan dan minuman terganggu dengan ma­halnya harga bawang.

Nina meminta, mahalnya harga bawang tidak boleh dianggap kecil. Karena dampaknya, bisa merebet kemana-mana.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mendesak  Ke­mentan dan Kementerian Perda­gangan melakukan langkah cepat mengatasi kelangkaan dan me­nu­runkan harga bawang. 

“Harga bawang tinggi sekali. Situasi kacau, masyarakat di­rugi­kan. Ini harus diatasi segera,” kata politisi Demokrat ini.

Herman melihat, ada dua pe­nye­bab kemungkinan harga ba­wang mahal. Pertama, murni faktor ke­lang­kaan. Dan kedua, per­­­mainan se­kelompok pengu­saha yang me­mainkan harga. Her­­man meminta, pemerintah me­nyelidikinya. Dite­gaskan, bila har­­ga ba­wang mahal karena ada peng­u­saha yang sengaja memain­kan harga. Untuk itu, pe­merintah perlu meng­ambil tinda­kan tegas. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA