Harga Bawang Melonjak, UKM Daerah Bangkrut

Pemerintah Didesak Segera Turun Tangan

Sabtu, 16 Maret 2013, 08:33 WIB
Harga Bawang Melonjak, UKM Daerah Bangkrut
ilustrasi, Bawang
rmol news logo .Kelangkaan dan mahalnya harga bawang telah membuat dunia usaha kelojotan. Di sejumlah daerah, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang mengandalkan bahan baku dari komoditas tersebut berhenti beroperasi. Bahkan, sebagian terancam bangkrut.

Di Kuningan, Jawa Barat, ter­pantau ada puluhan industri ke­cil yang memproduksi ba­wang goreng telah berhenti ber­o­pe­ra­si. Penyuluh industri Agro Di­nas Perindustrian dan Perda­ga­ngan Kabupaten Ku­ningan Fidi Adi Nurjalil me­nyatakan, pelaku usaha itu berhenti berpro­duksi karena kesulitan men­dapatkan ba­han baku.

“Sejak harga bawang merah naik menjadi Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram, perla­han-lahan industri bawang go­reng pun berhenti beroperasi,” curhat Fidi, kemarin.

Selain pelaku usaha bawang go­reng, pengrajin kerupuk di Gre­­sik, Jawa Timur, juga terpu­kul dengan mahalnya harga ba­wang. Pasalnya, komoditas terse­but men­jadi salah satu bahan ba­ku utama pembuatan krupuk. Sam­pai kini, terhitung ada 17 peng­rajin di Desa Klangonan Ke­ca­matan Kebomas, Kabupaten Gre­sik, mengurangi produksinya untuk menekan pengeluaran.

Salah satu pengrajin krupuk, Nur Aini mengaku kha­watir akan bangkrut bila harga ba­wang ti­dak segera turun. “Kalau me­lam­bung terus, kami bisa gu­lung ti­kar,” ke­luhnya di Gre­sik, ke­marin.

Akibat berkurangnya hasil pro­­duksi, Nur kini tidak mampu me­menuhi permintaan para pe­langgan setianya yang tersebar di berbagai kota.

Dije­laskannya, pa­da kondisi normal, seorang peng­rajin keru­puk rata-rata mam­pu mempro­duksi seba­nyak 30 kuin­tal per minggu. Na­mun, sejak harga ba­wang melon­jak, para perajin me­nurun­kan pro­duksi hanya men­jadi 15 kg per minggu.

Menurutnya, peng­rajin tidak berani mengambil opsi menaik­kan harga jual untuk men­siasasti kenaikan harga bahan baku. Se­bab, tindakan itu dinilai terlalu berisiko. Pelanggan dikhawatir­kan pindah ke produsen lain.

Nasib serupa dialami pengrajin bawang goreng di Tasikmalaya.  Seorang pengrajin di daerah itu, Edi, mengatakan, sudah tiga ming­gu tidak produksi. Empat orang anak buahnya kini prak­tis  kini menggangur. Sebe­lum harga ba­wang naik, Edi rata-rata mampu mempro­duksi ba­wang goreng tu­juh kuin­tal per hari.

 Edi mengisahkan, dia sudah men­jadi produsen bawang go­reng 10 tahun. Dalam kurun wak­tu itu, baru pertama kali dia  ber­henti bero­perasi.

Wakil Sekretaris Jenderal Aso­siasi Pengusaha Indonesia (Apin­­do) Franky Sibarani meminta pe­merintah bertanggung jawab ter­hadap dampak yang diakibat­kan mahalnya harga bawang. Se­lain menurunkan harga, menurut­nya, pemerintah harus membantu ke­langsungan UKM yang meng­alami kesulitan.

“Mereka yang terancam bang­krut harus dibantu agar tetap bisa jalan. Apalagi mem­bantu UKM merupakan kewa­jiban pemerin­tah,” kata Franky kepada Rakyat Merdeka di Ja­karta, ke­ma­rin.

Franky meminta, pemerintah bisa lebih cepat menormalkan harga bawang. Sebab, semakin lama stabilisasi harga dilaku­kan, maka bakal semakin ba­nyak UKM yang gulung tikar.

Harga ba­wang melonjak ber­kali-kali lipat dua pekan bela­ka­ngan ini. Harga bawang putih  di pasaran sampai menembus Rp 80 ribu per kg. Sedangkan harga bawang merah Rp 50 per kg. Har­ga normal kedua jenis ba­wang itu sebelumnya hanya Rp 10-15 ribu per kg. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA