Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) mengingatÂkan Kepala Satuan Kerja KhuÂsus Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini lebih memÂprioÂrÂitaskan pasokan gas dalam neÂgeri, baik untuk pembangkit lisÂtrik maupun industri dalam negeri karena memberikan damÂpak yang besar terhadap perekonomian.
“Selama ini gas kebanyakan diekspor,†kata Ketua DeparÂtemen Energi DPP KNPI Arif Rachman di Jakarta.
Di lain pihak, lanjut Arif, daeÂrah penghasil gas seperti KaÂlimantan, Aceh dan Papua elekÂtrifikasi listriknya di bawah 50 persen dan industri tidak tumÂbuh di sana. Ini membuat beÂberapa sektor ekonomi tidak berkemÂbang yang akhirnya menimÂkan ketidakadilan.
Sebelumnya, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik meminta SKK MiÂgas yang dulu bernama BP MiÂgas menghilangkan cap pro asing yang selama ini melekat.
“Ada kesan di masyarakat bahwa SKK Migas terlalu pro asing, harus dicegah,†cetus Wacik.
Menurut Wacik, SKK Migas harus memberikan ketegasan bahwa perusahaan migas naÂsional akan menjadi prioritas dalam eksplorasi minyak dan gas bumi di Indonesia.
“Perusahaan nasional harus dapat porsi yang besar di neÂgaÂra kita. Tapi investasi asing teÂtap dibutuhkan untuk meÂnunÂjang modal dan teknologi,†jelas menteri asal Partai DeÂmokrat ini.
KNPI juga mengimbau SKK Migas menaikkan kemÂbali lifÂting/produksi minyak yang seÂlama 5 tahun terakhir menurun.
“Kita harapkan SKK MiÂgas dapat menggiatkan kemÂbali kegiatan eksplorasi sehingga cadangan migas nasional bisa naik. Ini sangat penÂting untuk tabungan generasi mendatang,†jelas Arif.
Menurut Arif, SSK Migas juga perlu mengendalikan cost recovery, ditengah merosotnya produksi minyak. Ini patut diÂwaspadai terjadi pemborosan besar-besaran di segala lini.
“SKK Migas harus mampu memastikan investasi di bidang migas bisa berjalan dengan baik. Selain itu harus memÂbeÂrikan manfaat nyata dan sumÂbangan besar ke daerah yang punya potensi migas,†ucapnya.
Arif menambahkan, KNPI sangat berharap SKK Migas mampu menjaga independensi dan profesionalitas dengan tidak melayani kepentingan partai partai untuk dijadikan sumber logistik. Hal ini mengingat 2013 dan 2014 adalah tahun politik menjelang Pemilu. [Harian Rakyat Merdeka]