Pasar Konstruksi Masih Dikuasai Kontraktor Besar

Rabu, 23 Januari 2013, 08:53 WIB
Pasar Konstruksi Masih Dikuasai Kontraktor Besar
ilustrasi
Kecil Besar

rmol news logo Gabungan Pelaksana Kon­struk­si Nasional Indonesia (Ga­pensi) memprediksi, pasar kon­struksi nasional akan tumbuh sekitar 15 persen tahun ini.

“Prediksi kami seperti itu. Kalau 2012 nilai kapitalisasi konstruksi nasional hanya Rp 360 triliun, tahun ini akan tem­bus Rp 400 triliun,” kata Ketua Umum Gapensi Soehar­sojo di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, prediksi terse­but dikarenakan pertumbuhan ekonomi nasional tetap tum­buh. Ditambah kebutuhan pem­bangunan untuk proyek in­fra­struktur meningkat dari tahun ke tahun. “Kuenya besar sekali dan ini akan berlangsung terus hingga beberapa tahun ke de­pan,” ungkapnya.

Soerharsojo juga meminta kepada pihak terkait agar pasar konstruksi yang demikian besar itu bisa dioptimalkan untuk ke­pentingan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.”Kami perlu du­kungan penuh, khususnya oleh pemerintah,” katanya.

Gapensi mengakui, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Salah satunya, perlunya rantai pasok kon­s­truksi nasional diintegrasikan secara utuh.

“Kontraktor pada berbagai kelas baik besar, menengah dan kecil belum saling bermitra dan berkolaborasi yang saling me­nguntungkan,” keluhnya.

Akibatnya, lanjut dia, dari segi penguasaan pangsa pasar konstruksi, sampai saat ini se­bagian besar atau 85 persen ni­lai pasar konstruksi dinikmati oleh kontraktor non kecil yang berjumlah 13 persen dari total kontraktor nasional sebanyak 182.800 badan usaha. Sedang­kan 15 persen nilai pasar kon­struksi diperebutkan oleh kon­traktor kecil yang ber­jumlah 87 persen.

“Yang besar idealnya jadi pemimpin yang menggandeng kontraktor kelas menengah dan kecil. Ini namanya membentuk rantai pasok konstruksi nasio­nal, termasuk untuk melawan kekuatan asing,” tandasnya.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto menga­takan, masih banyak masalah yang perlu diperhatikan dari berbagai pihak. Misalnya, ran­tai pasok konstruksi na­sional saat ini belum terinte­grasi se­cara utuh. Pelaku usaha jasa konstruksi dari berbagai skala usaha terlihat belum saling bekerja sama dalam suatu mo­del kemitraan yang saling me­nguntungkan.

Saat ini posisi kontraktor di skala kecil masih berada pada posisi yang belum seimbang dalam sistem sub kontraktor dengan perusahaan besar. Pa­dahal, kata Djoko, data na­sio­nal menunjukkan dari se­lu­ruh jumlah kontraktor 182.800 ba­dan usaha, yang memiliki kua­lifikasi kecil 87 per­sen, me­ne­ngah 12 persen dan besar ha­nya 1 persen. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA