Disokong BUMN Dan SUN, Rupiah Masih Kurang Greng

Senin, 21 Januari 2013, 07:57 WIB
Disokong BUMN Dan SUN, Rupiah Masih Kurang Greng
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo .Akibat Bank Indonesia (BI) telat melakukan intervensi pa­sar, selama seminggu rupiah loyo alias kesulitan menguat.

Perge­ra­kan kurs nasional ter­hadap dolar berkisar dari Rp 9.650-9.690 per dolar AS. Tran­saksi yang dila­kukan antar bank pun belum ampu untuk menge­rek nilai tukar rupiah.

Analis Trust Securities Reza Priyambada memprediksi, nilai tukar domestik terhadap do­lar AS dapat bergerak menguat. Hal itu dikarenakan adanya per­nya­taan dari Menteri BUMN Dah­lan Is­kan yang akan berkor­di­nasi de­ngan BI terkait pem­belian dolar AS oleh BUMN.

Pernyataan itu bisa berdampak positif pada rupiah. Sebab, pem­belian dolar AS oleh BUMN yang dilakukan secara langsung tanpa melalui pasar, dapat me­ngurangi tingkat volatilitas.

“Penguatan juga bakal dido­rong kabar positif Lembaga Mo­ne­ter Internasional (IMF) yang me­nye­tujui pencairan dana bailout untuk Spanyol dan Por­tugal serta per­kiraan positifnya rilis Produk Do­mes­tik Bruto (PDB) China,” kata­ Reza di Ja­karta, Jumat (18/1).

Dia melanjut­kan, rupiah juga mendapat sentimen positif dari laporan ‘Beige Book AS’ dimana angka inflasi masih ren­dah di le­vel 1,7 persen Year on Year (YoY) se­hingga ma­sih mem­buka pe­luang stimulus lanjutan.

Terserapnya lelang Surat Utang Negara (SUN) Selasa (15/1) juga masih menjadi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS.

“SUN yang terserap pada hari lalu masih menjadi sentimen po­sitif bagi nilai tukar domes­tik. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) ju­ga masih menjaga fluk­tuasi nilai tukar domestik,” ungkapnya.

Pengamat valas dari Bank Him­­punan Saudara Rully Nova menjelaskan, pelaku pasar asing tengah melakukan ekspansi por­tofolio di pasar keuangan ne­ga­ra-negara berkembang.

“Sentimen eksternal terkait de­ngan January Effect (pengua­tan pasar setiap bulan Januari) bia­sanya dalam kondisi itu fund ma­nager meres­trukturisasi aset di awal tahun untuk penempatan por­tofolio­nya,” ucapnya.

Analis Valas Rahadyo Anggoro Widagdo menuturkan, pergera­kan rupiah terhadap dolar AS di­prediksi mengalami pelemahan hingga ke level Rp 9.700-Rp 9.750 selama satu minggu ini.

Menurut dia, BI harus segera mela­kukan intervensi untuk mem­­bantu menahan laju pelema­han rupiah yang semakin cepat.  

“Jika BI tidak melakukan inter­vensi diperkirakan nilai tukar ru­piah akan berada di level 9.900 karena posisi rupiah saat ini su­dah ditutup di level Rp 9.880-9.900 per dolar AS,” ucapnya.

Menurut Rahadyo, para pe­laku pasar memiliki ekspektasi inflasi yang se­makin tinggi di 2013 de­ngan pengaruh kenaikan tarif da­sar listrik (TDL). Hal ini juga akan me­ning­­katkan harga bahan pokok.  [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA