.Akibat Bank Indonesia (BI) telat melakukan intervensi paÂsar, selama seminggu rupiah loyo alias kesulitan menguat.
PergeÂraÂkan kurs nasional terÂhadap dolar berkisar dari Rp 9.650-9.690 per dolar AS. TranÂsaksi yang dilaÂkukan antar bank pun belum ampu untuk mengeÂrek nilai tukar rupiah.
Analis Trust Securities Reza Priyambada memprediksi, nilai tukar domestik terhadap doÂlar AS dapat bergerak menguat. Hal itu dikarenakan adanya perÂnyaÂtaan dari Menteri BUMN DahÂlan IsÂkan yang akan berkorÂdiÂnasi deÂngan BI terkait pemÂbelian dolar AS oleh BUMN.
Pernyataan itu bisa berdampak positif pada rupiah. Sebab, pemÂbelian dolar AS oleh BUMN yang dilakukan secara langsung tanpa melalui pasar, dapat meÂngurangi tingkat volatilitas.
“Penguatan juga bakal didoÂrong kabar positif Lembaga MoÂneÂter Internasional (IMF) yang meÂnyeÂtujui pencairan dana bailout untuk Spanyol dan PorÂtugal serta perÂkiraan positifnya rilis Produk DoÂmesÂtik Bruto (PDB) China,†kata Reza di JaÂkarta, Jumat (18/1).
Dia melanjutÂkan, rupiah juga mendapat sentimen positif dari laporan ‘Beige Book AS’ dimana angka inflasi masih renÂdah di leÂvel 1,7 persen Year on Year (YoY) seÂhingga maÂsih memÂbuka peÂluang stimulus lanjutan.
Terserapnya lelang Surat Utang Negara (SUN) Selasa (15/1) juga masih menjadi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS.
“SUN yang terserap pada hari lalu masih menjadi sentimen poÂsitif bagi nilai tukar domesÂtik. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juÂga masih menjaga flukÂtuasi nilai tukar domestik,†ungkapnya.
Pengamat valas dari Bank HimÂÂpunan Saudara Rully Nova menjelaskan, pelaku pasar asing tengah melakukan ekspansi porÂtofolio di pasar keuangan neÂgaÂra-negara berkembang.
“Sentimen eksternal terkait deÂngan January Effect (penguaÂtan pasar setiap bulan Januari) biaÂsanya dalam kondisi itu fund maÂnager meresÂtrukturisasi aset di awal tahun untuk penempatan porÂtofolioÂnya,†ucapnya.
Analis Valas Rahadyo Anggoro Widagdo menuturkan, pergeraÂkan rupiah terhadap dolar AS diÂprediksi mengalami pelemahan hingga ke level Rp 9.700-Rp 9.750 selama satu minggu ini.
Menurut dia, BI harus segera melaÂkukan intervensi untuk memÂÂbantu menahan laju pelemaÂhan rupiah yang semakin cepat.
“Jika BI tidak melakukan interÂvensi diperkirakan nilai tukar ruÂpiah akan berada di level 9.900 karena posisi rupiah saat ini suÂdah ditutup di level Rp 9.880-9.900 per dolar AS,†ucapnya.
Menurut Rahadyo, para peÂlaku pasar memiliki ekspektasi inflasi yang seÂmakin tinggi di 2013 deÂngan pengaruh kenaikan tarif daÂsar listrik (TDL). Hal ini juga akan meÂningÂÂkatkan harga bahan pokok. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: