Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku sudah melaÂkuÂkan monitor kawasan industri.
“Belum ada yang kena banjir seÂhingga sentra produksinya pabrik tersebut jadi macet,†papar HidaÂyat sebelum menghadiri rapat koorÂdinasi (rakor) soal PT IndoÂnesia Asahan Aluminium (InaÂlum) di Kantor Kementerian KoorÂdinator Bidang PerekonoÂmian, Jakarta, Jumat (18/1).
Dia mengungkapkan, hingga kini pihaknya belum menghiÂtung berapa besar kerugian akiÂbat banÂjir. Namun, dalam mingÂgu ini dia akan bertemu dengan penguÂsaha untuk menginÂvenÂtarisasi damÂpak banjir serta menÂcari solusiÂnya. “Kalau hujan seÂperti ini saya kira bukan natural disaster,†ujar Hidayat.
Kepala Badan Koordinasi PeÂnanaman Modal (BKPM) Chatib Basri menegaskan, banjir besar yang melanda Jakarta belum mengganggu investasi. Dia lanÂtas mengingatkan, apa yang terjadi di Jakarta belum separah banjir Thailand pada 2011 lalu.
“Yang dilihat pertama adaÂlah seberapa jauh dampaknya. KaÂrena, kita bicara hari ini meÂmang mungkin beberapa kegiatan terÂganggu, tapi saya lihat damÂpakÂnya belum begitu besar samÂpai mengganggu investasi,†tuturnya.
Chatib mengakui,banjir besar kemarin memang menjadi soroÂtan dunia. Namun, hal serupa juÂga terjadi di sejumlah negara. Dia meyakini, investor telah memÂperÂtimbangkan semua hal sebeÂlum berinÂvestasi ke Indonesia termaÂsuk bencana banjir.
Berbeda dengan hasil monitor Menperin, banjir yang mengeÂpung kawasan industri Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) Jakarta, membuat potensi keÂrugian bagi perusahaan di kaÂwasan tersebut. Selain memutus akses kegiatan distribusi baÂrang, banjir juga menghentikan kegiaÂtan produksi maupun perÂgudagaÂngan di JIEP.
“Dengan asumsi satu perusaÂhaan perputarannya Rp 1 miliar, maka perusahaan jumlahnya 375 perusahaan diperkirakan sekitar Rp 100-150 miliar loss yang diÂtimbulkan banjir hari ini ,†kata Kepala Humas PT JIEP Achmad Maurizal.
Achmad mengatakan, potensi kerugian tersebut diperkirakan maÂsih lebih besar dari kenyataanÂnya. Pasalnya, seÂbagian besar dari 375 perusahaan di JIEP berhenti beroperasi kaÂrena banjir dan para pekerja pun baÂnyak yang tergÂanggu untuk maÂsuk maupun keluar kawasan. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: