Pengusaha Tekor Rp 1 Miliar Per Jam

Banjir Di Jakarta Meluas, Direksi Bursa Bakal Stop Transaksi

Sabtu, 19 Januari 2013, 08:28 WIB
Pengusaha Tekor Rp 1 Miliar Per Jam
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo .Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) mempertimbangkan untuk menghentikan transaksi saham jika bencana banjir di Jakarta terus meluas. Kerugian pengusaha akibat bencana banjir ditaksir mencapai Rp 1 miliar per jam.

Hujan merata yang terjadi di seluruh wilayah Jakarta telah me­nyebabkan banjir di berbagai tempat. Bencana banjir bukan ha­nya berimbas pada perdaga­ngan di pasar riil, namun juga di pasar saham.

Memang, banjir kemarin tidak menghentikan per­dagangan di BEI. Namun, BEI menye­but, jika banjir makin meluas, pihak­nya bisa secara mendadak meli­burkan perda­gangan saham.

“Sementara perdagangan ma­sih jalan seperti biasa, kalau ada pengumuman terbaru akan kami kabari,” ungkap Direktur Perda­gangan dan Pengaturan Anggota BEI Samsul Hidayat via SMS di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, dia mengakui, kegiatan yang dilakukan ang­gota bursa mengalami ganggu­an teru­tama operasionalnya. Se­lain itu, kondisi ini membuat be­berapa kegiatan berjalan na­mun dengan persyaratan tertentu.

“Jika kea­daan memburuk dan dinyatakan sebagai situasi daru­rat oleh pe­me­rintah dan pihak berwenang, kami bisa saja tidak melakukan perdagangan. Kami juga akan memberikan pemberi­tahuan se­segera mungkin bila per­daga­ngan besok ditiadakan kepada setiap anggota bursa dan inves­tor,” jelas Samsul.

Ini bukan kali pertama BEI menghentikan perdagangan. BEI pernah menghentikan perdaga­ngan lantaran adanya ledakan bom. Gedung BEI yang saat itu bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ) dikagetkan oleh ledakan bom di lantai P2 ge­dung BEJ pada 13 September 2000.

Hitung Kerugian

Kalangan pengu­saha mulai menghitung kerugian akibat ben­cana banjir. Hal ini terkait dam­pak yang dirasakan pengu­saha. Mulai dari terganggu­nya distri­busi barang dan akti­vitas logistik, tersendatnya tran­saksi keuangan dan bisnis, ter­sen­datnya proses produksi dan ak­tivitas kantor yang tidak berja­lan sebagaimana mestinya.

“Ini akibat karyawan yang ti­dak masuk kerja. Sebagai pusat perekonomian nasional, eko­no­mi Jakarta sangat terganggu de­ngan musibah banjir. Apalagi  sam­pai saat ini pemerintah be­lum punya solusi yang pasti un­tuk menga­tasinya,” curhat Wakil Ketua Kamar Dagang Dan In­dustri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Siman­jorang.

Dia memproyeksi, kerugian eko­nomi Jakarta jika diakumu­lasikan secara umum bisa men­ca­pai Rp 1-1,5 miliar per jam.

“Pe­ngu­saha sangat berharap Pemprov DKI Jakarta dengan du­kungan penuh peme­rin­tah pusat, sudah harus segera me­rumuskan dengan serius dan fo­kus untuk menyelesaikan per­masalahan banjir di ibukota, de­ngan target waktu yang jelas,” tekan Sarman.

Dikatakan, bencana ban­jir sa­ngat merugikan dunia usaha dan masyarakat dan akan meng­anggu pertum­bunan ekonomi Ja­karta.

“Keseriu­san Gubernur DKI Jakarta diuji saat ini, bagaimana agar permasalahan Jakarta yang sudah bertahun-tahun tidak ter­selesaikan itu bisa ditangani de­ngan baik,” tegasnya.

Di samping kerugian ekono­mi, Sarman menilai, perfor­man­ce Ja­karta sebagai ibukota ne­gara RI di mata dunia, juga harus dijaga. Apalagi ketika banjir su­dah me­masuki jalan utama se­perti Bun­daran HI, Jl Tham­rin, Is­tana Negara dan Jl Sudirman.

“Kita berharap pe­merintah pu­sat memberikan du­ku­ngan pe­nuh kepada Pemprov DKI Ja­karta un­tuk mengatasi penyele­saian ban­jir yang sangat merugi­kan kita se­mua. Bila perlu, Pre­siden mem­bentuk Tim Ter­padu yang dapat mengkoor­di­nasikan berbagai pembangunan sarana dan  prasa­rana serta infrastruktur sehingga, Jakarta terbebas dari banjir,” seru Sarman.

Analis Indo Premier Securities Ikhsan Binarto memprediksi, be­berapa saham di sektor jasa di­khawatirkan akan terkena imbas cukup besar akibat banjir yang melanda ibukota.

“Karena saham-saham emiten di sektor jasa banyak bergantung pada aktivitas warga di ibukota. Sektor jasa menjadi hal yang pa­ling dominan,” ujarnya, kemarin.

Untuk itu, pihaknya menya­ran­­kan agar para pelaku pasar me­waspadai saham-saham di sektor pertambangan, khusus­nya batubara. Sebab, komoditas ini di­anggap rentan dengan kon­disi hujan yang menyerang be­berapa daerah di Indonesia.

“Selama ini pengiriman batu­bara lewat laut. Hujan yang cu­kup sering terjadi, dikhawatirkan akan berimbas pada penurunan produksi batu bara sehingga de­ngan gelom­bang tinggi, mereka tak bisa mengangkut batubara­nya. Selain sulitnya akses ke lo­kasi tam­bang,” jelasnya.

Analis PT Bahana Securities Harry Su menuturkan, bencana banjir di ibukota akan berdampak pada saham-saham pelaku ritel, khususnya PT Rama­yana (RALS) karena warga Jakarta diimbau untuk tidak ke­luar rumah.

“Kami mereko­men­dasi­kan hold untuk saham ini dengan tar­get harga Rp 1.350,” kata Harry.

Selain ritel, bencana banjir juga akan berdampak bu­ruk untuk sa­ham taksi dan maska­pai pe­ner­bangan karena banyak pe­ner­ba­ngan yang dibatalkan. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA