PT Angkasa Pura (AP) II berenÂcana menjajaki peluang penaÂwaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Langkah ini ditempuh sebagai salah satu cara pendanaan pengembangan Terminal 3 Bandara InternaÂsional Soekarno Hatta (Soeta).
Wakil Direktur Utama AP II Rinaldo J Aziz mengatakan, sumber pembiayaan pengemÂbangan Terminal 3 tahap awal berÂasal dari kas internal, obliÂgasi, dan IPO.
“Tahap pertama Terminal 3 memerlukan biaya sekitar Rp 6-7 triliun dan pengemÂbanganÂnya diperkirakan selesai dua sampai tiga tahun,†ujarnya.
Menurut Rinaldo, dana Rp 6-7 triliun sudah termasuk peÂngemÂbangan apron. Untuk TerÂminal 3 hanya membutuhkan biaya seÂkitar Rp 4,5 triliun. Bila daÂlam waktu dua sampai tiga taÂhun ke depan pengembangan TerÂminal 3 belum tuntas, maka opsi yang dipilih salah satunya IPO.
“Kalau dua sampai tiga tahun kami masih mampu mengguÂnakan dana internal. Setelah itu, kalau pembangunannya berlanÂjut bisa jadi kami memilih obliÂgasi, jual saham atau pinjaman perbankan,†ungkapnya.
Saat ini, ketiga opsi tersebut masih terus dikaji. Bila mengÂguÂnakan pinjaman perÂbankan, ia berharap bunga yang dibeÂbankan kepada perseroan lebih ringan. Begitu juga dengan peÂnerbitan obligasi.
“Namun, bila kami memÂbangun Terminal 3 dan lainnya dalam waktu yang bersamaan, tentu obligasi menjadi pilihan utama,†ujarnya.
Dalam dokumen konektivitas sebagai kunci suksesnya perluaÂsan ekonomi untuk kesejahÂteraan di seluruh wilayah tanah air, pengembangan terminal dengan kapasitas saat ini 22 juta penumpang per tahun (JPT), utilitasnya 51,5 JPT.
Terminal 1 nantinya dapat menampung 18 JPT, Terminal 2 sebanyak 19 JPT, Terminal 3 sebanyak 25 JPT serta Terminal 4 sekitar 25 JPT. Nantinya, setelah selesai dibangun akan dapat menampung 87 JPT.
Pengembangan Terminal 3 seluas 333.000 meter per segi menjadi 367.000 meter persegi. Anggaran pengembangan banÂdara sampai 2014 sekitar Rp 4,75 triliun. Untuk 2012, anggaÂrannya mencapai Rp 100 miliar.
Selanjutnya, pembangunan kargo. Pada 2011, menampung sebanyak 504.000 ton. Pada 2020, diharapkan dapat menÂjadi 1,5 juta ton.
Saat ini, domestik menguasai 47 persen dan internasional 53 persen. Pengembangan kargo dan apron seluas 189.000 meter perseÂgi. Anggaran yang diperÂsiapkan hingga 2014 sekitar Rp 3 triliun. Untuk 2012, angÂgarÂannya Rp 150 miliar. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >