.Selama masalah penyelundupan BBM subsidi seperti solar dan bensin tidak diselesaikan, maka berapapun kuota BBM yang diminta pemerintah bakal jebol terus. Penggarong BBM mesti disikat.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menÂcatat, sepanjang Januari-Juni 2012 terjadi 396 kasus peÂnyeÂlundupan BBM subsidi yang berÂhasil tertangkap tangan. Hal ini terjadi karena satu faktor, yaitu disparitas harga atau harga BBM subsidi jauh lebih murah dari BBM non subsidi (pertamax cs).
“Saya kira permasalahan kita sekarang bukan operasional pemÂÂbatasan BBM atau tambah kuota karena jatahnya jebol atau lainÂnya. Melainkan di balik seÂmua itu, balik lagi ke titik utama, peÂnyebab semua ini disebabkan disÂparitas harga antara BBM subsidi dan non subsidi terlalu jauh,†kata Wakil Menteri EnerÂgi Sumber Daya Mineral (WaÂmen ESDM) Rudi Rubiandini di Jakarta, pekan lalu.
Seorang pejabat di KemenÂterian ESDM menginformasikan bahwa kementerian termasuk BPH Migas seolah tak berdaya menghadapai ganasnya aksi peÂnyelundupan BBM subsidi. Aksi tersebut, kataÂnya, dilakukan di semua tempat, baik daratan mauÂpun lautan. Baik di Jakarta mauÂpun di daerah.
“Bayangkan kapal laut yang mengangkut BBM subÂsidi bisa dibajak di tengah laut. Anda tahu lah siapa yang berÂkuasa di temÂpat terÂsebut,†ujarnya.
Posisi BPH Migas, kata sumÂber tersebut, seolah tidak berÂdaÂya. Padahal, anggota badan terÂsebut berasal dari berbagai kalaÂngan. Mulai dari Kejaksaan Agung (Kejakgung), kepolisian, purnaÂwirawan TNI hingga biroÂkrasi.
“Tidak jalan lain untuk meÂnyeÂlamatkan kemelut soal BBM subÂsidi ya menaikkan harga benÂsin dan solar. Ini cara paÂling jiÂtu,†tukas sumber tersebut.
Menurut Rudi, dengan selisih harga keduanya yang terlampau jauh, apa yang bisa dilakukan peÂmeÂrintah untuk menahan penyeÂlundupan BBM subsidi baik linÂtas antara negara maupun penÂjualan lintas antara daerah.
“Sulit bagi aparat untuk melinÂdungi BBM subsidi dari aksi peÂnyeleÂweÂnangan. Apa yang bisa kita tahan baik itu penyelundupan linÂtas negara maupun penjualan lintas kita,†katanya.
“Artinya, yang harusÂnya perkeÂbunan dan pertamÂbangÂan saat ini tidak boleh beli BBM subsidi, mereka bisa beli lewat pihak keÂtiga yang memang berÂhak, mobil mewah beli lewat pemÂÂbantunya. Itu semua kreatiÂvitas yang secara moral tidak boÂleh terjadi, tetapi terjadi di negeri ini. Semuanya ingin berlomÂba mendapatkan yang lebih muÂrah,†imbuh Rudi.
Anggota Komisi VII DPR Satya W. Yudha meminta aparat peÂmerintah serius mencegah BBM subsidi digunakan oleh pihak yang tak berhak, khususÂnya industri yang seharusnya mengÂguÂnakan BBM non subsidi.
Politisi Golkar ini meminta pemerintah dengan tegas bisa membasmi kebocoran-kebocorÂan konsumsi BBM subsidi seÂhingga dana yang dikeluarkan untuk subsidi tidak sia-sia dan tepat sasaran.
“Ini menjadi keÂprihatinan kaÂmi. Kalau sekarang kuota akan habis dan pemerintah minta peÂnambahan, itu bukan sesuatu yang susah. Masalahnya sekarang, kita tidak mau BBM subsidi digunaÂkan pihak yang tidak berhak. Berapa pun kuota yang ditamÂbahkan, pasti akan habis. Masih banyak orang kaya menerima subsidi,†kata Satya.
Direktur BBM BPH Migas Djoko Siswanto menyebutkan, DKI Jakarta bakal menjadi proÂvinsi yang pertama kehabisan kuota BBM bersubsidi. “Di KaliÂbaru, Jakarta Utara, banyak truk kalau malam suplai ke kapal yang ilegal,†kata Djoko.
Penyaluran di Jakarta Utara samÂpai akhir Agustus 2012 telah menÂcapai 216.481 kiloliter (KL) padaÂhal kuota sampai Agustus hanya 146.778 KL. Kelebihan kuÂota terÂtinggi terjadi di Jakarta PuÂsat deÂngan over kuota 52,7 persen. SamÂpai akhir Agustus 2012 peÂnyaluran BBM bersubÂsidi di JaÂkarta Pusat sudah menÂcapai 156.333 KL, paÂdahal kuota samÂÂpai akhir tahun 153.559 KL.
Ia mengatakan, penyelundupan yang terjadi di Jakarta banyak yang disalurkan ke daerah-daerah industri di pinggiran Jakarta. DjoÂko mengÂatakan, para pencuri BBM dari luar Jakarta ini memÂbeli pada siang hari lalu diangkut pada malam hari. “KaÂlau kita tongÂkrongin di jalan tol tengÂah malam, pasti ada truk tangki yaÂng nggak jelas hilir mudik. Ini perÂlu dibereskan,†tukas dia. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: