AirAsia berjanji akan memberikan perlawanan yang sengit terhadap Lion Air yang berencana menggarap pasar di Malaysia. Keduanya akan bersaing dalam menurunkan tarif.
Bos AirAsia Tony Fernandes bersumpah akan memberikan masÂÂkapai penerbangan asal InÂdoÂnesia Lion Air ‘rasa’ persaÂingÂan sebenarnya. Ini dikatakanÂnya setelah Lion Air mengÂumumÂkan rencananya bergelut di bisnis penerbangan berbiaya rendah.
Seperti dilansir dari Straits Times, PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) dan National AeroÂspaÂce and Defense Industries (Nadi) Malaysia bekerja sama mengÂoperasikan Malindo AirÂways.
Maskapai patuÂngan antara dua perusahaan ini direncaÂnaÂkan mulai terbang di seluruh wilayah Kuala Lumpur pada Mei tahun depan. Kerja sama ini pun mau tak mau meÂnampar maskapai peÂnerbangan asal Malaysia, yakni AirAsia.
Seperti diketahui, AirAsia telah lama didirikan di Kuala Lumpur. Namun, sang pemilik Tony FerÂnandes, baru-baru ini membuka kantor reÂgioÂnalÂnya di Jakarta serta membeli Batavia Air seÂharga 80 juta dolar AS atau seÂkitar Rp 720 miliar.
“Kami menyambut kedatangÂan mereka (Lion Air). Ini berarti meÂngambil pasar Indonesia juga. Kami bisa memberikan mereka persaingan yang nyata untuk meÂraup pendapatan di Indonesia,†tukas Fernandes seperti disamÂpaikan dari The Edge Financial Daily.
Pengamat penerbangan Alvin Lie mengapresiasi langkah Lion Air yang merangsek ke pasar MaÂlaysia. “Saya salut melihat keÂjelian Lion Air masuk Malaysia,†kata Alvin di Jakarta, kemarin.
Menurut Alvin, Lion melihat potensi bisnis dari pasar penerÂbangan berbiaya murah atau low cost carrier di Malaysia. PoÂtensi ini juga muncul seiring rencana pemberlakuan kebijakan ASEAN Open Sky yang mulai berlaku pada 2015.
Alvin juga mengapresiasi langÂkah Lion Air yang mengÂÂÂgandeng mitra lokal untuk meÂnyasar pasar penerbangan MaÂlaysia. Bersama National AeroÂspace and Defense Industries Sdn Bhd (Nadi), Lion Air memÂbentuk maskapai baru, Malindo Airways, dengan porsi kepeÂmilikan saham masing-maÂsing 49 persen dan 51 persen.
“Dengan adanya asas caboÂtage, masing-maÂsing negeri meÂmiliki kedauÂlatannya sendiri-sendiri. Jadi, MaÂlindo Airways nantinya meruÂpakan perusahaan Malaysia,†kata Alvin.
Bertempur
Persaingan antara AirAsia deÂngan Lion Air ibarat pertemÂpuÂran antara dua produsen pesawat terÂbang terbesar dunia, Boeing dan Airbus. Kompetisi makin memaÂnas setelah kedua maskaÂpai peÂnerbangan murah itu beruÂpaya menÂjelajah markas peÂsaingÂnya.
Lion Air dalam beberapa tahun terakhir bisa dianggap sebagai pelanggan setia pesawat produksi Boeing, Amerika Serikat. Di piÂhak lain, AirAsia meÂmeÂsan seÂbanyak 200 unit Airbus A320 seÂnilai 18 miliar dolar AS.
Ancaman Lion Air yang langÂsung berdampak signifikan bagi perusahaan AirAsia Bhd. SetiÂdakÂnya, harga saham AirAsia Bhd tercatat jatuh 5 persen pada perdagangan awal di bursa saÂham Malaysia. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: