Pemerintah dan DPR diÂminta bergerak cepat, memÂbeÂriÂÂkan gaÂransi mengenai tamÂbaÂhan kuota bahan bakar minyak (bbm) bersubsidi. TanÂpa tamÂbaÂhan kuota, pekan deÂpan, bbm berÂÂÂsubsdi dikhaÂwaÂÂÂtirÂkan hilang dari stasiun peÂngisian baÂhan baÂkar umum (SPBU) di JaÂkarta.
“Kuota sesuai anggaran BBM bersubsidi di Jakarta meÂmang haÂbis pekan depan dan seÂcara naÂsioÂnal habis di bulan Oktober. Untuk kondisi darurat, maka peÂmerintah dan DPR harus mengeÂluarkan tamÂbahan BBM bersubÂsidi. PeÂmerintah dan DPR bisa mengeÂluarÂkan surat jaminan seÂmentara,†kata Wakil Direktur ReÂforminner Institute Komaidi NoÂtoÂÂnegoro di Jakarta, kemarin.
Berdasarkan perhitungan ReÂforminner, kebutuhan konsumsi bbm bersubsdi di level 43 samÂpai 44 juta kiloliter (KL). PadaÂhal, kuota yang ditetapkan dalam APBN tahun ini hanya sebesar 40 juta KL.
Komaidi menyebut, jika kuota habis, Pertamina tidak bisa meÂnyalurkan tambahan bbm berÂsubÂsidi jika tak mendapat perÂseÂtuÂjuan dari DPR dan PemeÂrinÂtah.
“Kalau hanya lisan tentu tiÂdak bisa dijadikan dasar hukum. Untuk itu, perlu dokumen tertulis agar Pertamina bisa menyalurkan BBM bersubsidi. Jadi stok BBM bersubsidi ada, tetapi stok itu kan bukan yang tercantum dalam kuota 2012,†ungkapnya.
Komaidi menyeÂbut, hampir mustahil dilakukan pembatasan BBM bersubsidi di tengah meniÂpisnya pasokan. Yang paling maÂsuk akal adalah menambah jatah.
Berdasarkan perhitungan, jika skenario pemÂbatasan konsumsi BBM bersubÂsidi di SPBU peruÂmahan elite dan jalan tol berÂjalan, maksimal penghematan 1 juta KL. Padahal, perÂtumÂbuhan konÂsumsinya mencapai 4 juta KL. Artinya, dibutuhkan tambahan kuota seÂbesar 3 juta KL.
Ketua HimpuÂnan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi Nasional (Hiswana Migas) Eri PurnoÂmoÂhadi mengatakan, pemerintah dan DPR harus memÂpercepat pemÂÂbahasan dan tidak membiÂarkan kuÂota BBM bersubÂsidi hilang dari SPBU di Jakarta.
Fraksi PDIP mendukung langÂkah peÂmerintah untuk meÂnambah kuota BBM bersubsidi sebanyak 4 juta KL. “Kami menyeÂtuÂjui penamÂbahan kuota BBM berÂsubsidi sebesar empat juta kiloÂliter yang diusulkan pemerinÂtah. Karena itu berpihak pada rakyat,†ujar Ketua Fraksi PDIP Puan MahaÂrani.
Dia menjelaskan pada tahun 2010 lalu PDIP telah menaÂwarÂkan kuota BBM sebesar 43 juta KL pada pemerintah namun ditolak. Pemerintah, lanjutnya, pada waktu itu hanya menyetujui sebesar 40 juta KL. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: