Produk Otomotif Nasional Garap Pasar Negeri Kanguru

Ditargetkan Mampu Pasarkan 10.000 Unit Kendaraan Per Tahun

Kamis, 13 September 2012, 08:23 WIB
Produk Otomotif Nasional Garap Pasar Negeri Kanguru
ilustrasi/ist
Kecil Besar
RMOL.Untuk pertama kalinya, produk otomotif nasional akan masuk ke pasar Australia. Indonesia akan memanfaatkan momentum perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN, Australia dan Selandia Baru (AANZ-FTA).

“Australia menjadi pasar ter­pen­­ting otomotif nasional di ka­was­an regional setelah ASEAN meng­ingat besarnya permintaan oto­motif di Negeri Kanguru ter­se­but,” ujar Direktur Jenderal (Dir­jen) Industri Unggulan Ber­basis Teknologi Tinggi Ke­men­terian Perindustrian (Ke­men­perin) Budi Darmadi di Jakarta, kemarin.

Pasar otomotif di Australia ter­sebut, kata Budi, re­latif besar atau sekitar satu juta unit per ta­hun. Pangsa pa­sar kendaraan di sana di­dominasi produk dari Jepang, Ko­rea Selatan dan Thai­land.

“In­do­nesia ingin mengambil pasar di sana sekitar 5 persen da­lam tempo lima tahun menda­tang atau sekitar 10.000 unit per tahun. Se­be­lum masuk ke sana, kami su­dah menjajaki pasar Aus­tralia se­kitar 3-4 tahun lalu dan pros­pek­nya sangat menjan­jikan. Tapi se­mua harus dikaji se­­­cara kom­prehensif,” paparnya.

Berkaitan dengan produk oto­motif yang akan dipasarkan, lan­jut Budi, pemerintah mengklaim ken­daraan jenis SUV (sport uti­lity vehicle) sangat diminati.

“Kon­­sumen Australia menyu­kai SUV berkapasitas 1.800 cc, se­dangkan produk SUV yang dipro­duksi di Indonesia berka­pa­sitas 1.500 cc,” ujarnya.

Dia menambahkan, penetrasi pasar ke Australia menjadi target lanjutan setelah Indonesia mam­pu melakukan penetrasi pasar otomotif ke sejumlah negara di Amerika Latin, Amerika Tengah dan Timur Tengah.

“Produk oto­motif kita sudah menembus pasar Venezuela, Mek­siko, Mesir, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab,” urainya.

Dengan potensi ini, pihaknya akan memilih strategi mem­­per­kuat industri komponen untuk mendorong pertumbuhan penju­al­an mobil di atas 1 juta unit pada 2014.

“Penguatan struktur indus­tri komponen akan dila­ku­kan dari hulu ke hilir dengan memper­da­lam sistem teknologi serta untuk mengurangi impor sejumlah kom­ponen vital supaya biaya pro­duksi industri perakitan dapat ditekan,” cetus Budi.

Dia mengatakan, pemerintah be­rencana memperkuat struktur in­dustri komponen seiring deng­an target pertumbuhan penjualan mo­bil di dalam negeri yang akan me­nyentuh 1 juta unit. Industri kom­ponen pada lapis 1 (tier 1) ke bawah, strukturnya be­lum sepe­nuh­nya lengkap se­hing­ga pada lapis 1 dan 2 akan diper­kuat de­ngan meningkatkan in­ves­tasi dan perluasan produksi suku cadang.

Ketua Gabungan In­dustri Ken­daraan Bermotor Indonesia (Gai­kindo) Jongkie D Sugiarto meng­ungkapkan, kalau in­dustri oto­mo­tif nasional mau sukses, pe­me­rintah dan Agen Pe­megang Me­rek (APM) harus bekerja sama.

“Pemerintah ja­ngan mengam­bil pajak yang ter­lalu besar se­hingga merugikan produsen,” kata Jongkie.

Menurut Jjongkie, pemerintah banyak mendapatkan sumber pendapatan baik dari biaya balik nama (BBN), pajak kendaraan ber­motor (PKB) atau pajak pen­jualan barang mewah (PPnBM).  

Pihaknya menyambut baik kerja sama perdagangan bebas ­ (Free Trade Agreement/FTA) Indonesia dengan Australia. Eks­por kendaraan dari Indone­sia ke Australia, kata Jongkie, akan dido­minasi oleh jenis SUV dan MPV (multi purpose vehicle).

“Kami berharap masing-masing prinsipal kendaraan bisa berperan secara aktif agar bisa mening­katkan ekspor ke Aus­tralia,” tukas Jongkie. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA