“Australia menjadi pasar terÂpenÂÂting otomotif nasional di kaÂwasÂan regional setelah ASEAN mengÂingat besarnya permintaan otoÂmotif di Negeri Kanguru terÂseÂbut,†ujar Direktur Jenderal (DirÂjen) Industri Unggulan BerÂbasis Teknologi Tinggi KeÂmenÂterian Perindustrian (KeÂmenÂperin) Budi Darmadi di Jakarta, kemarin.
Pasar otomotif di Australia terÂsebut, kata Budi, reÂlatif besar atau sekitar satu juta unit per taÂhun. Pangsa paÂsar kendaraan di sana diÂdominasi produk dari Jepang, KoÂrea Selatan dan ThaiÂland.
“InÂdoÂnesia ingin mengambil pasar di sana sekitar 5 persen daÂlam tempo lima tahun mendaÂtang atau sekitar 10.000 unit per tahun. SeÂbeÂlum masuk ke sana, kami suÂdah menjajaki pasar AusÂtralia seÂkitar 3-4 tahun lalu dan prosÂpekÂnya sangat menjanÂjikan. Tapi seÂmua harus dikaji seÂÂÂcara komÂprehensif,†paparnya.
Berkaitan dengan produk otoÂmotif yang akan dipasarkan, lanÂjut Budi, pemerintah mengklaim kenÂdaraan jenis SUV (sport utiÂlity vehicle) sangat diminati.
“KonÂÂsumen Australia menyuÂkai SUV berkapasitas 1.800 cc, seÂdangkan produk SUV yang diproÂduksi di Indonesia berkaÂpaÂsitas 1.500 cc,†ujarnya.
Dia menambahkan, penetrasi pasar ke Australia menjadi target lanjutan setelah Indonesia mamÂpu melakukan penetrasi pasar otomotif ke sejumlah negara di Amerika Latin, Amerika Tengah dan Timur Tengah.
“Produk otoÂmotif kita sudah menembus pasar Venezuela, MekÂsiko, Mesir, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab,†urainya.
Dengan potensi ini, pihaknya akan memilih strategi memÂÂperÂkuat industri komponen untuk mendorong pertumbuhan penjuÂalÂan mobil di atas 1 juta unit pada 2014.
“Penguatan struktur indusÂtri komponen akan dilaÂkuÂkan dari hulu ke hilir dengan memperÂdaÂlam sistem teknologi serta untuk mengurangi impor sejumlah komÂponen vital supaya biaya proÂduksi industri perakitan dapat ditekan,†cetus Budi.
Dia mengatakan, pemerintah beÂrencana memperkuat struktur inÂdustri komponen seiring dengÂan target pertumbuhan penjualan moÂbil di dalam negeri yang akan meÂnyentuh 1 juta unit. Industri komÂponen pada lapis 1 (tier 1) ke bawah, strukturnya beÂlum sepeÂnuhÂnya lengkap seÂhingÂga pada lapis 1 dan 2 akan diperÂkuat deÂngan meningkatkan inÂvesÂtasi dan perluasan produksi suku cadang.
Ketua Gabungan InÂdustri KenÂdaraan Bermotor Indonesia (GaiÂkindo) Jongkie D Sugiarto mengÂungkapkan, kalau inÂdustri otoÂmoÂtif nasional mau sukses, peÂmeÂrintah dan Agen PeÂmegang MeÂrek (APM) harus bekerja sama.
“Pemerintah jaÂngan mengamÂbil pajak yang terÂlalu besar seÂhingga merugikan produsen,†kata Jongkie.
Menurut Jjongkie, pemerintah banyak mendapatkan sumber pendapatan baik dari biaya balik nama (BBN), pajak kendaraan berÂmotor (PKB) atau pajak penÂjualan barang mewah (PPnBM).
Pihaknya menyambut baik kerja sama perdagangan bebas  (Free Trade Agreement/FTA) Indonesia dengan Australia. EksÂpor kendaraan dari IndoneÂsia ke Australia, kata Jongkie, akan didoÂminasi oleh jenis SUV dan MPV (multi purpose vehicle).
“Kami berharap masing-masing prinsipal kendaraan bisa berperan secara aktif agar bisa meningÂkatkan ekspor ke AusÂtralia,†tukas Jongkie. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: