.Dengan kondisi harga batuÂbaÂra yang masih fluktuatif, diperÂkirakan kinerja emiten sektor perÂtambangan bisa tumbuh 10-15 persen hingga akhir tahun. Hal itu juga didorong pernyaÂtaan akan dilakukan pencetakan uang seÂcara besar-besaran oleh Bank Sentral Eropa.
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, perÂnyataan yang dikeluarkan Bank Sentral Eropa tersebut memÂberikan sinyal positif bagi sekÂtor komoditas, khususnya sekÂtor pertambangan. MenurutÂnya, jika semuanya membaik, maka sektor tambang akan naik 10-15 persen pada akÂhir tahun ini.
“Secara umum batubara kalori tingÂgi masih cukup aman, tetapi jika batubara rendah itu yang harus lebih kerja keras,†ujar EdÂwin di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, perusahaan perÂtamÂbangan harus menjual di baÂwah cost of production. PasalÂnya, faktor permintaan dari daÂlam neÂÂgeri belum bisa diharapkan.
“KaÂrena biaya produksi yang tinggi, mereka harus menekan biaya produksi,†katanya.
Yang perlu dilakukan perusaÂhaan-peruÂsaÂhaan tambang untuk menekan biaÂya-biaya produksi terÂsebut, lanjut Edwin, saÂlah saÂtunya dengan mengÂganÂti bahan bakar yang tadinya menggunakan solar beralih ke gas, mengganti kontrakÂtor yang lebih murah serÂta mengÂgunakan kapal kecil untuk mengÂangkut batubara.
Dia memprediksi, beberapa saÂham tambang yang layak dilaÂkuÂkan transaksi sepanjang seÂmesÂter II 2012 antara lain, saham PT Indo Tambang Raya Megah Tbk ITMG posisi buy (beli) karena berÂpoÂtensi akan berada di level Rp 44 ribu. Saat ini berada di kiÂsaran Rp 37.000-38.000 per saÂham, tergoÂlong rendah.
Terlebih, jika melihat kinerja perseroan yang bagus dengan keÂmampuan memberikan dividen dan tidak ada utang. Selain itu, PT Bukit Asam (PTBA) maÂsih cukup stabil, serta PT Adaro Energi Tbk (ADRO) yang masih cukup bertahan.
Analis Indosurya Asset ManaÂgement Reza PriamÂbaÂda menilai, dari pergerakan saÂham-saham perÂtambangan untuk perioÂde berÂjalan ini cukup stabil. “TetaÂpi, saya beÂlum melihat adaÂnya tanÂda-tanda kenaikan,†ujarÂnya.
Menurut Reza, perusahaan-peÂrusahaan tambang pada seÂmester I-2012 anjlok, pasalnya penjualan mereka turun. SehingÂga hal itu yang menjadikan kenaÂikan biaya-biaya dan kinerÂjanya turun. “DiÂtambah lagi harga koÂmoÂditas batubara masih belum stabil,†kata Reza.
Dia memprediksi, harga batuÂbara dunia hingga akhir tahun bergerak di level 90-94 dolar AS per ton, karena faktor pergerakan ekonomi global. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: