Kalangan pengusaha peÂnangÂkapan tuna tengah dipusingÂkan dengan biaya melaut yang semakin mahal. Ditambah lagi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang minim. Pengusaha dan nelayan sangat memperhitungkan dengan cermat jika ingin melaut, karena BBM hanya di subsidi sekitar 25 kiloÂliter (kl), masih jauh dari kebutuÂhan nelayan yang mencapai 75 kl.
Ketua Harian Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) Edy Yuwono menuturkan, jika kondisi tersebut terus berlangsung, dikhawatirkan memÂpengaruhi hasil tangkapan ikan tuna.
“Bagaimana kami mau meÂningÂÂkatkan produktivitas penangÂkapan. Kami saja sudah sangat sulit untuk mendapatkan BBM, itu yang menjadi pokok perÂmaÂsalahanÂnya,†cetus di Jakarta, kemarin.
Seperti diketahui, kebutuhan solar untuk kapal berkapasitas 5 gross ton (GT) sebanyak 40 liter untuk melaut selama lima hari, namun karena ketersediaan BBM di SPBN (Stasiun Pengisian BaÂhan Bakar Nelayan) terbatas, nelayan terpaksa membeli solar eceran sebanyak 20 liter dan terÂkadang tidak mendapatkan BBM untuk melaut karena permintaan solar ini cukup tinggi.
Edy mengakui, saat ini meÂmang sedang musim tangkapan ikan. Diharapkan para pengusaha bisa memanfaatkan momen ini untuk terus berproduksi semaksiÂmal mungkin. Akan tetapi karena BBM untuk operasional mahal, dan kasus penabrakan kapal penangkapan tuna dibiarkan oleh pengawas, justru membuat konÂdisi usaha tuna semakin sulit. “KaÂlau bisa, pemerintah memÂberiÂkan subsidi BBM diawal seÂbesar 25 kiloliter untuk penangÂkapan satu bulan. Kalau disubsidi itu masih fisible,†pintanya.
Dikatakan Edy, puncak tangkaÂpan tuna itu sejak Agustus sampai dengan Februari, adapun kondisiÂnya tidak seperti dulu lagi. “JaÂman dulu anggota Astuin, tangkaÂpan kita juga dibatasi, kuota tahun ini 580 ton dari 700 ton tahun lalu. Selain itu, dulu kita punya kapal 600 long line sekaÂrang tinggal 280 kapal long line tuna,†tukasnya.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Heryanto MarÂwoto menuturkan, dari kuota 1,8 juta kl solar bersubsidi untuk neÂlaÂyan, realisasi baru sekitar 800 ribu kl. Artinya, ada sejuta kl yang belum disalurkan.â€Ada keÂkuÂrangan pasokan BBM nelayan di setiap peÂlabuhan dibandingÂkan keÂbuÂtuhan yang ada,†ungÂkapnya.
ÂMarwoto mencontohkan, keÂbuÂtuhan BBM subsidi untuk kapal nelayan di Bitung mencaÂpai 250 kl per bulan, sedangkan aloÂkasi tidak pernah diatas 150 kl. Menurutnya, masih ada keÂleÂmaÂhan dalam pengendalian pengguÂnaan BBM bersubsidi. Untuk itu, pihaknya kini menÂsyaÂratkan kapal nelayan peneÂrima BBM berÂsubsidi untuk memiliki rekoÂmendasi dari bos pelabuhan. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: