Program pembatasan bahan bakar minyak (BBM) non subsidi untuk kendaraan pelat merah dengan menempelkan stiker BBM non subsidi mengalami kendala. Terutama kualitas stiker yang mudah rusak. Padahal, anggaran untuk membuatnya cukup besar, yaitu Rp 2 miliar.
Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Andy Noorsaman SomÂmeng merupakan salah satu pihak yang kecewa dengan kualitas stiker tersebut.
Dia pun mengaku kesal dan jengkel ketika mengetahui burukÂnya kualitas stiker pembatasan BBM untuk pemerintah maupun BUMN se-Jabodetabek. DisamÂping mudah mengelupas, warna stiker pembatasan BBM juga mudah pudar.
Meski begitu, pihaknya menÂjanÂjikan kualitas stiker untuk pemÂbatasan di Jawa dan Bali akan lebih baik.
“Kami sudah maÂrah-marah kaÂrena kualitas pemÂbuatan stikerÂnya jelek. Nanti untuk Jawa Bali akan lebih bagus,†kata Andy di Jakarta, kemarin.
Andy menjelaskan, anggaran yang dikeluarkan untuk Jawa-Bali sekitar Rp 2 miliar untuk 200 stiker. Sedangkan untuk satu stiÂker dihargai Rp 7.500. Adapun pemasangannya akan ditempel di sisi dalam kaca mobil sehingÂga tidak mudah rusak.
Dia menÂjelaskan, efek pengÂguÂnaan stiker unÂtuk pembaÂtasan konsumÂsi BBM masih belum besar efeknya. “Jika ingin pemÂbatasan efektif, stiker harus diÂlengkapi chip radio freÂquenÂcy identification (RFID),†ujarnya.
Dengan menggunakan RFID itu, menurut dia, bisa efektif lanÂtaran konsumsi BBM dari sisi permintaan dan pasokan akan terkontrol secara maksimal.
“Chip itu harganya murah. SeÂkitar Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Nah, kalau mau itu diterapkan efeknya akan lebih cepat. NaÂmun, perlu waktu sekitar 6 bulan sampai 1 tahun karena harus memÂbangun jaringan terlebih dahulu,†jelasÂnya.
Pengamat energi dari ReforÂMiner Institute Komaidi NotoneÂgoro mengatakan, perlu adanya audit terkait buruknya kualitas stiker tersebut.
“Perlunya diaudit kalau meÂmang ada penyimpangan angÂgaran. Tapi seperti yang terlihat sekarang, stiker itu sudah diruÂdung masalah seperti pengaÂwaÂsan dan operasional lainnya,†kata Komaidi kepada Rakyat Merdeka.
Menurutnya, perbaikan kebiÂjakan terkait BBM harus dimulai dari penataan mobil pribadi dan kenaikan harga. “Tapi dengan pemÂbatasan seperti ini (stiker) yang dihemat tidak seberapa, justru menghambur-hamburkan uang APBN,†tegasnya.
Anggota Komisi VII DPR SatÂya W Yudha mengatakan, renÂcana pengendalian konsumsi BBM bersubsidi tidak akan efektif deÂngan mekanisme meÂmaÂsang stiÂker pada kendaraan priÂbadi. UnÂtuk itu, dia akan meÂminta keteÂrangan pemerintah sampai seÂjauh mana keefektifan pengÂgunaan stiker ini. Termasuk soal pembuÂatan stiker yang meÂmakan anggaÂrÂan besar tapi kualitasnya buruk.
“Ini kebijakan pemborosan. Kita akan terus evaluasi pelakÂsaÂnaanÂnya. Apalagi stiker terÂsebut sangat mudah digandakan atau dipalsukan,†kata Satya.
Menurutnya, cara yang paling efektif menanggulangi pengenÂdaÂlian BBM adalah dengan mengÂgunakan kartu pengendali atau Chip Radio Frequency IdentiÂficaÂtion (RFID) dan Nano teknologi.
Namun, jika pemerintah belum siap dengan pengendalian mengÂgunakan kartu pengendali atau cara lain seperti stiker, tetap saja itu tidak akan efektif.
Stiker, menurut Satya, tidak bisa mengontrol volume konsumÂsi BBM bersubsidi. Mekanisme terÂsebut juga tidak bisa menganÂtisipasi terjadinya kebocoran voÂlume BBM bersubsidi. “PeÂtugas SPBU pun bisa disogok deÂngan cara ini,†tambahnya.
Dikatakan, stiker juga bisa diÂgandakan. KonÂsumen pun bisa dengan muÂdah memodifikasi tanÂki BBM kenÂdaraan pribadinya. “Sistem stiker itu harus ditingÂgalkan. Itu akan menimbulkan konflik horiÂzontal,†tegasnya.
Satya lebih setuju jika pengenÂdalian konsumsi BBM bersubÂsidi dilakukan dengan kartu peÂngenÂdali ketimbang stiker. Itu bisa menjamin sistem pengenÂdalian volume konsumsi BBM bersubÂsidi per kendaraan per hari dari mobil yang berhak.
Perlu diketahui, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga, Jumat (3/8), baru 71.000 kendaraan dinas di Jawa dan Bali yang sudah dipasang stiker.
“Sudah tersebar sebanyak 71.000 lembar stiker imbauan ke instansi pemerintahan, masih teÂrus dilakukan sampai tercapai 200.000 lembar,†ujar Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini.
Rudi mengklaim, penghematan BBM dengan mewajibkan kenÂdaraan dinas dan kendaraan opeÂrasional milik pemerintah beralih menggunakan pertamax cukup efektif. Indikatornya, penghemaÂtan di Jabodetabek yang sudah berjalan mulai Mei lalu memÂperlihatkan adanya penurunan penggunaan BBM bersubsidi sebesar 2,4 persen dibanding buÂlan sebelumnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.