Tidak ingin mengulang peÂngalaman pembelian divestasi 7 persen saham PT Newmont Nusa Tenggara, pemerintah akan sowan ke DPR untuk membicarakan pengamÂbilÂalihan PT Indonesia Asahan AluÂmunium (Inalum) dari Jepang.
Menteri Perindustrian (MenÂperin) MS Hidayat mengataÂkan, saat ini pihaknya terus berÂkoordinasi dengan Menteri KeÂuangan Agus Martowardojo untuk membeli saham Inalum. Jika harganya sudah ketemu, pihaknya akan langsung memÂbawanya ke DPR.
“Kalau nanti disepakati pembiayaannya dari APBN leÂwat Kementerian Keuangan, ya kita akan baik-baik ngoÂmong dengan DPR,†ujar Hidayat.
Hidayat mengaku hingga kini masih mengkaji besaran harga yang ideal untuk pengÂambilalihan Inalum dari NeÂgeri Matahari Terbit itu, mengÂingat kontraknya akan habis.
“Rencananya 31 Oktober taÂhun ini pemerintah dan InaÂlum akan menemukan harga yang cocok. Jadi ada masa transisi satu tahun,†katanya.
Kementerian Perindustrian telah membuat roadmap untuk pengembangan kapasitas InaÂlum dari 250 ribu ton menjadi 600 ribu ton. Tapi, pemerintah membutuhkan investasi 1,3 miliar dolar AS.
“Nanti setelah diambil oleh pemerintah, mungkin di-keep untuk perusahaan-perusahaan kita,†ucapnya.
PT Aneka Tambang (AnÂtam) menegaskan kesiapannya mengelola Inalum jika dipeÂrintah negara.
Direktur Utama Antam AlÂwin Syah Loebis mengataÂkan, saat ini perseroan sedang memÂpersiapkan diri kalau tiba-tiba Menteri BUMN meminta unÂtuk mengelola Inalum.
“Kita dari awal sudah berÂpartisipasi mengambil InaÂlum. Tergantung rencana peÂmerinÂtah apakah BUMN dulu atau apa. Kita seÂdang menyiÂapkan diri,†ujar Alwin.
Alwin menegaskan, saat ini perseroan lebih memantapkan diri secara teknis untuk meÂngeÂlola Inalum. “Inalum itu seÂcara tersendiri, apakah nanti BUMN lain atau siapa tapi kita siap,†tandasnya.
Sebelumnya, pemerintah teÂlah menyiapkan dana sekitar Rp 7 triliun untuk mengambil kepemilikan Inalum. Kerja sama Inalum dan Indonesia akan habis masa kontraknya September 2013.
Pemerintah juga akan meÂnganggarkan dana Rp 5 triÂliun pada APBN 2013. Jika angka ini ditambah dana saat ini seÂbesar Rp 2 triliun, maka jumÂlah itu mencukupi.
Menteri BUMN Dahlan IsÂkan mengatakan, BUMN siap mengambil alih Inalum. NaÂmun, prosesnya tetap diseÂrahÂkan kepada pemerintah tanÂpa ikut campur BUMN.
“InaÂlum diambil negara, nanti diseÂrahÂkan pada BUMN atau siapa terÂserah, tapi negaÂra dulu,†kata Dahlan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.