Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengungkapkan, saat ini banyak pengusaha tambang yang tidak konsisten dalam peÂmenuhan kebutuhan batubara di dalam negeri. Tidak heran jika banyak pembangkit yang kekuÂrangan pasokan.
“Banyak masalah yang kita haÂdapi saat ini di proyek power plant karena terjadinya perseÂlingÂkuhan yang dilakukan pemiÂlik tamÂbang, sehingga pasokan batuÂbara ke pembangkit listrik berÂkuÂrang,†kata Nur di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, tidak konsisÂtenÂnya para pemilik tambang itu diÂkaÂrenakan harga batubara untuk eksÂpor lebih mahal dibanding harÂga jual ke domestik. Kondisi ini membuat para pemilik tamÂbang mengurangi pasokannya untuk pembangkit secara diam-diam.
Padahal, kata Nur, PLN deÂngan para pemilik tamÂbang sudah meneken kontrak peÂmeÂnuhan pasokan. “Namun godaan harÂga yang lebih tinggi ini memÂbuat pemilik tamÂbang sering ingkar janji,†curhatnya.
Nur dalam satu kesempatan juÂga mengusulkan agar pemeÂrinÂtah mengeluarkan aturan penÂjuaÂlan batubara domestik (Domestic MarÂket Obligation/DMO) jangka panÂjang untuk mengamankan paÂsokan batubara domestik. “JaÂngan sampai tambang-tambang baÂtuÂbara habis diekspor,†katanya.
Dia beranggapan, DMO jangka panjang antara 5-10 tahun lebih penting dibanding tahunan yang dikeluarkan Kementerian EnerÂgi Sumber Daya Mineral (ESDM). Bagi PLN, DMO jangka panÂjang itu untuk menjamin komitÂmen peÂrusahaan guna menaikkan porsi energi batubara yang saat ini baru 50 persen dan akan meningkat menjadi 65 persen pada 2020.
Berdasarkan Data Rencana Usaha Penyediaan Tenaga LisÂtrik 2011-2020, PLN menargetÂkan penggunaan BBM pada 2020 hanya 0,71 persen atau hanya 0,67 juta kiloliter (KL), turun drasÂtis dari pemakaian BBM pada 2011 sebesar 21,12 persen atau 9,06 juta KL.
Sedangkan penggunaan batuÂbara PLN pada 2020 naik tajam menjadi 64 persen atau 125,76 juta kl. Padahal, pengguÂnaan baÂtubara PLN pada 2011 haÂnya 41,8 juta ton atau 50 persen dari komposisi proÂduksi listrik per bahan bakar. SeÂdangkan keÂbuÂtuhan batubara 2012 sebesar 43 juta ton. KebuÂtuhan untuk 2014 juga diÂprediksi naik menjadi 90 juta ton menyusul beroperasinya proyek 10.000 mega watt (MW) tahap pertama.
Anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldy justru mengkritik sikap PLN. Menurutnya, perusaÂhaan pelat merah itu lebih banyak mengeluh dibanding kerjanya.
Dulu, kata Bobby, PLN pernah mengeluh soal minimnya pasoÂkan gas untuk pembangkitnya. NaÂmun, saat permintaan itu diÂpenuhi, PLN malah tidak meÂngambilnya. “Dulu minta baÂnyak gas, pas sudah ada nggak diamÂbil,†sindir Bobby.
Hal yang sama juga untuk baÂtubara. Sekarang PLN mengeÂluh soal pasokan batubara yang miÂnim karena lebih banyak diÂeksÂpor mengingat harganya lebih tinggi. PaÂdahal, kalau disamakan juga harÂganya masih jauh lebih rendah dari harga BBM dan gas.
“PLN yang daya serapnya renÂdah. Dengan berbagai alasan tekÂnis, PLN tetap lebih nyaman paÂkai BBM,†cetusnya.
Menurut politisi Partai Golkar itu, yang diperlukan saat ini adalah koordinasi dari pemeÂrinÂtah dalam pemenuhan kebuÂtuÂhan batubara dalam negeri. Apalagi sudah ada kebijakan DMO, lalu kenapa belum diÂeksekusi oleh pemerintah.
“Hingga kini belum jelas siapa yang mengumpulkan batubara dari kebijakan DMO tersebut dan di mana tempat mengumpulÂkanÂnya, serta siapa yang meÂngÂangÂkutnya,†tandasnya.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Nasional (Aspebindo) Ferry J. JuÂlianÂtono mengatakan, penyeÂrapÂan batubara dalam negeri masih 30 persen dari total proÂdukÂsi. “DaÂya serap PLN juga masih renÂdah. Kalau tidak diekspor keleÂbihannya mau buat apa,†katanya.
Ferry juga menolak penerapan bea keluar ekspor batubara kaÂrena akan berdampak pada kiÂnerja perusahaan dan peneÂriÂmaan negara. Apalagi kondisi ekonomi global sedang lesu seÂhingga harga juga turun. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: