Dianggap Nyaman Pake BBM, DPR Kritik PLN Ngeluh Melulu

Nur Pamudji: Pemilik Tambang Batubara Banyak Yang Selingkuh

Selasa, 17 Juli 2012, 08:06 WIB
Dianggap Nyaman Pake BBM, DPR Kritik PLN Ngeluh Melulu
ilustrasi, tambang
RMOL.PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyindir para pengusaha tambang batubara yang lebih senang ekspor dibanding memenuhi kebutuhan pembangkit di dalam negeri.

Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengungkapkan, saat ini banyak pengusaha tambang yang tidak konsisten dalam pe­menuhan kebutuhan batubara di dalam negeri. Tidak heran jika banyak pembangkit yang keku­rangan pasokan.

“Banyak masalah yang kita ha­dapi saat ini di proyek power plant karena terjadinya perse­ling­kuhan yang dilakukan pemi­lik tam­bang, sehingga pasokan batu­bara ke pembangkit listrik ber­ku­rang,” kata Nur di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, tidak konsis­ten­nya para pemilik tambang itu di­ka­renakan harga batubara untuk eks­por lebih mahal dibanding har­ga jual ke domestik. Kondisi ini membuat para pemilik tam­bang mengurangi pasokannya untuk pembangkit secara diam-diam.

Padahal, kata Nur, PLN  de­ngan para pemilik tam­bang sudah meneken kontrak pe­me­nuhan pasokan. “Namun godaan har­ga yang lebih tinggi ini mem­buat pemilik tam­bang sering ingkar janji,” curhatnya.

Nur dalam satu kesempatan ju­ga mengusulkan agar peme­rin­tah mengeluarkan aturan pen­jua­lan batubara domestik (Domestic Mar­ket Obligation/DMO) jangka pan­jang untuk mengamankan pa­sokan batubara domestik. “Ja­ngan sampai tambang-tambang ba­tu­bara habis diekspor,” katanya.

Dia beranggapan, DMO jangka panjang antara 5-10 tahun lebih penting dibanding tahunan yang dikeluarkan Kementerian Ener­gi Sumber Daya Mineral (ESDM). Bagi PLN, DMO jangka pan­jang itu untuk menjamin komit­men pe­rusahaan guna menaikkan porsi energi batubara yang saat ini baru 50 persen dan akan meningkat menjadi 65 persen pada 2020.

Berdasarkan Data Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Lis­trik 2011-2020, PLN menarget­kan penggunaan BBM pada 2020 hanya 0,71 persen atau hanya 0,67 juta kiloliter (KL), turun dras­tis dari pemakaian BBM pada 2011 sebesar 21,12 persen atau 9,06 juta KL.

Sedangkan penggunaan batu­bara PLN pada 2020 naik tajam menjadi 64 persen atau 125,76 juta kl. Padahal, penggu­naan ba­tubara PLN pada 2011 ha­nya 41,8 juta ton atau 50 persen dari komposisi pro­duksi listrik per bahan bakar. Se­dangkan ke­bu­tuhan batubara 2012 sebesar 43 juta ton. Kebu­tuhan untuk 2014 juga di­prediksi naik menjadi 90 juta ton menyusul beroperasinya proyek 10.000 mega watt (MW) tahap pertama.

Anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldy justru mengkritik sikap PLN. Menurutnya, perusa­haan pelat merah itu lebih banyak mengeluh dibanding kerjanya.

Dulu, kata Bobby, PLN pernah mengeluh soal minimnya paso­kan gas untuk pembangkitnya. Na­mun, saat permintaan itu di­penuhi, PLN malah tidak me­ngambilnya. “Dulu minta ba­nyak gas, pas sudah ada nggak diam­bil,” sindir Bobby.

Hal yang sama juga untuk ba­tubara. Sekarang PLN menge­luh soal pasokan batubara yang mi­nim karena lebih banyak di­eks­por mengingat harganya lebih tinggi. Pa­dahal, kalau disamakan juga har­ganya masih jauh lebih rendah dari harga BBM dan gas.

“PLN yang daya serapnya ren­dah. Dengan berbagai alasan tek­nis, PLN tetap lebih nyaman pa­kai BBM,” cetusnya.

Menurut politisi Partai Golkar itu, yang diperlukan saat ini adalah koordinasi dari peme­rin­tah dalam pemenuhan kebu­tu­han batubara dalam negeri. Apalagi sudah ada kebijakan DMO, lalu kenapa belum di­eksekusi oleh pemerintah.

“Hingga kini belum jelas siapa yang mengumpulkan batubara dari kebijakan DMO tersebut dan di mana tempat mengumpul­kan­nya, serta siapa yang me­ng­ang­kutnya,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Nasional (Aspebindo) Ferry J. Ju­lian­tono mengatakan, penye­rap­an batubara dalam negeri masih 30 persen dari total pro­duk­si. “Da­ya serap PLN juga masih ren­dah. Kalau tidak diekspor kele­bihannya mau buat apa,” katanya.

Ferry juga menolak penerapan bea keluar ekspor batubara ka­rena akan berdampak pada ki­nerja perusahaan dan pene­ri­maan negara. Apalagi kondisi ekonomi global sedang lesu se­hingga harga juga turun.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA