Pemerintah Indonesia melaÂlui Bank Indonesia (BI) berenÂcana membantu International Monetary Fund (IMF). Caranya, dengan membeli surat utang lemÂbaga keuangan internasional seÂnilai 1 miliar dolar AS atau seÂkitar Rp 9,4 triliun.
Jika sumbaÂngan tersebut buat lembaga yang punya pengaruh positif terhadap ekonomi IndoneÂsia dan menguntungkan, mungÂkin tidak masalah. Tapi, bila diÂberikan keÂpada lembaga yang pernah mengÂacak-acak ekonomi nasional, tentu kebijakan itu saÂngat menyaÂkitkan.
Gubernur BI Darmin Nasution berdalih, lebih menguntungkan mengalihkan cadangan devisa BI kepada surat utang diÂbanding membiarkannya beÂgitu saja di lemari besi. “Kita beli suÂrat berÂharga dan tiÂdak simpan dolar daÂlam lemari besi (berjumÂlah) baÂnyak. Emang uang beraÂnak?†ujarnya di Jakarta, Kamis (12/7).
Pembelian surat utang tersebut diakui Darmin, lebih mengunÂtungÂkan karena risikonya renÂdah. Pembelian surat utang itu bukan hal spesial, sebab BI juga melaÂkukan hal yang sama ke beberapa negara seperti AustraÂlia, Kanada dan Jerman.
Darmin menjelaskan, hasil dana yang diberi BI bersama anggota IMF lain juga tidak langsung diÂgunakan. Dana surat utang hanya sebagai cadangan.
“Sama IMF juga belum tentu dipakai, karena itu second line of defense. Jadi kaÂlau resources dia sudah di bawah 100 miliar dolar AS, baru dipakai. Sekarang dia masih punya sekitar 400 miliar dolar AS kalau tidak salah. Itu bisa dipakai, bisa tiÂdak,†jelasnya.
Besaran pemberian utang BI kepada IMF juga merupakan keÂsepakatan Bank Sentral di ASEAN. Bank Sentral di Filipina dan Malaysia memberi utang daÂlam jumlah sama kepada IMF. BI pun hanya mengambil sebaÂgian cadangan devisa yang kini menÂcaÂpai 106,5 miliar dolar AS untuk pembelian surat utang IMF.
Bagi Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono, pemÂberian dana pinjaman sebesar 1 miliar dolar AS kepada kepada IMF itu tidak akan berpeÂngaÂruh banyak terhaÂdap cadaÂngan devisa pemerinÂtah. MeskiÂpun di saat yang berÂsamaÂan caÂdangan devisa menuÂrun seÂbesar 5 miliar dolar AS.
“Saya kira tiÂdak akan berpeÂngaruh, ini sifatÂnya hanya simÂbolis saja,†ujar Sigit di Jakarta, Kamis (12/7).
Menurut Sigit, secara simbolik utangan buat IMF itu bagus kaÂrena akan memperÂkenalkan keÂpada dunia bahwa Indonesia suÂdah bekerja dengan baik. “Dulu minjam dan sekarang meminjam-kan, maka sudah baik,†kilahnya.
Seperti diketahui, cadangan deÂvisa Indonesia menurun dari 111,528 miliar dolar AS pada 31 Mei 2012 menjadi 106,502 miÂliar dolar AS pada 29 Juni 2012. IMF sedang aktif mencari doÂnaÂtur dari negara lainÂnya untuk meÂningkatkan modal. Sejak April lalu, IMF secara terbuka menyaÂtaÂkan sangat membutuhkan dana tunai untuk meredam risiko memÂburuknya ekonomi global.
Sejumlah negara langsung meÂnyaÂtakan kesiapanÂnya, termasuk Indonesia. Jepang adalah negara pertama yang berÂkomitmen meÂnambah modal sebesar 60 miliar dolar AS. Disusul China dan AusÂtralia. Hingga pertemuan G-20 Juni lalu, komitÂmen penamÂbaÂhan dana yang berhasil dihimpun mencapai 455,9 miliar dolar AS.
Ekonom Institute For DeveÂlopment of Economic and FiÂnance (Indef) Enny Sri Hartati meminta bantuan itu diberikan secara hati-hati dengan tetap memÂpertimÂbangkan kondisi doÂmestik. MeÂnurutnya, lebih baik jika keÂbuÂtuhan devisa dalam neÂgeri dicuÂkupi terlebih dahulu seÂbelum membantu orang lain.
“Cadangan devisa Indonesia saat ini meÂmang mencapai 111 miliar dolar AS. MaÂkin banyak cadangan devisa, maka akan leÂbih baik,†ucapnya keÂpada RakÂyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Jika kondisi perekoÂnoÂmian dunia stabil, lanjut Enny, maka tidak masalah. Tetapi jika terjadi seÂbalikÂÂnya, ekonomi dunia krisis, maka akan membawa dampak neÂgatif untuk Indonesia. DamÂpakÂnya berupa penuruan angka ekspor Indonesia ke bebeÂrapa neÂgara maju di Eropa dan dunia.
“Untuk itu, Indonesia perlu menÂÂjaga pasokan dolar supaya seimÂbang dan mencukupi valuta asing. Indonesia memiÂliÂki huÂtang yang cukup berat,†warning Enny. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: