Petani Kecewa Hatta Cs Kok Pilih Sumbang IMF Rp 9,4 T

Penyediaan Lapangan Kerja & Pengurangan Kemiskinan Diabaikan

Rabu, 11 Juli 2012, 08:30 WIB
Petani Kecewa Hatta Cs Kok Pilih Sumbang IMF Rp 9,4 T
ilustrasi, petani sawit
RMOL.Sangat ironis, ketika petani sawit di dalam negeri butuh kucuran kredit, pemerintah justru memilih menyetor dananya ke IMF senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 9,4 triliun.

International Monetary Fund (IMF) menegaskan, komit­men sejumlah negara untuk mem­perkuat modal IMF bukan merupakan hibah.

Managing Director IMF Chris­tine Lagarde mengatakan, bantu­an perkuatan modal dari sejum­lah  negara yang berkomitmen, akan tetap menjadi cadangan ba­gi ne­gara yang berkontribusi.

“Kon­tribusi banyak negara bukan ha­diah atau hibah, mereka tetap menjadi cadangan negara yang berkontribusi. Mereka ha­nya da­pat digunakan sebagai ga­ris perta­hanan kedua,” kata La­garde usai bertemu Presiden SBY di Kantor Presiden, kemarin.

Bekas Menteri Keuangan Pran­cis ini menyebutkan, IMF sa­at ini punya  188 anggota.  Di­te­­gaskan, dalam kasus krisis eko­no­mi yang serius, tak ada ne­gara yang be­nar-benar kebal. Un­tuk itu, IMF  harus mampu me­res­pons kebutu­h­an negara, seperti negara ber­penghasilan rendah, me­neng­ah bahkan negara maju.

Seperti diketahui, sejak April lalu, IMF secara terang-terangan telah menyatakan sangat mem­bu­tuhkan dana tunai untuk mere­dam risiko memburuknya eko­nomi global. Setelah Lagarde me­ngumumkan hal itu, sejumlah ne­gara langsung menyatakan ke­siap­annya, termasuk Indone­sia.

Jepang merupakan negara per­tama yang berkomitmen me­nyuntikkan tambahan modal se­nilai 60 miliar dolar AS ke lem­baga keuangan internasional ini.

Dukungan serupa dikemuka­kan Menteri Koordinator Pere­ko­nomian Hatta Rajasa. Dia menya­takan, Indonesia sebagai negara yang memiliki kemampuan dan bagian dari negara-negara G-20, harus ikut memberikan sumba­ngan kepada perekonomian glo­bal. Untuk itu, kata Hatta, su­­dah sepatutnya Indonesia mem­be­rikan dukungan dana ke­pada IMF guna menjalankan tu­gasnya mem­berikan pen­danaan bagi ne­gara-negara yang mem­butuhkan.

“Sebagai negara yang punya kemampuan dan anggota di G-20, kita juga patut mem­berikan per­hatian kepada per­ekonomian du­nia yang lagi mengalami per­soalan sekarang ini,” cetus Hatta di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, kesulitan per­ekonomian global akan mem­berikan dampak pada perekono­mian Indonesia.  

Sedangkan Menteri Keuangan Agus Martowardojo enggan ber­bicara soal dukungan peme­rin­tah RI terhadap kas IMF. Pi­haknya mengaku belum mende­ngar lang­sung dari presiden soal keputusan ini.

Sebagai informasi, berdasar­kan data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu per Mei 2012, total utang pemerintah Indonesia mencapai Rp 1.944,14 triliun, naik Rp 140,65 triliun dari posisi di akhir 2011 yang nilainya Rp 1.803,49 triliun. Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah pada Mei 2012 mencapai 203,26 miliar dolar AS. Jumlah ini naik dari posisi pada akhir 2011 yang men­­capai 198,89 miliar dolar AS.

Langkah pemerintah nyetor ke IMF diprotes kalangan petani. Sek­jen Asosiasi Petani Kelapa Sa­wit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad meng­ungkapkan kekesalannya ter­hadap sikap pe­merintah yang akan mengu­curkan dana kepada IMF sebesar Rp 9,4 triliun. Se­men­t­ara di da­lam negeri petani ke­lapa sawit butuh dana besar untuk melaku­kan tanam ulang kelapa sawit sekitar Rp 1,7 juta per hek­tar.

“Kami sangat me­nya­­yangkan sikap pemerintah lebih meng­uta­makan menyalur­kan ban­tuan kepada IMF diban­ding mem­be­rikan pin­jaman kepada petani kelapa sawit di negeri ini,” ujarnya.

 Padahal, para petani kelapa sa­wit sudah la­ma berkor­ban untuk menang­gung pungutan ekspor. “Siapa yang tidak kesal, melihat tin­da­kan pe­merintah lebih meng­uta­­ma­kan memberi bantuan kepa­da IMF di­bandingkan mem­bantu p­etani kelapa sawit,” tan­dasnya.

Ekonom UGM Tony Pra­set­yantono menegaskan agar dana yang disetor ke IMF se­baiknya digu­nakan untuk kegiatan yang lebih produktif di Tanah Air. “Mi­salnya mem­bangun infrastruktur yang dapat men­ciptakan lapang­an kerja,” ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA