Pengusaha Lokal Genjot Produksi

Hadang Serbuan Makanan Malaysia Jelang Puasa

Rabu, 11 Juli 2012, 08:24 WIB
Pengusaha Lokal Genjot Produksi
ilustrasi/ist
RMOL.Pengusaha makanan dan minuman (mamin) di Indonesia menggenjot produksinya men­je­lang bulan puasa dan Leba­ran ta­hun ini. Permintaan produk ma­min diprediksi naik 30 persen menjelang perayaan Lebaran.

“Saat ini memang ter­jadi pe­ningkatan produksi yang bisa dikatakan sebagai ritual men­­jelang puasa dan Lebaran. In­dus­tri pasti akan meningkatkan ka­pasitas produksinya,” ujar Sekjen Gabungan Pengusaha Ma­­kanan dan Minuman Indone­sia (Gapm­mi) Franky Sibarani kepada Rak­yat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Menurut Franky, peningkatan pro­duksi mamin bisa mencapai antara 20 hingga 30 persen de­ngan tujuan untuk mengejar per­sediaan di sentra distribusi wila­yah karena permintaan konsu­men yang meningkat.

Permintaan pro­duk mamin juga diprediksi akan naik seba­nyak 30 persen menje­lang pera­yaan Lebaran tahun ini, dengan penopang utama produk olahan jenis sirup dan biskuit.

Dia menjelaskan, secara rata-rata permintaan pasar pada pro­duk mamin menjelang Leba­ran naik sekitar 30 persen. Ke­naikan produk itu dipicu oleh ke­biasaan orang Indonesia saling berkirim parsel menjelang Leba­ran.

“Kenaikan tertinggi biasa ter­jadi pada pro­duk jenis musiman seperti sirup dan biskuit,” jelas Franky.

Kedua pro­duk dengan kenaik­an teringgi tersebut, lanjutnya, permintaan mampu naik di atas 200 persen pada setiap musim­nya. Kenaikan permintaan sirup dan biskuit tidak ha­nya pada saat Lebaran, tapi juga perayaan Natal dan Tahun Baru.

Menjelang perayaan Lebaran, kata Franky, industri yang meng­hasilkan dua produk terse­but biasanya menggenjot kapasi­tas produksi hingga maksimal.

“Dari biasa mereka bekerja satu shift, menjelang Lebaran biasa­nya me­ningkatkan produksi hing­ga tiga shift,” katanya.

Meskipun permintaan mening­kat, Franky menegaskan, tak ada kenaikan harga di bulan puasa atau jelang Lebaran. Menurutnya, harga produk industri mamin ti­dak akan melonjak karena mo­mentum bulan puasa, melainkan lebih bergantung kepada bahan baku dan bahan kemasan.

“Na­mun, dalam satu bulan ter­akhir ini tidak ada tanda kenaikan bahan baku dan kemasan itu,” tegasnya.

Franky juga mengung­kapkan, terdapat kekhawatiran distribusi pasokan produk yang terhenti jika dikirim saat puasa atau menjelang Lebaran karena pengutamaan kendaraan lebih kepada pemu­dik daripada produk industri.

“Kami juga perlu mengantisi­pasi distribusi yang relatif pada dua pekan sebelum Lebaran pasti sudah akan terjadi kepada­tan atau antrean karena pening­­- ka­tan volu­me kendaraan ke dae­rah,” ung­kapnya.

Sedangkan Kementerian Per­da­gangan (Kemendag) memasti­kan distribusi sejumlah bahan kebutuhan pokok ke beberapa dae­­rah yang akan mengalami pem­batasan angkutan muatan barang berjalan secara lancar.

“Kami sudah persiapkan se­jum­­lah upaya. Oleh karena itu, koor­dinasi antarlembaga men­jadi penting dan sudah kami la­ku­kan beberapa waktu lalu. Ter­masuk kepada para penyedia produk yang tidak mudah busuk, di mana sebenarnya pendistri­busian untuk hasil makanan dan minuman itu sudah dari jauh hari sebelum­nya,” kata Dirjen Perda­gangan Da­lam Negeri Kemen­dag Gu­naryo.

Gunaryo menganjurkan kepa­da para penyedia produk ma­ka­n­an dan kebutuhan pokok un­tuk meng­an­tisipasi pengiriman ke sejum­lah daerah yang rawan macet saat menjelang mudik dan usai Leba­ran sejak jauh hari se­be­lum­nya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA