Persoalan Pangan Tidak Bisa Dilepas Kepada Pasar Bebas

Jelang Puasa Harga Sembako Naik, Pembeli & Penjual Sama-sama Susah

Sabtu, 30 Juni 2012, 08:00 WIB
Persoalan Pangan Tidak Bisa Dilepas Kepada Pasar Bebas
ilustrasi/ist
RMOL.Sebulan menjelang bulan puasa, harga bahan kebutuhan pokok di pasar mulai merangkak naik. Pemerintah diminta fokus membenahi tata niaga perekonomian.

Berdasarkan pantauan Rak­yat Merdeka di beberapa pasar tradisional Cibinong dan Kramat Jati, sejumlah komoditi seperti gu­la, telor, minyak sayur, sayur ma­yur, cabe dan bawang putih, me­nga­lami kenaikan cukup tinggi.

Salah satu pedagang di Pasar Cibinong Siti Mariyam menga­takan, harga telor naik dari Rp 12.000 per kilogram (kg) menjadi Rp 17.000 per kg.

“Kemungkinan harga naik ka­rena permintaannya yang mu­lai meningkat. Akhir-akhir ini, men­jelang bulan puasa banyak orang yang menggelar acara,” ujar Ma­riyam yang biasa disapa Iyam.

Sedangkan harga minyak go­reng yang biasanya Rp 9.000 per kg, kini mencapai Rp 11.000 per kg. Belum lagi harga terigu se­gitiga yang sebelumnya hanya Rp 7.000 per kg, saat ini sudah di kisaran Rp 8.000 per kg.

Lonjakan signifikan juga di­alami komoditas cabe dan ba­wang putih. Ditingkat pengecer, harga bawang putih per kilo mencapai Rp 16.000 padahal bia­sanya hanya Rp 8.000 per kilo, sedangkan cabe melonjak Rp 25.000 per kilo.

“Kalau harga naik begini, oto­matis pembeli juga sepi. Jangan kan mau cari untung, balik mo­dal juga susah,” curhat Iyam.

“Saya juga bingung mau jual ba­gaimana. Ya kalau harga naik, penjual dan pembeli sama-sama susah,” imbuhnya.

Menurut Iyam, harga gula pasir juga naik dari pekan lalu yang rata-rata hanya Rp 10.000 per kg, jadi Rp 14.000 per kg. Gula ke­masan bahkan mengalami penu­runan pasokan secara signifikan.

“Sudah dua pekan ini saya malah nggak dapat kiriman gula kemasan. Saat saya tanya ke­pada pemasok, mereka cuma bi­lang stoknya me­mang kosong,” ung­kapnya.

Senada dengan Iyam, peda­gang Rohati juga mengeluhkan hal yang sama. Menurutnya, harga daging ayam potong pekan ini kembali naik ke harga Rp 24.000 per kg. Bahkan di tingkat pengecer harga sudah mencapai Rp 26.000 per kg.

“Minggu lalu masih Rp 23.000 per kg. Biasanya, harga daging ayam tertinggi cuma Rp 24.000 per kg. Harapan saya kalau sudah bulan puasa, harga jangan naik lagi,” pintanya.

Rohati juga mempertanyakan tingginya harga daging ayam maupun harga daging sapi. Harga daging ayam terpantau masih berada kisaran Rp 28.000-29.000 per kg, dari harga normal bia­sanya yang hanya berkisar Rp 22.000-24.000 per kg. Sedangkan harga daging sapi saat ini berada di antara Rp 65.000-70.000 per kg, padahal biasanya harganya hanya sekitar Rp 50.000 per kg.

“Semua yang mau belanja di pasar pada ngeluh. Saya sendiri bingung, puasa masih satu bulan tapi kenapa harga kebutuhan sudah pada naik ya,” cetusnya.

Pengamat ekonomi dari Ins­titute for Development of Eco­nomics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menyayangkan keti­dakmampuan pemerintah meng­atasi persoalan harga.

“Masalah harga bukan cuma bukan operasi pasar (OP). Yang kita inginkan, pemerintah mem­perbaiki tata niga yang terkait de­ngan masalah bahan pokok. Ka­rena masalah pangan murah su­dah menjadi hak rak­yat,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan pangan tidak bisa dilepas kepada meka­nis­me pasar bebas. Hal itulah yang mengakibatkan Indonesia kerap mengalami gejolak harga pangan.

Dikatakan, pemerintah ha­rus­nya bisa fokus mencari titik fun­damental yang menyebabkan lonjakan harga, disamping mem­benahi pemerataan distribusi. Apalagi, banyak kenaikan harga komoditi pangan yang disebab­kan terganggunya jalur distribusi.

“Kalau penyebabnya sudah diketahui dan semuanya bisa di­kontrol seperti penyaluran dan dis­tribusinya tepat, saya pikir itu lebih signifikan. Soalnya operasi pasar yang selama ini dilakukan belum tentu dinikmati seluruh konsumen,” tutup Enny. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA