Boediono Bangga Ekonomi Indonesia Sekuat Komodo

Goldman Sach Prediksi Rupiah Nyungsep Ke Rp 9.800

Sabtu, 23 Juni 2012, 08:50 WIB
Boediono Bangga Ekonomi Indonesia Sekuat Komodo
Boediono
RMOL.Ketangguhan ekonomi na­sional, diibaratkan Wakil Presi­den (Wapres) Boediono mirip dengan binatang Komodo. Apa­lagi, setelah ekonomi Indo­ne­sia lolos dari krisis ekonomi Asia pa­da 1998 dan krisis global 2008.

“Maksudnya adalah eko­nomi Indonesia kuat, berkem­bang dan hidup. Tapi sayangnya seperti komodo, juga sama-sama meng­gigit,” kata Boediono yang di­sam­but tawa di hadapan peserta Forum Global Alumni Global Wharton School University of Pennsylvania di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, istilah ko­modo diambil dari spesies he­wan langka yang hanya ada di Tanah Air. Bagaikan komodo, In­done­sia masih bisa menjaga pertum­buhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada 6 persen. “Itu angka yang diinginkan negara-negara lain,” kata Boediono.

Menurut Wapres, masih tum­buhnya perekonomian Indonesia merupakan hasil kerja keras pe­merintah dan sektor swasta. Hal ini didukung banyaknya peru­sa­haan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang melantai di bursa guna meningkatkan pro­fesiona­lisme. Bahkan, kata dia, ada enam perusahaan pelat merah Indo­ne­sia yang masuk daftar perusa­han global Fortune 500.

Boediono mengatakan, saat ini fokus utama pemerintah adalah membangun sarana infrastruktur termasuk kebutuhan 25.000 mega­watt (MW) energi di tahun 2020, 10.000 kilometer jalan ba­ru, bandara baru dan sistem per­keretaapian.

“Pemerintah ber­komitmen un­tuk menerapkan Public Private Partnership dalam mengembang­kan proyek infra­strukur,” ujarnya.

Berbeda dengan Boediono, pe­rusahaan analis investasi asal Amerika, Goldman Sachs, justru memprediksi rupiah akan mele­mah hingga Rp 9.800 per dolar AS dalam tiga bulan ke depan se­belum kembali menguat dalam jang­ka panjang. Ekonom Gold­man Sachs untuk wilayah ASEAN Mark Tan mengatakan, tekanan terbesar pada nilai rupiah adalah tingkat kepemilikan asing yang tinggi dan likuiditas dolar yang tipis di pasar finansial domestik.

Salah satu perusahaan milik Yahudi ini memproyeksi, nilai tukar rupiah pada dolar sebesar Rp 9.800 pada 3 bulan ke depan, Rp 9.400 pada 6 bulan ke depan dan Rp 9.200 pada 12 bulan ke de­pan. Bank Investasi tersebut merevisi proyeksi sebelumnya, yaitu rupiah ada di level Rp 9.150 pada 3 bulan ke de­pan, Rp 9.100 dalam 6 bulan ke depan dan Rp 9.000 pada 12 bulan ke depan.

Tan mengatakan, isu yang mem­­bebani kestabilan rupiah adalah masalah likuiditas yang di­sebabkan tingginya kepemili­kan asing di pasar obligasi Indo­nesia yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir.

“Jika sentimen ketakutan atas risiko global memburuk, tekanan ter­hadap rupiah akan terus ber­lanjut,” tukas Tan. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA