“Maksudnya adalah ekoÂnomi Indonesia kuat, berkemÂbang dan hidup. Tapi sayangnya seperti komodo, juga sama-sama mengÂgigit,†kata Boediono yang diÂsamÂbut tawa di hadapan peserta Forum Global Alumni Global Wharton School University of Pennsylvania di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, istilah koÂmodo diambil dari spesies heÂwan langka yang hanya ada di Tanah Air. Bagaikan komodo, InÂdoneÂsia masih bisa menjaga pertumÂbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada 6 persen. “Itu angka yang diinginkan negara-negara lain,†kata Boediono.
Menurut Wapres, masih tumÂbuhnya perekonomian Indonesia merupakan hasil kerja keras peÂmerintah dan sektor swasta. Hal ini didukung banyaknya peruÂsaÂhaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang melantai di bursa guna meningkatkan proÂfesionaÂlisme. Bahkan, kata dia, ada enam perusahaan pelat merah IndoÂneÂsia yang masuk daftar perusaÂhan global Fortune 500.
Boediono mengatakan, saat ini fokus utama pemerintah adalah membangun sarana infrastruktur termasuk kebutuhan 25.000 megaÂwatt (MW) energi di tahun 2020, 10.000 kilometer jalan baÂru, bandara baru dan sistem perÂkeretaapian.
“Pemerintah berÂkomitmen unÂtuk menerapkan Public Private Partnership dalam mengembangÂkan proyek infraÂstrukur,†ujarnya.
Berbeda dengan Boediono, peÂrusahaan analis investasi asal Amerika, Goldman Sachs, justru memprediksi rupiah akan meleÂmah hingga Rp 9.800 per dolar AS dalam tiga bulan ke depan seÂbelum kembali menguat dalam jangÂka panjang. Ekonom GoldÂman Sachs untuk wilayah ASEAN Mark Tan mengatakan, tekanan terbesar pada nilai rupiah adalah tingkat kepemilikan asing yang tinggi dan likuiditas dolar yang tipis di pasar finansial domestik.
Salah satu perusahaan milik Yahudi ini memproyeksi, nilai tukar rupiah pada dolar sebesar Rp 9.800 pada 3 bulan ke depan, Rp 9.400 pada 6 bulan ke depan dan Rp 9.200 pada 12 bulan ke deÂpan. Bank Investasi tersebut merevisi proyeksi sebelumnya, yaitu rupiah ada di level Rp 9.150 pada 3 bulan ke deÂpan, Rp 9.100 dalam 6 bulan ke depan dan Rp 9.000 pada 12 bulan ke depan.
Tan mengatakan, isu yang memÂÂbebani kestabilan rupiah adalah masalah likuiditas yang diÂsebabkan tingginya kepemiliÂkan asing di pasar obligasi IndoÂnesia yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir.
“Jika sentimen ketakutan atas risiko global memburuk, tekanan terÂhadap rupiah akan terus berÂlanjut,†tukas Tan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: