Ketua ATI Fatchur Rachman mengatakan, sejak ditekennya 23 amandemen PerÂjanjian PeÂngusahaan Jalan Tol (PPJT) pada 2011, belum ada peÂnaÂriÂkan kredit yang signifiÂkan unÂtuk pembangunan jalan tol.
Pasalnya, pinjaman baru daÂpat dikucurkan setelah adaÂnya penandatanganan perjanÂjian kredit antara Badan Usaha JaÂlan Tol (BUJT) dengan sinÂdiÂkasi perbankan. PelaksaÂnaanya baru dapat dilaksanaÂkan enam bulan setelah pemÂbebasan tanah mencapai 100 persen atau sekurang-kurangÂnya 75 persen dari total keÂbutuhan.
Sementara hingga kini beÂlum banyak ruas jalan tol yang tanahnya sudah terbebas di atas 75 persen mengingat maÂsih sulitnya mengatasi kenÂdala peÂngadaan lahan di lapaÂngan.
“Kalau dari total kebutuÂhan seluruh jalan tol dengan yang telah disalurkan masih kecil, belum ada 10 persen. KeÂÂsaÂlaÂhan bukan dari perÂbankan, tapi pemerintah dalam mengelola investasi jalan tol, utamanya kendala di tanah,†ujar Fatchur.
Dia mengatakan, saat ini meÂmang sudah ada beberapa BUJT yang mendapatkan perÂjanjian kredit seperti tol CikamÂpek-Palimanan sebesar Rp 8,8 triliun dan tol Gempol-PasuruÂan Rp 1,93 triliun, namun beÂlum daÂpat dikucurkan.
Proyek tol CiÂkampek-PaliÂmaÂnan sepanÂjang 116,75 Km hingga ini jaÂlan di tempat. PaÂdaha, proyek itu sudah dilaÂkukan ground breaking 8 DeÂsember 2011 yang dihadiri oleh Menteri Pekerjaan Umum Indonesia dan Malaysia.
“KaÂrena tanahnya belum 100 persen seÂlesai dibebasÂkan, jadi bank beÂlum mau mencairkan uang. Meski suÂdah ada tanda taÂngan kredit, bank belum meÂngeÂluarÂkan uang,†kata Fatchur.
Ia menuturkan, saat ini pemÂbebasan lahan proyek tol yang kini termasuk terpanjang di InÂdonesia itu sudah 95 persen atau maÂsih tersisa 5 persen. Dengan deÂmiÂkian, belum cairÂnya pinjaÂman perbankan berÂpengaruh pada proses peÂngerÂjaan konsÂtruksi.
Informasi di KementeÂrian Pekerjaan Umum (PU) meÂnyeÂbutkan, terkait kondisi ini Menteri PU Djoko KirÂmanto suÂdah sering menegur piÂhak investor maupun konÂtrakÂtor proyek tol yang sebaÂgian saÂhamnya dimiliki oleh perusaÂhaan Malaysia tersebut.
Direktur Eksekutif DeparteÂmen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (BI) Mulya E Siregar yang meÂngatakan, pencairan kredit di sektor jalan tol dan arteri menÂcapai 100 persen. Hal itu, meÂnurut Fatchur, diÂmungkinkan bila dilihat dari target perbanÂkan. Sebab, bisa jadi pada taÂhun anggaran itu BI mengÂkoreksi pinjaman yang awalÂnya ditargetkan pada 2011 dialihkan ke 2012 karena kesaÂlahan pengadaan lahan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: