Dahlan Iskan mengaku geram dengan sikap komisaris BUMN yang tidak mau menyerahkan LaÂporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN). Mendapat tudiÂngan tersebut, Farid HariÂyanÂto berÂkelit bahwa dirinya bukan dicoÂpot, tapi mengundurkan diri. Hal terÂsebut terkait posisinya seÂbaÂgai staf khusus Wakil PreÂsiden atau GuÂbernur Bank IndoÂnesia (BI).
Bekas Dirut Pefindo ini bahkan meÂngaku sudah menyampaikan niat mndur kepada Deputi InÂfraÂstrtuktur dan Logistik KemenÂteÂrian BUMN Sumaryanto WiÂdaÂyatin. “Saya ketemu Pak Sum seÂbelum dia sakit, 2-3 bulan lalu. Dan pembicaraan saya terÂsebut membahas pengunduran diri,†ujar Farid di Jakarta, kemarin.
Sumaryanto jatuh sakit pada 16 Mei 2012 setelah mengalami penÂÂÂÂdarahan di otak sehingga memÂÂÂbutuhkan penanganan meÂdis dan telah dibawa keluarganya menÂjalani pengobatan di SiÂngaÂpura.
Selain telah menyampaikan peÂngunduran dirinya ke SuÂmarÂyanÂto, Farid mengaku telah mengÂinformasikan perihal itu kepada Komisaris Utama PT Pos IndoÂnesia Daddy Hariadi. Farid juga menuturkan, alasan pengunÂduran diri tersebut karena kesiÂbukannya belakangan ini.
“Saya diangkat oleh Menteri BUMN pada era Pak Sofjan Djalil tahun 2009 untuk memÂbantu transÂformasi PT Pos IndoÂnesia. Kalau saya berhenti, ya meÂmang harus diganti dan seÂmoga pengÂgantinya jauh lebih efekÂtif untuk mengantar transforÂmasi PT Pos yang sedang berjalan,†cetus KoÂmiÂsaris Lippo KaraÂwaci ini.
IroÂnisnya, dia tidak meÂnyangÂgah tuÂdingan soal keÂengganan meÂlaÂporkan harta kekayaan ke KPK. Menurut sumber KemeÂnterian BUMN, Farid menÂjadi KoÂmiÂsaris PT Pos sejak 2009.
Sebelumnya, Dahlan menyaÂtakan akan segera mencopot jaÂbatan salah satu komisaris BUMN dalam waktu dekat. PaÂsalÂnya, komisaris tersebut, tuÂding Dahlan, meÂnolak melaporkan LHKPN-nya meskipun dua kali menÂdapat teÂguran KPK.
“Dia tidak menyerahkan harta keÂkaÂyaan dan KPK sudah meÂnyamÂpaikan surat peringatan, suÂdah diÂhubungi juga ke peruÂsaÂhaan, ternyata yang bersangÂkutan meÂnyampaikan lebih baik mengÂunÂÂdurkan diri daripada menyeÂrahkan LHÂKPN, ya kita akan proses penÂcopotannya daÂlam saÂtu-dua hari,†ujar Dahlan.
Dahlan menuturkan, komisaris BUMN tersebut memang enggan melaporkan LHKPN-nya. MeÂnuÂrut Dahlan, Komisaris tersebut bahÂÂÂkan berkata lebih baik meÂngunÂdurkan diri daripada harus melaporkan LHKPN.
Dahlan bilang, terdaÂpat dua keÂmungkinan yang meÂnyeÂbabkan komisaris BUMN itu tidak mau melapor LHKPN. Pertama, karena merasa tidak meÂmiliki harta kekaÂyaan. Atau keÂdua, takut jika harta keÂkaÂyaÂannya diketahui orang lain.
Menurut Dahlan, saat ini, suÂdah hampir seluruh pejabat di KemenÂterian BUMN dan BUMN telah meÂnyerahkan LHKPN. KPK mencatat, terdapat seÂbaÂnyak 8.234 pejabat di KeÂmenÂteÂrian BUMN ataupun seÂluÂruh BUMN dan anak perusahaannya yang harus meÂnyeÂrahkan LHÂKPN.
KPK mengaku mengÂapreaÂsisi gertakan Dahlan yang akan menÂcopot petinggi BUMN yang mangÂkir menyampaikan LHKPN. Wakil Ketua KPK biÂdang peninÂdakan Bambang Widjojanto menÂjeÂlaskan, LHKPN meruÂpakan poin penÂting dalam sebuah instruÂÂmen pemÂbeÂrantasan korupÂsi. KPK juga akan bisa menyeÂliÂdiki asal usul harta para penyeÂlengÂgara negara jika diÂtemukan sesuÂatu yang menÂcuriÂgakan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: