Hyundai Motor Terpaksa Stop Produksi Bus & Truk

Modifikasi Gagal, Penjualan di Indonesia Drop

Rabu, 20 Juni 2012, 08:21 WIB
Hyundai Motor Terpaksa Stop Produksi Bus & Truk
Hyundai Motor Corporation (HMC)
RMOL.Hyundai Motor Corporation (HMC) mengambil keputusan drastis untuk menghentikan pen­jualan bus dan truk di Indonesia. Produsen otomotif asal Korea Sela­tan (Korsel) ini menuding, Korindo Heavy Industries (KHI) selaku agen pemegang merk ken­daraan niaga Hyundai tidak mak­si­mal melakukan penjualan bus dan truk. Hal ini juga akibat mo­difikasi kapasitas kendaraan yang tidak sesuai rekomendasi pabrik­an Hyundai.

“Meskipun modifikasi itu ber­tujuan meningkatkan penjualan, tetapi mengakibatkan Hyundai vehicle (sebutan untuk mobil ko­mersial) Hyundai menjadi berma­salah, sehingga kepercayaan kon­sumen di Indonesia merosot,” kata Deputi GM Mobil Komer­sial HMC untuk Asia Pasific Seung-Min Lee dalam ketera­ngan persnya yang diterima di Jakarta, kemarin.

Menurut Lee, turunnya penju­alan mo­­­bil komersial Hyundai di In­do­­nesia juga karena tidak ter­ca­pai target penjualan, sehingga HMC memutuskan kontrak kerja sama dengan KHI.

Lee menambahkan, KHI tidak memenuhi target penjualan se­banyak 25 ribu unit dalam waktu lima tahun. KHI sejak  2007 hingga 2012 ini baru berhasil menjual sebanyak 7.361 unit kendaraan bus dan truk merek Hyundai.

Menanggapi hal itu, Di­rektur KHI Seo Jeong Sik me­nga­takan, upaya memaksimalkan kapasitas daya angkut untuk se­bagian truk Hyundai di Indonesia itu bukan inisiatif KHI. Cara se­perti itu, su­dah menjadi perilaku keba­nya­kan konsumen di Indo­nesia.

“KHI sulit mengon­trol perila­ku konsumen tersebut, karena keba­nyakan konsumen membeli ken­daraan dalam bentuk sasis kosong (tanpa bak bela­kang), de­ngan tujuan bisa memo­difi­kasi kenda­raan agar sesuai de­ngan kebutuh­an. Jadi, modifi­kasi tersebut atas permintaan kon­su­men sendiri,” jelasnya.

Perilaku memaksimalkan daya angkut kendaraan, menurut Seo, bukan hanya dilakukan kon­su­men Hyundai Vehicle, tapi juga seluruh konsumen bus dan truk merek lain selain Hyun­dai.

Jika merek lain tidak bermasa­lah secara teknis, maka lain hal­nya dengan mobil komersial Hyun­­dai yang bermasalah saat kapsitas angkut ditingkatkan. Atas kenyataan tersebut, Seo mem­pertanyakan kapasitas mak­simum muatan 3,5 ton yang di­pa­tok HMC, karena tidak sesuai dengan karakteristik konsumen bus dan truk di Indonesia.

“Pada­hal HMC mengklaim te­lah mela­kukan riset pasar se­belum kerja sama antara KHI dan HMC dilakukan,” katanya.

Karena itu, Seo menilai, per­soalan rusaknya beberapa kom­ponen akibat kelebihan mua­tan tidak bisa sepenuhnya men­jadi kesalahan KHI dan kon­su­men.

Seo juga mengakui, KHI tidak memenuhi target penjualan yang ditetapkan. Namun. dia tidak se­tuju jika tidak tercapainya target penjualan KHI menjadi tanggung jawab KHI sepenuhnya.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA