Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto mengaÂtakan, kebijakan tersebut tidak teÂpat sasaran. “Itu mendorong orang nimbun BBM, modusnya dijual di tengah laut,†kata Suryo di Jakarta, kemarin.
Dia berpendapat, para peÂngÂusaha itu akan tetap mencari BBM subsidi. Apalagi disparitas harÂga premium dan pertamax beÂsarannya dua kali lipat. “Susah peÂngawasannya, tidak mungkin bisa dilakukan,†ucap Suryo.
“Persoalan BBM seperti peÂnyaÂkit kanker. Jika pemerintah tidak ingin terbebani angÂgaran subsidi, harus diangkat sumÂber penyakitnya. Opsi yang ada, miÂsalnya menjual harga BBM subsÂidi sesuai harga interÂnasional seperti pertamax,†saran Suryo.
Anggaran subsidi, lanjutnya, seÂbaiknya digunakan untuk pembÂangunan infrastruktur dan proyek padat karya. Langkah ini dapat mempekerjakan orang baÂnyak sekaligus menggerakkan roda perekonomian.
Dana subsidi juga harus diguÂnakan untuk jaring peÂngaman sosial bagi masyarakat yang terÂkena langsung dampak kenaikan harga BBM. Mekanismenya bisa disalurkan per provinsi.
Sebagai gambaran, dalam AngÂgaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012 peÂmerintah harus merogoh Rp 137 triliun guna mensubsidi BBM sesuai kuota tahun ini 40 juta kiloliter. Subsidi ini melonjak dibanding APBN 2012 sebesar Rp 123 triliun seiring dengan melambungnya harga minyak.
PeÂngurus Harian Yayasan Lembaga KonÂsumen Indonesia (YLKI) TuÂlus Abadi mengataÂkan, pengenÂdalian atau pembaÂtasÂan BBM subsidi akan meÂnimbulkan penyalahgunaan. “Akan muncul penyalahgunaan dan rawan konÂflik,†ujarnya.
Apalagi, katanya, selama ini pemerinÂtah tidak serius melakuÂkan tindakan terkait BBM berÂsubÂsidi. Bagi Tulus, apa pun forÂmatnya, kalau maÂsih berupa pemÂbatasan atau peÂngendalian peÂnggunaan BBM subsidi nisÂcaya sulit dilaksanakan.
Anggota Komisi VII DPR MuÂhamad Syafrudin menyataÂkan, pengendalian BBM subsidi haÂrusnya menghasilkan output yang jelas, antara lain turunnya peÂngguÂnaan BBM bersubsidi yang tidak tepat sasaran.
Dikatakan, perbedaan harga maÂÂsih menjadi incaran para peÂnyeÂlundup dan penimbun. “MeÂreka sengaja ingin memiliki BBM bersubsidi dengan tujuan berÂbeda, akalnya banyak,†katanya.
Karena itu, untuk bisa meÂmakÂÂsimalkan kebijakan terÂseÂbut, haÂrus dibarengi dengan peÂngaÂwaÂsan yang ketat melibatÂkan peÂmerinÂtah daerah dan piÂhak-pihak terÂkait lainnya.
Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi RuÂbiandini mengatakan, dalam dua tahun ke depan Indonesia maÂÂsuk dalam era tidak boleh meÂnaikkan harga BBM. Karena itu, pengheÂmatan merupakan jaÂlan pintas agar APBN tidak jeÂbol yang diÂsebabkan terus meÂlonÂjaknya biaÂya subsidi minyak.
Menurut dia, menjelang PeÂmilu 2014, pemerintah tamÂpakÂnya akan lebih hati-hati meÂngamÂbil kebijakan yang berpeÂngaÂruh terÂhadap masyarakat seperti keÂnaikan harga BBM subsidi yang gagal dilakukan.
Karena itu, sudah saatnya InÂdoÂnesia mengembangkan energi alterÂnatif. Sebab, cadangan miÂnyak Indonesia hanya 0,3 perÂsen dari cadangan dunia dan cadaÂngan gas hanya 1,2 persen dari caÂdaÂngan dunia. Indonesia memÂpuÂnyai cadangan panas buÂmi sebeÂsar 40 persen dari caÂdangan dunia.
Sebelumnya, Dirut PertaÂmina Karen AgusÂtiawan meneÂmukan penyeÂlewengan distribusi BBM di KaÂlimantan Selatan. Ia minta keÂpolisian untuk meÂnangÂkap peÂnadah BBM yang selama ini sangat jarang terbongkar. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: