“Mengenai rencana privaÂtisasi tujuh perusahaan BUMN itu akan dibahas oleh Komisi VI dan XI. PembaÂhasannya pasti jeliÂmet. MaÂkanya, kami biasa memÂbentuk paÂnitia kerja (panja) kaÂlau ada priÂvatisasi,†kata Wakil KeÂtua KoÂmisi VI DPR Aria Bima keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Seperti diketahui, perusahaan pelat merah yang siap diprivaÂtisasi tersebut adalah PT Semen Baturaja (Persero), PT BTN Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PerÂsero), PT Industri Sandang NuÂsantara (Persero), PT Industri Gelas (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero).
Aria menjeÂlaskan, ada dua goÂlongan peruÂsahaan yang akan diprivatisasi melalui Initial Public Offering (IPO) atau right issue.
“Untuk right issue saya kira BTN dan KiÂmia Farma, pemÂbahasanÂnya tidak jelimet, karena tinggal meÂlanjutkan IPO sebeÂlumnya. Tapi untuk yang IPO pasti kita pertimÂbangkan lebih masak,†ujar politisi PDIP itu.
Namun, pada intinya Komisi VI DPR tidak terlalu latah deÂngan rencana privatisasi. KareÂnanya, masalah tersebut akan dibahas di Panja Privatisasi.
“Kita hanya ingin sistemnya jangan sampai menimbulkan keÂrusuhan. Kita juga ingin sisÂtemÂnya lebih mudah dan bisa diÂakses masyarakat dari Sabang sampai Merauke,†tuturnya.
DPR juga mengÂinginÂkan agar masyarakat tidak diÂberi waktu dua hari dan dalam porÂsi yang sangat kecil dalam pemÂbelian saham. Diberikannya keÂmuÂdahan akses bagi maÂsyaÂrakat seÂluas mungkin karena BUMN adaÂlah badan usaÂha milik rakyat.
DeÂngan demikian, kata Aria, maÂsyaÂrakat kaÂlangan apapun, tuÂkang beÂcak samÂpai anggota DPR tidak takut memÂbeli saham kalau ada privaÂtiÂsasi jika prosesÂnya dibuat transÂparan.
Pengamat ekonomi dari UGM AngÂgito Abimanyu menilai, straÂtegi privatisasi yang direnÂcaÂnakan Kementerian BUMN, terÂutama yang bertujuan mendorong peÂningÂkatan kinerja BUMN dan meÂnambah pendanaan peruÂsaÂhaÂan bersangkutan merupakan langÂkah tepat. Bahkan, strategi itu bisa leÂbih dioptimalkan deÂngan cara memÂperbaiki cara kelola.
Menurutnya, ada beberapa fakÂtor yang dapat dipertimÂbangÂkan menjadi pendorong peningÂkatan kinerja BUMN yang dipriÂvatiÂsasi. Misalnya, faktor yang secara empiris terbukti menÂdoÂrong peÂningkatan kinerja peruÂsahaan seÂtelah diprivatisasi, yakÂni memÂberi peluang kepada swasta lebih berperan terhadap pengemÂbaÂngan bisnis BUMN.
Menurutnya, faktor lain yang perlu diperÂhatikan adalah resÂtruksisasi baik dalam level maÂnajemen maupun orgaÂnisasi.
“Selama ini banyak BUMN yang struktur orgaÂnisaÂsinya terÂlalu gemuk, sehingga BUMN terÂsebut tidak lincah meÂlakukan berbagai aktivitas bisnis. AkibatÂnya, kurang dapat bersaing deÂngan swasta,†jelas Anggito. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: