Biar Nggak Rusuh, DPR Bentuk Panja Privatisasi

Tingkatkan Kinerja, Tujuh BUMN Siap IPO

Minggu, 10 Juni 2012, 08:01 WIB
Biar Nggak Rusuh, DPR Bentuk Panja Privatisasi
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
RMOL.Rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memprivatisasi tujuh perusahaan pelat merah bakal dibahas DPR. Tujuannya, supaya tidak menimbulkan kerusuhan.

“Mengenai rencana priva­tisasi tujuh perusahaan BUMN itu akan dibahas oleh Komisi VI dan XI. Pemba­hasannya pasti jeli­met. Ma­kanya, kami biasa mem­bentuk pa­nitia kerja (panja) ka­lau ada pri­vatisasi,” kata Wakil Ke­tua Ko­misi VI DPR Aria Bima ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, perusahaan pelat merah yang siap dipriva­tisasi tersebut adalah PT Semen Baturaja (Persero), PT BTN Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Per­sero), PT Industri Sandang Nu­santara (Persero), PT Industri Gelas (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero).

Aria menje­laskan, ada dua go­longan peru­sahaan yang akan diprivatisasi melalui Initial Public Offering (IPO) atau right issue.  

“Untuk right issue saya kira BTN dan Ki­mia Farma, pem­bahasan­nya tidak jelimet, karena tinggal me­lanjutkan IPO sebe­lumnya. Tapi untuk yang IPO pasti kita pertim­bangkan lebih masak,” ujar politisi PDIP itu.

Namun, pada intinya Komisi VI DPR tidak terlalu latah de­ngan rencana privatisasi. Kare­nanya, masalah tersebut akan dibahas di Panja Privatisasi.

“Kita hanya ingin sistemnya jangan sampai menimbulkan ke­rusuhan. Kita juga ingin sis­tem­nya lebih mudah dan bisa di­akses masyarakat dari Sabang sampai Merauke,” tuturnya.

DPR juga meng­ingin­kan agar masyarakat tidak di­beri waktu dua hari dan dalam por­si yang sangat kecil dalam pem­belian saham. Diberikannya ke­mu­dahan akses bagi ma­sya­rakat se­luas mungkin karena BUMN ada­lah badan usa­ha milik rakyat.

De­ngan demikian, kata Aria, ma­sya­rakat ka­langan apapun, tu­kang be­cak sam­pai anggota DPR tidak takut mem­beli saham kalau ada priva­ti­sasi jika proses­nya dibuat trans­paran.

Pengamat ekonomi dari UGM Ang­gito Abimanyu menilai, stra­tegi privatisasi yang diren­ca­nakan Kementerian BUMN, ter­utama yang bertujuan mendorong pe­ning­katan kinerja BUMN dan me­nambah pendanaan peru­sa­ha­an bersangkutan merupakan lang­kah tepat. Bahkan, strategi itu bisa le­bih dioptimalkan de­ngan cara mem­perbaiki cara kelola.

Menurutnya, ada beberapa fak­tor yang dapat dipertim­bang­kan menjadi pendorong pening­katan kinerja BUMN yang dipri­vati­sasi. Misalnya, faktor yang secara empiris terbukti men­do­rong pe­ningkatan kinerja peru­sahaan se­telah diprivatisasi, yak­ni mem­beri peluang kepada swasta lebih berperan terhadap pengem­ba­ngan bisnis BUMN.

Menurutnya, faktor lain yang perlu diper­hatikan adalah res­truksisasi baik dalam level ma­najemen maupun orga­nisasi.

“Selama ini banyak BUMN yang struktur orga­nisa­sinya ter­lalu gemuk, sehingga BUMN ter­sebut tidak lincah me­lakukan berbagai aktivitas bisnis. Akibat­nya, kurang dapat bersaing de­ngan swasta,” jelas Anggito. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA