RMOL. PT Pertamina (Persero) mengancam akan mencopot agen elpiji 3 kilogram (kg) yang terbukti melakukan pengoploson. Hal itu terkait dengan kelangkaan ‘tabung melon’ tersebut di beberapa daerah.
Untuk membuktikan ancaÂmanÂnya, kemarin, Pertamina yang diÂpimpin langsung Direktur PeÂmaÂsaran dan Niaga Hanung BuÂdya Yuktyanta melakukan inÂspekÂsi mendadak (sidak) ke beÂberapa agen elpiji di wilayah Jakarta.
Selain untuk memeriksa keÂterÂÂsedian elpiji 3 kg, sidak terÂsebut juga dalam rangka peÂngawasan terhadap para agen. Tujuan sidak perusahaan pelat merah itu antara lain agen PT Dian Jan Adnan di Jalan MamÂpang Prapatan XV No. 6, Toko Jamal Jalan Mampang Prapatan XV yang beromzet 150 tabung per hari serta Toko Yunus Jalan Pancoran Barat II yang berÂomzet 250 tabung per hari.
“Kalau ada agen yang ngoplos kita pecat. Pasti itu, kalau perlu kiÂta laporkan polisi. Tetapi kalau peÂngoplos yang di luar Pertamina kita minta polisi dan polisi sudah sangat aktif saat ini,†tegasnya.
Hanung mengatakan, dengan adanya penertiban jalur distribuÂsi, diketahui ada indikasi elpiji subsidi itu banyak disalahguÂnaÂkan seperti dioplos ke tabung elpiji 12 kg. Hal itulah yang meÂnyebabkan pasokan si tabung meÂlon itu langka di pasaran.
Karena itu, perseroaan melÂaÂkukan penertiban. Sebab, piÂhakÂnya tak ingin gas subsidi disalahÂgunakan dan berÂdampak pada over quota. PerÂtamina juga harus memastikan elpiji bersubsidi tiÂdak melampaui kuota yang ada.
Menurutnya, Pertamina telah melakukan penyaluran ekstra elÂpiji untuk memenuhi kebutuhÂan masyarakat di beberapa wiÂlayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Volume tambahan untuk keÂtiga wilayah tersebut dalam 6 hari terÂakhir mencapai 283.243 tabung per hari atau rata-rata 22 persen di atas alokasi harian di lokasi terÂsebut. Untuk daerah Bekasi, KaÂÂrawang, Purwakarta, dan SuÂbang pada periode yang sama, telah dilakukan extra dropÂping sebaÂnyak 636.360 taÂbung elpiji 3 kg.
Ketua Harian Yayasan LemÂbaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo mengaÂtaÂkan, sidak-sidak yang dilakukan PerÂtamina untuk mengawasi perÂedaran dan mengantisipasi keÂlangkaan elpiji 3 kg tidak akan efektif selama disparitas harga dengan elpiji 12 kg masih tinggi.
Menurut dia, selama ini PerÂtamina juga belum bisa menÂjeÂlaskan alasan kelangkaan elpiji 3 kg itu, apakah karena adanya peÂningkatan permintaan atau peÂngoplosan.
“Salah satu cara untuk meneÂkan over quota adalah mengeÂcilkan disparitas harga elpiji 3 kilogram dan 12 kilogram,†ujarnya.
Dia juga meminta PerÂtamina segera melakukan penÂjuÂalan deÂngan sisitem distribusi terÂtutup. Hal itu bertujuan agar elpiji samÂpai ke tangan yang berhak.
Kelangkaan elpiji 3 kg juga terÂjadi di Pekalongan, Jawa TeÂngah. Dalam sepekan terakhir, harga gas mengalami kenaikan. Jika harÂga normal Rp 13.500, saat ini loncat menjadi Rp 15.000 per taÂbung. Kenaikan itu dikareÂnakan jumlah pasokan berkuÂrang, seÂdangkan perminÂtaan stabil.
Dari pantauan Rakyat Merdeka di salah satu agen, tidak terlihat banyaknya si tabung melon. MesÂÂki demikian, aktivitas di agen terÂsebut tetap seperti biasa, hanya saja jumlah pasokan berkurang. Sebelumnya, dalam seminggu diberi pasokan sebaÂnyak 30 taÂbung, tapi hingga kini agen terÂsebut belum mendapat jatah paÂsokan yang memadai.
Seorang pengecer elpiji 3 kg, Sahroni mengÂatakan, karena caÂkupan yang sangat luas, maka jumlah 30 taÂbung sangat kurang.
“Luas KaÂbupaten Pekalongan lebih besar dibanding Kota PekaÂlongan, sehingga pendistribusian biasanya terÂsendat atau tidak meÂrata. Kelangkaan atau keterbaÂtaÂsan jumÂlah barang, akan memÂbuat pedagang pengecer saling berebut untuk mendapatkanÂnya,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.