curhat Wacik itu diungÂkapÂkan DirÂjen Migas Kementerian ESDM Evita H Legowo di acara RaÂkernas Asosiasi Perusahaan CNG Indonesia (APCNGI) di Jakarta, kemarin.
Evita mengatakan, Menteri ESDM Jero Wacik pernah meÂnyampaikan uneg-unegnya soal persiapan pelaksanaan program konversi BBM ke BBG.
Wacik, lanjut Evita, berharap semua pihak ikut mensukseskan program tersebut. Menurutnya, program konversi memerlukan dukungan semua pihak, bukan hanya Kementerian ESDM.
“Pak menteri saya sempat curÂhat kenapa semuanya ke arah ESDM saja, padahal sehaÂrusÂnya perhubungan darat, perÂinÂdustriÂan dan ESDM berÂgeÂrak. Tetapi seÂakan-akan yang berÂgerak haÂnya dari sisi ESDM,†katanya.
Menurutnya, saat ini pemeÂrinÂtah sedang fokus menyiapkan inÂfrastrukturnya, untuk roadmap kebijakan itu sendiri sudah ada. Untuk 2012, akan ada pemÂbaÂnguÂnan tambahan 33 Stasiun PeÂngisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Jakarta, Banten, Jabar, Jatim.
“Mudah-mudahan bisa kita selesaikan tahun ini sebanyaj 33 SPBG. Dari 21 jadi 54 SPBG akÂhir tahun ini,†kata Evita.
Dia juga mengaku tahap awal penghematan dari program ini masih tidak signifikan karena harus menunggu infrastruktur SPBG, termasuk tersedianya converter kit. Menurut Evita, pemerintah menargetkan kendaÂraan yang terkonversi tembus ke angka 14 ribu.
“Padahal, saat ini gas dan laÂyanan SPBG sudah bisa menÂcapai 41 ribu kendaraan. SehaÂrusnya itu dimanfaatkan pihak swasta untuk ikut menyediakan converter kit,†ujarnya.
Evita juga sudah meminta banÂtuan Dirjen Industri UngÂgulan Berbasis Teknologi KeÂmenterian Perindustrian Budi Darmadi unÂtuk membujuk pihak swasta agar mau menyediakan converter kit. Namun, pemaÂsaÂngan tetap harus di bengkel terÂsertifikasi oleh peÂmerintah.
Dia mencatat, sudah ada 14 bengkel yang tersertifikasi. TaÂhun ini ada tambahan lagi 8 bengÂkel. Apalagi, empat agen tunggal pemegang merek (ATPM) mau ikutan membangun bengkel.
Direktur Eksekutif Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) SuÂgiÂyanto mengatakan, pemerintah terlalu kebanyakan berwacana untuk melakukan konversi ini.
Buktinya, kata dia, pemerintah meÂngaku program penghematan suÂdah diwacanakan 24 tahun lalu tapi belum berjalan karena tidak serius. “Kalau serius, jalankan. Tapi kalau setengah-setengah ya jaÂngan dipaksakan. Kalau inÂfraÂstrukturnya tidak bisa terpenuhi, konversi BBM ke BBG ke laut saja deh,†ketus Sugiyanto.
Untuk diketahui, Wacik mengeÂluh bukan kali ini saja. SebeÂlumnya, di acara pembukaan IndoÂnesia Petroleum Asosiation (IPA), dia mengeluh soal lifting migas.
Menurut Wacik, semua menteri ESDM mengaku mukanya pucat jika ditanya soal lifting minyak. Pasalnya, produksi minyak IndoÂnesia terus turun. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: