Infrastruktur Nggak Siap-siap Konversi BBM ke Laut Aja Deh

Ngerasa Dibebani Soal Program BBG, Menteri ESDM Mengeluh Lagi

Jumat, 01 Juni 2012, 08:13 WIB
Infrastruktur Nggak Siap-siap Konversi BBM ke Laut Aja Deh
ilustrasi/ist
RMOL.Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengeluh soal persiapan konversi bahan bakar minyak (BBM) subsidi ke bahan bakar gas (BBG). Wacik merasa semuanya dibebankan kepadanya.

curhat Wacik itu diung­kap­kan Dir­jen Migas Kementerian ESDM Evita H Legowo di acara Ra­kernas Asosiasi Perusahaan CNG Indonesia (APCNGI) di Jakarta, kemarin.

Evita mengatakan, Menteri ESDM Jero Wacik pernah me­nyampaikan uneg-unegnya soal persiapan pelaksanaan program konversi BBM ke BBG.

Wacik, lanjut Evita, berharap semua pihak ikut mensukseskan program tersebut. Menurutnya, program konversi memerlukan dukungan semua pihak, bukan hanya Kementerian ESDM.

“Pak menteri saya sempat cur­hat kenapa semuanya ke arah ESDM saja, padahal seha­rus­nya perhubungan darat, per­in­dustri­an dan ESDM ber­ge­rak. Tetapi se­akan-akan yang ber­gerak ha­nya dari sisi ESDM,” katanya.

Menurutnya, saat ini peme­rin­tah sedang fokus menyiapkan in­frastrukturnya, untuk roadmap kebijakan itu sendiri sudah ada. Untuk 2012, akan ada pem­ba­ngu­nan tambahan 33 Stasiun Pe­ngisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Jakarta, Banten, Jabar, Jatim.

“Mudah-mudahan bisa kita selesaikan tahun ini sebanyaj 33 SPBG. Dari 21 jadi 54 SPBG ak­hir tahun ini,” kata Evita.

Dia juga mengaku tahap awal penghematan dari program ini masih tidak signifikan karena harus menunggu infrastruktur SPBG, termasuk tersedianya converter kit. Menurut Evita, pemerintah menargetkan kenda­raan yang terkonversi tembus ke angka 14 ribu.

“Padahal, saat ini gas dan la­yanan SPBG sudah bisa men­capai 41 ribu kendaraan. Seha­rusnya itu dimanfaatkan pihak swasta untuk ikut menyediakan converter kit,” ujarnya.

Evita juga sudah meminta ban­tuan Dirjen Industri Ung­gulan Berbasis Teknologi Ke­menterian Perindustrian Budi Darmadi un­tuk membujuk pihak swasta agar mau menyediakan converter kit. Namun, pema­sa­ngan tetap harus di bengkel ter­sertifikasi oleh pe­merintah.

Dia mencatat, sudah ada 14 bengkel yang tersertifikasi. Ta­hun ini ada tambahan lagi 8 beng­kel. Apalagi, empat agen tunggal pemegang merek (ATPM) mau ikutan membangun bengkel.

Direktur Eksekutif Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) Su­gi­yanto mengatakan, pemerintah terlalu kebanyakan berwacana untuk melakukan konversi ini.

Buktinya, kata dia, pemerintah me­ngaku program penghematan su­dah diwacanakan 24 tahun lalu tapi belum berjalan karena tidak serius. “Kalau serius, jalankan. Tapi kalau setengah-setengah ya ja­ngan dipaksakan. Kalau in­fra­strukturnya tidak bisa terpenuhi, konversi BBM ke BBG ke laut saja deh,” ketus Sugiyanto.

Untuk diketahui, Wacik menge­luh bukan kali ini saja. Sebe­lumnya, di acara pembukaan Indo­nesia Petroleum Asosiation (IPA), dia mengeluh soal lifting migas.

Menurut Wacik, semua menteri ESDM mengaku mukanya pucat jika ditanya soal lifting minyak. Pasalnya, produksi minyak Indo­nesia terus turun. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA