Nusa Tenggara Timur (NTT) miÂsalnya, kembali menjadi daeÂrah dengan jumlah siswa tak lulus terÂbanyak, yakni 1.994 orang. MeÂnyusul Gorontalo, Papua, Papua Barat dan Kalimantan Tengah.
Hal itu dikatakan angÂgota KoÂmisi X DPR bidang PenÂdidiÂkan Dedi Gumelar yang tidak puas meÂlihat pelaksaÂnaan UN tahun ini.
“Perhatian pemerintah untuk wilayah pedalaman masih sangat minim dan ini bukan yang perÂtaÂma kali terjadi,†kata Dedi di Jakarta, kemarin.
Menurut politisi PDIP ini, peÂmerataan peÂnÂdiÂdikan di wilayah pedalaman selama ini tidak perÂnah diperbaiki dan dievaluasi oleh pemerintah. Pelaksanaan UN hanya dijadikan alat pencitÂraan pemerintah seÂolah-olah penÂdidikan nasional sudah baik.
“Padahal jika disurvei, banyak daerah yang belum memiliki stanÂdar mengikuti pelaksanaan UN. Selain kualitas tenaga peÂngajar rendah, infrastruktur geÂdung sekolah dan kebutuhan buÂku-buku di sana tidak memadai. Kesenjangan pendidikan masih terlihat tinggi,†kritik Dedi.
Dedi yang kerap disapa Miing ini menyatakan, tingginya angka ketidaklulusan siswa di daerah menunjukkan kegagalan Nuh daÂlam memberikan pemerataan penÂdidikan baik kualitas tenaga peÂngajar, sarana-prasarana geÂdung dan buku masih terbilang minim.
“Nuh harus bertanggung jaÂwab terkait tingginya tingkat keÂtidakkelulusan siswa di daerah. DiÂhaÂrapkan standar pelaksanaan UN di sejumlah sekolah segera dievaÂluasi,â€saran Miing.
Miing juga mempertanyakan, alokasi anggaran pembangunan pendidikan di daerah pendalaman karena pada 2010-2011 telah diÂgelontorkan sebesar Rp 200-Rp 300 miliar untuk pembangunan pendidikan di NTT.
Anggota Komisi X DPR ZulÂfahdli mengatakan, UN tak dapat lagi dipertahankan dengan mekaÂnisme seaÂdaÂnya. Ia menilai, ada perkemÂbaÂngan ilmu dan teknoÂlogi yang tidak mungkin diadopsi oleh UN saat ini.
Perubahan yang dilakukan KeÂmenÂdikbud, kata Zul, hanya seÂbatas hal teknis seperti kode raÂhasia yang tertera di setiap lembar naskah UN. Padahal, perubahan menÂdaÂsar harus dilakukan seÂperti perÂsiapan sekolah dalam mengÂhaÂdapi UN baik kualitas tenaga pengajar, serta sarana geÂdung dan buku untuk siswa.
“Makanya, untuk ke depan kami minta UN harus dikaji kemÂbali,†tegasnya.
Politisi Golkar ini memaÂparÂkan, sampai saat ini delapan standar pendidikan belum merata di seluÂruh Indonesia. Khususnya meÂngeÂnai kualitas guru dan sekolah.
Menanggapi hal itu, MendikÂbud MuÂhammad Nuh mengataÂkan, keÂmenÂteriannya berupaya mengÂinÂtervensi proses pendidikan di NTT. Alasannya, NTT berada di uruÂtan terbawah selama tiga tahun berÂturut-turut dan kalah cepat dengan perÂkemÂbangan proÂvinsi lain.
Rendahnya angka kelulusan di NTT, menurut Nuh, disebabkan empat hal. Yaitu, pertama, motiÂvasi belajar siswa masih rendah. Kedua, kuaÂlitas guru. Ketiga, infrastruktur keÂlengÂkapan laboÂratorium kuÂrang memadai serta kurangnya duÂkuÂngan keluarga dan budaya di wilayah tersebut masih minim. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: