Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik meÂngatakan, pemblokiran kapal pÂengirim batubara yang dilaÂkukan elemen masyarakat di Sungai Barito, Kalimantan SeÂlatan (KalÂsel), akan berdampak pada peÂmadaman listrik.
Bahkan, menurutnya, peÂmaÂdaÂman tidak hanya akan terjadi di Jawa, tapi di seluruh Indonesia. Sebab, batubara dari kalimantan tidak bisa dikirim ke pembangkit-pembangkit listrik yang ada di JaÂwa dan beberapa daerah lainnya.
“Seharusnya pemerintah daÂerah dengan pemerintah pusat tidak boÂleh ancam-mengancam begitu. Kondisi ini pasti ada implikasinya yang pada akhirnya akan meruÂgikan gubernur itu juga dan kita semua,†kata Wacik di sela-sela sidang Dewan Energi Nasional (DEN) di kantornya, kemarin.
Selain akan menyebabkan peÂmadaman listrik, Wacik meÂngaÂtakan, pemblokiran itu akan meÂngurangi Pendapatan Asli DaeÂrah (PAD). “Kalau tidak dapat PAD, maka rakyatnya tidak akan dapat apa-apa,†warning Wacik.
Menteri asal Partai Demokrat itu meminta para pimpinan daeÂrah tidak saling ancam mengÂancam karena tidak akan meÂnyeÂlesaikan masalah dan malah akan membuat rugi semua pihak.
Dia mengaku, Kementerian ESDM sudah berbicara dengan gubernur Kalimantan soal keÂlangÂkaan BBM subsidi. Jalan keÂluarnya, pemerintah akan seÂgera memasok bahan bakar miÂnyak (BBM) non subsidi ke daerah terÂsebut, setapi harus izin DPR terÂlebih dahulu.
“Segera akan kita tambahkan, tapi yang non subsidi karena subsidinya sudah terbagi habis,†kata politisi Demokrat itu.
Untuk kuota BBM, Wacik memperkirakan, kuota sebeÂsar 40 juta kiloliter (KL) akan habis Oktober ini. Kendati begiÂtu, kemungkinan pihaknya akan mengajukan tamÂbaÂhan kuota seÂsuai mekanisÂmenya.
Untuk diketahui, aksi maÂsyaÂrakat di Kalimantan memÂblokir batubara terjadi karena pemeÂrintah pusat tidak mau menambah kuota atau jatah BBM subsidi yang makin tipis di provinsi itu.
Ketua Presidium Masyarakat Pertambangan Indonesia (MPI) Herman Afif Kusumo menyaÂyangÂkan sikap pemblokiran jalur batuÂbara oleh masyarakat KaÂlimantan.
“Jangan segalanya dilakukan dengan ancam mengancam. KaÂrena negara kita satu kesatuan,†kata Herman kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, pemblokiran ini akan berdampak bagi daerah KaÂlimantan sendiri, karena PAD-nya akan berkurang. Langkah itu juga merugikan pengusaha kaÂrena harus mengeluarkan angÂgaran tambahan dan membuat iklim investasi di daerah tersebut berkurang.
Menurut Herman, pemerintah daerah harus bisa menjaga iklim usaha guna meningkatkan perÂtumbuhan ekonomi. “Siapa yang suka masyarakat daerah mengÂalami kelangkaan BBM dan lisÂtrik,†ucapnya.
Karena itu, dia berharap, para kepala daerah bersifat negaraÂwan untuk tidak melakukan pemÂÂbloÂkiran. Apalagi pemerintah suÂdah menyetujui adanya peÂnamÂbahan kuota BBM. “Ego sektoÂral harus bisa dihindari,†ujarnya.
Anggota Komisi VII DPR MuÂhammad Syafruddin meminta pemerintah segera meÂnyeÂleÂsaiÂkan masalah pemblokiran jalur batubara ini dengan menambah kuota BBM.
Dia juga meminta Menteri ESDM tidak diam dengan situasi terseut. Sedangkan pemerintah daerah diminta jangan main anÂcam karena dampaknya sangat besar bagi perekonomian. ApaÂlagi, batubara merupakan salah satu sumber energi pembangkit PLN dan pendapatan Indonesia.
“Sebaiknya pusat dan daerah duduk bareng untuk menyeÂleÂsaikan masalah ini. Keduanya jangan mementingkan ego maÂsing-masing lah,†cetusnya.
Untuk menghindari terÂulangÂnya kembali pemblokiran dan boikot, menurut Syafruddin, peÂmerintah pusat harus memperÂhatikan kebutuhan daÂerah terkait pemenuhan BBM dan listrik.
Pengamat energi dari ReforÂminer Institute Komaidi NoÂtoÂnegoro menambahkan, peÂmeÂrinÂtah harus transparan dalam pemÂbagian kuota BBM ke seÂtiap daeÂrah.
“Pemerintah harus mengÂungÂkapkan apa penyebab kelÂangÂkaan itu, apa karena kendaraan tamÂbang atau karena memang perÂtumbuhan ekonomi,†tanÂdas Komaidi. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: